Artikel Terbaru
Kenali 3 Jenis Sedekah dalam Islam, dari Sedekah Wajib hingga Sedekah Jariyah
Sedekah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam karena tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi sarana membersihkan harta dan jiwa. Selain sedekah sunnah yang sering dilakukan masyarakat, ternyata ada tiga jenis sedekah yang penting dipahami setiap muslim.
Mengacu pada informasi dari BAZNAS, tiga jenis sedekah tersebut meliputi sedekah wajib, sedekah berkelanjutan (sedekah jariyah), dan sedekah sunnah. Masing-masing memiliki hukum, bentuk, dan keutamaan yang berbeda.
Jenis pertama adalah sedekah wajib, yakni amalan yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Contohnya adalah zakat fitrah yang dibayarkan sebelum Salat Idulfitri serta zakat mal bagi harta yang telah mencapai nisab dan haul. Selain itu, kaffarah dan fidyah juga termasuk dalam kategori sedekah wajib sesuai ketentuan syariat.
Sementara itu, sedekah berkelanjutan atau sedekah jariyah merupakan amalan yang pahalanya terus mengalir meski pemberinya telah meninggal dunia. Bentuknya dapat berupa membantu pembangunan masjid, mendirikan sekolah atau pesantren, hingga menyediakan sarana air bersih yang terus dimanfaatkan masyarakat.
Adapun sedekah sunnah merupakan amalan yang sangat dianjurkan meski tidak bersifat wajib. Bentuknya beragam, mulai dari memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan, membantu sesama, menyumbangkan sebagian harta, hingga tersenyum kepada orang lain sebagai bentuk kebaikan.
Selain itu, membantu dengan tenaga, seperti mengajarkan ilmu, bergotong royong, atau menolong orang yang mengalami kesulitan juga termasuk sedekah sunnah yang bernilai pahala.
Memahami ketiga jenis sedekah tersebut diharapkan dapat mendorong umat Islam untuk mengamalkannya sesuai kemampuan. Sedekah wajib menjadi kewajiban yang harus ditunaikan, sedekah jariyah menjadi investasi amal yang manfaatnya terus berlanjut, sedangkan sedekah sunnah menjadi peluang memperbanyak pahala sekaligus mempererat kepedulian sosial.
Bagi masyarakat yang ingin menyalurkan zakat, infak, maupun sedekah, BAZNAS Kota Semarang menyediakan layanan digital yang juga mencakup pembayaran fidyah, DSKL, dan kurban sesuai kebutuhan. Berikut link kantor digital Baznas Kota Semarang:
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Demikian informasi yang dapat Anda simak.***
ARTIKEL29/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Menuju Hari Jumat, Yuk Sedekah di BAZNAS Kota Semarang, Ini Caranya!
Hari Jumat menjadi salah satu hari istimewa dalam Islam. Hari yang kerap disebut sebagai sayyidul ayyam atau penghulu segala hari ini memiliki banyak keutamaan, termasuk menjadi waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, salah satunya bersedekah.
Sedekah sejatinya dapat dilakukan kapan saja. Namun, bersedekah pada hari Jumat diyakini memiliki nilai keutamaan tersendiri. Selain menjadi amalan yang mulia, sedekah Jumat juga disebut dapat mendatangkan pahala berlipat, membuka pintu rezeki, serta menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama.
Bagi masyarakat yang ingin menunaikan sedekah Jumat, ada beberapa waktu yang dinilai baik untuk melakukannya, yakni setelah salat Subuh, sebelum pelaksanaan salat Jumat, maupun setelah salat Jumat.
Kini, menunaikan sedekah Jumat juga semakin mudah karena dapat dilakukan secara online melalui lembaga amil zakat terpercaya. Salah satunya melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Semarang yang menerima penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah dengan proses yang praktis dan aman.
Masyarakat dapat menitipkan sedekah Jumat secara daring melalui laman resmi BAZNAS Kota Semarang. Caranya pun cukup mudah, cukup mengikuti langkah-langkah yang tersedia pada halaman donasi, lalu sedekah dapat ditunaikan kapan saja tanpa harus datang langsung.
Bagi yang ingin menyalurkan sedekah Jumat melalui BAZNAS Kota Semarang, kini tersedia laman online bersedekah yang bisa Anda klik melalui link berikut ini:
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Dengan kemudahan layanan digital ini, masyarakat diharapkan dapat lebih rutin bersedekah setiap pekan, khususnya di hari Jumat yang penuh keberkahan***
ARTIKEL24/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa Asyura Lengkap dengan Arab Latin dan Terjemah Indonesia
Simak selengkapnya pada artikel ini untuk temukan informasi perihal bacaan niat puasa Asyura lengkap dengan arab latin dan terjemah Indonesia yang dapat Anda amalkan.
Tidak lama lagi puasa Tasua Asyura akan segera tiba, kabarnya di tahun 2026 ini ada perbedaan waktu dari sebelumnya. Apabila mengikuti rukyatul hilal, Tasua Asyura jatuh pada Kamis dan Jumat, 25 - 26 Juni 2026. Namun jika mengikuti hisab, maka Tasua Asyura dilaksanakan hari ini, 24 - 25 Juni 2026.
Sebelum Anda melaksanakan puasa sunnah Asyura, berikut bacaan niat yang dapat Anda amalkan:
Nawaitu shauma ‘?sy?r?’a sunnatan lill?hi ta‘?l?.
Artinya: "Saya niat puasa Asyura, sunnah karena Allah Ta'?l?."
Adapun waktu membaca niat tersebut, sebagai berikut:
Malam Hari: Paling utama dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar (waktu Subuh).
Siang Hari: Untuk puasa sunnah, niat boleh diucapkan pada pagi atau siang hari (sebelum masuk waktu zawal atau matahari tergelincir), asalkan Anda belum makan, minum, dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak subuh.
Itulah bacaan niat puasa Asyura yang dapat Anda amalakan di bulan Muharram ini.***
ARTIKEL24/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bolehkah Menggabungkan Puasa Tasua dan Asyura dengan Qadha Ramadhan? Ini Penjelasan Lengkapnya
Umat Islam sebentar lagi akan menjalankan puasa sunnah Tasua dan Asyura di bulan Muharram 1448 Hijriah. Berdasarkan penanggalan yang berlaku tahun ini, puasa Tasua diperkirakan jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026, sedangkan puasa Asyura pada Jumat, 26 Juni 2026.
Menjelang pelaksanaannya, muncul pertanyaan yang banyak dicari umat Muslim, yakni bolehkah menggabungkan niat puasa Tasua dan Asyura dengan qadha Ramadhan?
Merujuk penjelasan NU Online, hukum menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Asyura atau Tasua memang menjadi pembahasan di kalangan ulama mazhab Syafi’i. Ada ulama yang membolehkan dan menilai seseorang tetap bisa mendapatkan pahala puasa sunnah, meski niat utamanya adalah qadha Ramadhan.
Pendapat ini dijelaskan oleh Imam Ar-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj. Ia menerangkan bahwa seseorang yang berpuasa qadha atau nazar pada hari Asyura tetap berpeluang memperoleh pahala puasa sunnah Asyura.
Pandangan serupa juga dijelaskan oleh Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Ia menyebut ada pendapat ulama yang menilai pahala puasa sunnah tetap bisa diperoleh ketika seseorang menggabungkan niat puasa wajib dengan puasa sunnah tertentu, seperti Arafah, Asyura, maupun puasa sunnah lainnya.
Namun, tidak semua ulama sepakat. Dalam penjelasan yang sama, terdapat pendapat lain yang lebih ketat. Imam Abu Makhramah, mengikuti pendapat Imam as-Samhudi, berpendapat bahwa penggabungan dua niat puasa wajib dan sunnah dalam satu pelaksanaan tidak menghasilkan salah satu dari keduanya. Bahkan, ada pula pandangan yang menyebut puasa sunnah tidak sah jika seseorang masih memiliki tanggungan qadha Ramadhan.
Dari perbedaan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa hukum menggabungkan puasa qadha Ramadhan dengan puasa Tasua dan Asyura memang diperselisihkan ulama.
- Pendapat pertama: penggabungan niat diperbolehkan, dan pelakunya tetap berpeluang mendapatkan pahala puasa sunnah Tasua atau Asyura sekaligus menunaikan qadha Ramadhan.
- Pendapat kedua: penggabungan niat tidak sah, sehingga puasa wajib dan puasa sunnah sebaiknya dipisahkan.
Karena itu, bagi umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan namun ingin menjalankan puasa Tasua dan Asyura, sebaiknya memahami lebih dulu pendapat ulama yang diikuti agar ibadah dijalankan dengan lebih tenang dan mantap.***
ARTIKEL23/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Sejarah Asyura 10 Muharram, Lengkap dengan Peristiwa Penting Dibaliknya
Hari Asyura atau 10 Muharram menjadi salah satu momen istimewa dalam kalender Islam. Umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) sebagai bentuk ibadah sunnah yang penuh keutamaan.
Lantas, apa saja sejarah dan peristiwa penting di balik 10 Muharram atau Hari Asyura?
Asyura berasal dari kata ‘asyarah yang berarti sepuluh, merujuk pada tanggal ke-10 bulan Muharram. Dalam berbagai literatur, termasuk NU Online, hari ini disebut sebagai hari yang dimuliakan karena banyaknya peristiwa besar dalam sejarah para nabi.
1. Diterimanya Taubat Nabi Adam AS
Salah satu riwayat menyebutkan bahwa pada hari Asyura, Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS setelah beliau dan Hawa diturunkan ke bumi akibat tergoda bujuk rayu iblis. Peristiwa ini menjadi simbol ampunan dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang bertaubat.
2. Keselamatan Nabi Ibrahim AS dari Api
Pada masa Raja Namrud, Nabi Ibrahim AS dihukum dengan cara dibakar karena menghancurkan berhala. Namun atas kehendak Allah, api justru menjadi dingin dan tidak membahayakan beliau sebagaimana disebut dalam QS Al-Anbiya ayat 69.
3. Bebasnya Nabi Yusuf AS dari Penjara
Nabi Yusuf AS juga dikisahkan dibebaskan dari penjara pada hari Asyura setelah sebelumnya difitnah. Setelah itu, beliau diangkat menjadi pejabat penting di Mesir.
4. Kesembuhan Nabi Ayyub AS
Nabi Ayyub AS yang diuji dengan penyakit berat dan kehilangan harta serta keluarga, akhirnya disembuhkan oleh Allah SWT setelah kesabaran panjangnya.
5. Keselamatan Nabi Musa AS dari Fir’aun
Peristiwa besar lainnya adalah selamatnya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Laut terbelah dan menjadi jalan keselamatan, sementara Fir’aun dan pasukannya tenggelam.
Selain itu, beberapa riwayat juga menyebutkan peristiwa penting lain seperti berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan, hingga berbagai kejadian besar lain dalam sejarah para nabi.
Hari Asyura bukan hanya momen sejarah, tetapi juga menjadi pengingat akan kebesaran Allah SWT dalam menolong para nabi dan hamba-Nya yang beriman. Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sebagai bentuk ibadah dan penghapusan dosa.
Selain itu dianjurkan pula untuk berbagi atau menyantuni anak yatim di bulan penuh keberkahan ini. Apabila Anda ingin menyalurkan santunan melalui lembaga ZIS, BAZNAS Kota Semarang menyediakan Anda untuk sedekah yatim di bulan Muharram 1448, caranya cukup transfer melalui Bank Danamon, masyarakat dapat mengirimkan donasi ke nomor rekening 8880077709.
Sementara untuk transfer melalui Bank Syariah Indonesia (BSI), donasi dapat dikirim ke rekening 0500080084 atas nama Badan Amil Zakat Nasional Kota Semarang.
Setelah melakukan transfer, donatur dapat melakukan konfirmasi pembayaran melalui nomor WhatsApp 0821-7022-1818 agar proses pencatatan dan penyaluran bantuan dapat dilakukan dengan baik.
Selain melalui transfer bank, BAZNAS Kota Semarang juga menyediakan layanan donasi digital yang memudahkan masyarakat. Sedekah yatim dapat dilakukan secara online melalui laman resmi kotasemarang.baznas.go.id/sedekah.
Demikian informasi yang dapat Anda simak terkait sejarah hari Asyura.***
ARTIKEL22/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kapan Puasa Tasyua dan Asyura? Ini Jadwal Lengkap dengan Bacaan Niat
Umat Islam saat ini telah memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah. Pada bulan yang dimuliakan ini, terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan, yakni puasa Tasua dan Asyura.
Puasa Tasua dilaksanakan pada 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilakukan pada 10 Muharram. Kedua puasa sunnah tersebut memiliki keutamaan besar, salah satunya sebagai sarana menghapus dosa-dosa kecil yang telah lalu.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026, Tahun Baru Islam 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, jadwal puasa Tasua dan Asyura tahun ini adalah:
- Puasa Tasua (9 Muharram 1448 H): Rabu, 24 Juni 2026
- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026
Puasa Asyura merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Sementara puasa Tasua dianjurkan sebagai penyempurna puasa Asyura sekaligus untuk membedakan amalan umat Islam dari tradisi kaum Yahudi dan Nasrani yang juga mengagungkan hari Asyura.
Selain itu, sebagian ulama juga menganjurkan umat Islam menambah puasa pada 11 Muharram, yang pada tahun 2026 bertepatan dengan Jumat, 26 Juni 2026.
Adapun bacaan niat puasa Tasua dan Asyura sebagai berikut:
Niat Puasa Tasua:
Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatit Tasû'â lillâhi ta'âlâ.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunnah Tasua esok hari karena Allah SWT."
Terdapat pula lafal niat yang umum digunakan:
Nawaitu shauma taasu'aa sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya:
"Saya niat puasa Tasua sunnah karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Asyura:
Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta'âlâ.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT."
Lafal lain yang juga umum dibaca adalah:
Nawaitu shauma 'aasyuuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya:
"Saya niat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta'ala."
Karena itu, umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan puasa Tasua dan Asyura guna meraih keutamaan serta keberkahan di bulan Muharram.
Demikian informasi terkait waktu pelaksanaan puasa sunnah Tasua dan Asyura lengkap dengan niatnya.***
ARTIKEL19/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kapan 10 Muharram 1448 H? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Jadwal Puasa Sunnahnya
Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam di Indonesia kembali menyambut salah satu bulan yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Muharram menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus termasuk dalam empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, bulan Muharram juga identik dengan berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Salah satu amalan yang paling banyak dilakukan adalah Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Namun pada tahun 2026, terdapat perbedaan penetapan awal Muharram antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan tersebut membuat jadwal pelaksanaan Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura juga berbeda.
Karena itu, warga Semarang yang ingin menjalankan ibadah puasa sunnah di bulan Muharram perlu mengetahui jadwal sesuai dengan pedoman yang dianut masing-masing.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia serta Maklumat Muhammadiyah, 1 Muharram 1448 Hijriah ditetapkan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.
Dengan dasar tersebut, maka jadwal puasa sunnah Muharram adalah sebagai berikut:
- Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Rabu, 24 Juni 2026
- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026
Jadwal ini menjadi acuan bagi mayoritas umat Islam yang mengikuti ketetapan pemerintah maupun Muhammadiyah.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama melalui hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PBNU menetapkan bahwa hilal tidak terlihat pada 15 Juni 2026. Oleh sebab itu, bulan Zulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal.
Berdasarkan hasil tersebut, NU menetapkan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.
Dengan demikian, jadwal puasa sunnah versi NU adalah:
- Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026
- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Jumat, 26 Juni 2026
Perbedaan penetapan ini merupakan hal yang lazim terjadi dalam kalender Hijriah karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan, baik melalui hisab maupun rukyat.
Keutamaan Puasa Asyura yang Sayang Dilewatkan
Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa pada hari tersebut.
Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa salah satu keutamaan Puasa Asyura adalah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya.
Selain itu, Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram juga dianjurkan sebagai bentuk pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi yang pada masa Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura.
Bagi masyarakat Semarang yang ingin memperbanyak ibadah di bulan Muharram, puasa sunnah ini dapat menjadi salah satu amalan yang mudah dilakukan namun memiliki pahala yang besar. Dengan mengetahui jadwal yang tepat sesuai pedoman masing-masing, umat Islam dapat mempersiapkan diri sejak sekarang agar tidak melewatkan momentum ibadah yang hanya datang sekali dalam setahun tersebut.
Karena itu, pastikan untuk mencatat tanggal Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura 2026 sesuai versi yang Anda ikuti agar pelaksanaan ibadah berjalan dengan baik dan sesuai ketentuan.***
ARTIKEL18/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Mengapa Muharram Disebut dengan Hari Penting? Kenali Makna dan Sejarahnya
Memasuki bulan Muharram, umat Islam di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang, bersiap menyambut Tahun Baru Hijriah yang menjadi salah satu momen penting dalam kalender Islam. Tidak sekadar pergantian tahun, Muharram menyimpan sejarah panjang serta berbagai keutamaan yang menjadikannya sebagai salah satu bulan paling mulia dalam ajaran Islam.
Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah atau kalender Qamariyah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia. Kehadiran bulan ini menandai dimulainya tahun baru Islam yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1 Muharram.
Bagi masyarakat Muslim di Semarang, momentum Muharram kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari doa bersama, pengajian, santunan anak yatim, hingga refleksi diri untuk menyambut tahun baru dengan semangat yang lebih baik.
Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci yang dikenal sebagai Al Asyhur Al Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai kebaikan.
Keistimewaan Muharram juga disebutkan dalam berbagai hadis. Rasulullah SAW bahkan menyebut puasa terbaik setelah bulan Ramadhan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram.
Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah Puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Banyak ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut memiliki keutamaan besar, termasuk menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang telah lalu atas izin Allah SWT. Karena itu, Muharram sering dianggap sebagai momentum terbaik bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memulai lembaran baru kehidupan yang lebih baik.
Di balik peringatan Tahun Baru Islam, terdapat sejarah penting mengenai lahirnya kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.
Dikutip dari berbagai riwayat yang juga dijelaskan dalam literatur Islam, penetapan kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA sekitar tahun ke-17 Hijriah.
Kala itu, Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa Al-Asy'ari RA. Namun surat tersebut tidak mencantumkan tanggal maupun waktu pengiriman sehingga menimbulkan kesulitan dalam administrasi pemerintahan.
Situasi tersebut mendorong Umar bin Khattab untuk mengumpulkan para sahabat dan tokoh penting Islam guna membahas perlunya sistem penanggalan resmi bagi umat Islam.
Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan untuk dijadikan titik awal kalender Islam, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau menjadi Rasul, tahun wafatnya Nabi, hingga peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, para sahabat akhirnya sepakat memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai awal penanggalan Islam. Usulan tersebut disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib RA dan diterima oleh para sahabat lainnya.
Sejak saat itu, kalender Islam dikenal sebagai kalender Hijriah, yang berasal dari kata "Hijrah" sebagai simbol perubahan, perjuangan, dan awal kehidupan baru bagi umat Islam.
Bagi warga Semarang dan umat Islam pada umumnya, datangnya bulan Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun. Lebih dari itu, bulan ini merupakan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.
Semangat hijrah yang menjadi dasar penetapan kalender Islam dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dengan memahami sejarah dan makna Muharram, umat Islam diharapkan dapat menyambut Tahun Baru Hijriah dengan penuh rasa syukur, optimisme, dan semangat memperbanyak amal kebaikan.***
ARTIKEL18/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
4 Amalan Sunnah di Bulan Muharram 1448 H, Lakukan untuk Menambah Keberkahan
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah segera tiba dan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memulai lembaran baru yang lebih baik. Bulan Muharram yang menandai awal kalender Hijriah dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia dalam Islam, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, datangnya bulan Muharram tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena keistimewaan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menghindari berbagai perbuatan yang dapat mengurangi pahala.
Berikut beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Muharram 1448 Hijriah.
1. Memperbanyak Puasa Sunnah Muharram
Salah satu amalan yang paling dianjurkan pada bulan Muharram adalah menjalankan puasa sunnah. Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar setelah puasa Ramadan.
Puasa Tasu'a yang dilaksanakan pada 9 Muharram dan Puasa Asyura pada 10 Muharram menjadi amalan yang banyak dilakukan umat Islam. Selain mendapatkan pahala, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, mengendalikan diri, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Bagi warga Semarang yang memiliki aktivitas padat, puasa sunnah tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi kesehatan dan pekerjaan masing-masing.
2. Memperbanyak Sedekah dan Berbagi kepada Sesama
Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial. Berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari memberikan makanan, membantu tetangga yang kesulitan, hingga menyantuni anak yatim.
Di Kota Semarang sendiri, banyak kegiatan sosial yang biasanya digelar oleh masjid, komunitas, maupun lembaga kemanusiaan selama bulan Muharram. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mempererat solidaritas sekaligus menebar manfaat bagi sesama.
Selain membantu orang lain, sedekah juga diyakini menjadi jalan untuk membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
3. Memperbanyak Dzikir dan Doa
Memasuki tahun baru Hijriah menjadi momen yang tepat untuk memperbanyak dzikir dan doa. Umat Islam dapat mengisi waktu dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dzikir dan doa tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga membantu memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Banyak umat Muslim memanfaatkan awal tahun Hijriah untuk memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan selama satu tahun ke depan.
4. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur'an
Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memulai kebiasaan membaca Al-Qur'an secara rutin. Tidak hanya membaca, umat Islam dianjurkan memahami makna ayat-ayat yang dibaca dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan sederhana seperti meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca Al-Qur'an dapat menjadi langkah awal menuju perubahan diri yang lebih baik sepanjang tahun.
5. Menjaga Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan
Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, bulan Muharram juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan menghindari perselisihan merupakan amalan yang sangat dianjurkan.
Di tengah kesibukan masyarakat perkotaan seperti Semarang, menjaga komunikasi dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga menjadi hal yang penting. Hubungan yang harmonis dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan penuh keberkahan.
Muharram 1448 Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan memperbanyak ibadah, menjaga hubungan sosial, dan meningkatkan kualitas diri, tahun baru Islam dapat menjadi awal yang penuh keberkahan dan harapan baru.***
ARTIKEL17/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa 1 hingga 10 Muharram 1448 H Lengkap dengan Artinya
Umat Islam kini telah memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, salah satu bulan mulia dalam kalender Islam yang memiliki banyak amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Salah satu ibadah yang paling dianjurkan selama bulan ini adalah puasa sunnah Muharram, termasuk Puasa Tasua dan Puasa Asyura yang memiliki keutamaan besar.
Bagi warga Semarang dan sekitarnya yang ingin menjalankan ibadah puasa sunnah Muharram, penting untuk mengetahui bacaan niat yang benar agar ibadah dapat dilaksanakan dengan baik sesuai tuntunan syariat.
Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa puasa di bulan Muharram merupakan puasa sunnah terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan. Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala.
Niat Puasa Muharram Tanggal 1-8 Muharram 1448 H
Puasa Muharram dapat dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga seterusnya di bulan Muharram. Namun, para ulama menjelaskan bahwa tidak dianjurkan berpuasa satu bulan penuh karena hal tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Berikut bacaan niat puasa sunnah Muharram:
Latin:
Nawaitu shauma asy-syahri al-muharrami sunnatan lill?hi ta'?l?.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunnah di bulan Muharam karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Tasua 9 Muharram
Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Puasa ini memiliki nilai istimewa karena menjadi pembeda antara umat Islam dan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Berikut bacaan niat Puasa Tasua:
Latin:
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnatit Tasu'a lillâhi ta'ala.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a esok hari karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Asyura 10 Muharram
Sementara itu, Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Salah satu keutamaannya adalah dihapuskan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu, sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah riwayat sahih.
Berikut bacaan niat Puasa Asyura:
Latin:
Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnatil asyura lillahi ta'ala.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah Ta'ala."
Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Muharram?
Secara umum, niat puasa sunnah sebaiknya dibaca pada malam hari, yakni sejak setelah Magrib hingga sebelum terbit fajar. Namun karena termasuk puasa sunnah, terdapat keringanan bagi seseorang yang belum sempat berniat pada malam hari.
Seseorang masih diperbolehkan berniat setelah terbit fajar hingga sebelum waktu Zuhur, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, maupun aktivitas lain yang membatalkan puasa.
Berikut bacaan niat puasa Muharram yang dapat dibaca pada siang hari:
Latin:
Nawaitu shauma hadzal yaumi ada'i sunnati syahri Muharrami lillahi ta'ala.
Artinya:
"Aku berniat puasa pada hari ini untuk menunaikan puasa sunnah bulan Muharam karena Allah Ta'ala."
Sedangkan untuk Puasa Tasua maupun Asyura yang diniatkan pada siang hari, bacaannya adalah:
Latin:
Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an ada'i sunnatit Tasu'a awil asyura lillâhi ta'ala.
Artinya:
"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a atau Asyura hari ini karena Allah Ta'ala."
Meski demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa niat yang dilakukan pada siang hari untuk Puasa Tasua dan Asyura tidak menjadikannya sebagai puasa satu hari penuh. Dalam pandangan tersebut, puasa tetap sah namun dihitung sebagai puasa sunnah mutlak.
Memasuki bulan Muharram 1448 H, umat Islam di Semarang diharapkan dapat memanfaatkan bulan yang penuh keberkahan ini dengan memperbanyak amal ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah Muharram, Tasua, dan Asyura sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.***
ARTIKEL17/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Sambut Bulan Muharram, Ini Tata Cara Sedekah untuk Anak Yatim di BAZNAS Kota Semarang
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah segera tiba. Menjelang pergantian tahun dalam kalender Islam tersebut, umat Muslim di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang, mulai mempersiapkan berbagai amalan untuk menyambut datangnya bulan Muharram.
Selain membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun yang biasa diamalkan menjelang pergantian tahun Hijriah, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak ibadah sosial, salah satunya dengan menyantuni anak yatim.
Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini terdapat Hari Asyura yang jatuh setiap 10 Muharram. Momen tersebut kerap dikaitkan dengan tradisi berbagi kepada anak yatim sehingga Muharram sering disebut masyarakat sebagai “Lebaran Anak Yatim”.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa, melainkan menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap sesama, khususnya anak-anak yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Bagi warga Semarang yang ingin menyalurkan santunan kepada anak yatim, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui lembaga amil zakat resmi dan terpercaya. Dengan menyalurkan bantuan melalui lembaga yang kredibel, dana yang diberikan dapat tersalurkan secara tepat sasaran kepada para penerima manfaat.
Salah satu lembaga yang dapat menjadi pilihan adalah BAZNAS Kota Semarang. Melalui program sosial yang dijalankan, masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam membantu anak-anak yatim dan dhuafa di berbagai wilayah Kota Semarang.
Santunan yang diberikan tidak harus dalam jumlah besar. Berapapun nominal yang disalurkan dapat menjadi bentuk kepedulian dan kebahagiaan bagi anak-anak yang membutuhkan. Bantuan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, perlengkapan sekolah, kebutuhan sehari-hari, maupun dukungan sosial lainnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang bagi sebagian masyarakat, semangat berbagi menjadi salah satu nilai penting yang terus dijaga. Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat solidaritas sosial sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap anak-anak yatim.
BAZNAS Kota Semarang juga menyediakan layanan donasi secara daring sehingga masyarakat dapat menyalurkan santunan dengan mudah tanpa harus datang langsung ke kantor layanan. Prosesnya dapat dilakukan melalui perangkat ponsel maupun komputer yang terhubung dengan internet.
Warga yang ingin berpartisipasi dalam program santunan anak yatim dapat mengakses laman resmi donasi BAZNAS Kota Semarang melalui tautan berikut:
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Melalui semangat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, masyarakat Semarang diharapkan tidak hanya memperbanyak ibadah secara personal, tetapi juga meningkatkan kepedulian sosial melalui aksi nyata.
Menyantuni anak yatim menjadi salah satu amalan yang dapat membawa manfaat luas, baik bagi penerima maupun pemberi, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Momentum Muharram pun dapat menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan sendiri, melainkan juga dibagikan kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan dan kasih sayang dari sesama.***
ARTIKEL15/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Doa Awal dan Akhir Tahun 1448 H, Amalkan di Bulan Muharram
Umat Islam di Indonesia, termasuk warga Kota Semarang, akan menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah pada Senin sore, 15 Juni 2026. Momen pergantian tahun dalam kalender Hijriah ini menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk melakukan introspeksi diri sekaligus memperbanyak ibadah dan doa.
Berbeda dengan perayaan pergantian tahun Masehi yang identik dengan berbagai hiburan, Tahun Baru Islam lebih banyak diisi dengan kegiatan religius seperti pengajian, dzikir, muhasabah, hingga membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Tradisi ini masih banyak dijalankan oleh masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kota Semarang dan sekitarnya.
Doa akhir tahun dibaca sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir. Sementara itu, doa awal tahun dipanjatkan sebagai harapan agar diberikan keberkahan, perlindungan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan selama setahun ke depan.
Bagi masyarakat yang ingin mengamalkannya, doa akhir tahun biasanya dibaca menjelang berakhirnya bulan Zulhijah atau sebelum masuk waktu Maghrib yang menandai pergantian tahun Hijriah. Sedangkan doa awal tahun dibaca setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharram.
Dalam tradisi Islam, membaca doa akhir tahun bukan sekadar ritual tahunan. Doa ini mengandung permohonan ampun atas berbagai dosa yang mungkin dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja selama satu tahun terakhir.
Melalui doa tersebut, seorang Muslim diajak untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya, memperbaiki kesalahan, serta memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.
Versi singkat doa akhir tahun yang banyak diamalkan berbunyi:
"Allaahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu wa lam atub minhu, wa halumta fiihaa 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii, wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa-atii 'alaa ma'shiyatik. Fa innistaghfartuka faghfir-lii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaa, wa wa'attanii 'alaihits tsawaaba, fa as-aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaa-ii minka yaa kariim."
Artinya:
Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."
Doa Awal Tahun 1 Muharram 1448 Hijriah
Selain doa akhir tahun, umat Islam juga dianjurkan membaca doa awal tahun setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharram.
Doa ini berisi harapan agar Allah SWT memberikan perlindungan dari godaan setan, menjaga diri dari perbuatan buruk, serta membimbing setiap langkah agar lebih dekat kepada-Nya.
Bacaan doa awal tahun yang umum diamalkan adalah:
"Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal 'azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.
Artinya: Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.
Melalui doa tersebut, umat Muslim berharap tahun baru yang datang menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memasuki tahun baru Hijriah, umat Islam diharapkan mampu meninggalkan kebiasaan buruk di masa lalu dan memulai lembaran baru yang lebih baik, penuh keberkahan, serta semakin dekat kepada Allah SWT.***
ARTIKEL15/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Doa Asyura 10 Muharram Lengkap dan Artinya, Amalan Penuh Keutamaan di Bulan Muharram
Doa Asyura menjadi salah satu amalan yang banyak dibaca umat Islam saat memasuki tanggal 10 Muharram. Hari Asyura merupakan momen istimewa dalam kalender Islam yang diyakini memiliki berbagai keutamaan dan keberkahan. Selain menjalankan puasa sunnah Asyura, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, serta amalan kebaikan lainnya.
Salah satu amalan yang populer dilakukan pada malam dan hari Asyura adalah membaca Doa Asyura.
Doa ini umumnya dibaca setelah salat Maghrib pada tanggal 10 Muharram. Sebagian ulama menganjurkan doa tersebut dibaca sebanyak 7 kali, sementara sebagian lainnya menyebutkan lebih utama jika dibaca hingga 70 kali.
Berikut bacaan Doa Asyura lengkap dengan tulisan latin, dan terjemahan Bahasa Indonesia.
Latin Doa Asyura
Hasbunallaah wani'mal wakil, ni'mal maulaa wani'man nashiir. Subhaanallaahi mil-al miizaani wa muntahal 'ilmi wa mablaghar ridhaa wazinatal 'arsyi. Laa malja-a minallaahi illaa ilaihi subhaanallaahi 'adadasy syaf'i wal witir. Wa 'adada kalimatillaahit taammaati kullaha, nas-alukas salaamata birahmatika yaa arhamar raahimiin. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'azhiim. Wahuwa hasbunaa wani'mal wakil, ni'mal maulaa wani'man nashiir. Washallallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihii washahbihii wasallam.
Artinya, “Cukuplah Allah yang menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, setinggi ilmu, sebanyak keridhaan, dan seberat Arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah selain kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan yang genap dan ganjil serta sebanyak kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Kami memohon keselamatan kepada-Mu dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.”
Dalam sejumlah literatur Islam, Doa Asyura diyakini sebagai doa yang sarat makna tawakal, perlindungan, dan permohonan keselamatan kepada Allah SWT.
Bahkan, menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, siapa yang membaca Doa Asyura sebanyak 41 kali pada hari Asyura, maka hatinya tidak akan mati.
Karena itu, momentum 10 Muharram menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, berdoa, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT demi meraih keberkahan dan ampunan-Nya.***
ARTIKEL12/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Asal Usul Muharram Disebut Bulan Anak Yatim, Ternyata Ini Alasannya
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Islam. Selain menjadi penanda Tahun Baru Hijriah, Muharram juga dikenal luas sebagai bulan kepedulian terhadap anak yatim. Di Indonesia, tradisi menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram bahkan populer dengan sebutan "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama".
Lalu, kenapa Muharram identik dengan anak yatim?
Dalam ajaran Islam, anak yatim memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Al-Qur'an dan hadis banyak mengajarkan umat Islam untuk memuliakan, menyayangi, serta membantu kehidupan mereka. Rasulullah SAW sendiri merupakan seorang yatim sejak kecil, sehingga beliau sangat menaruh perhatian kepada anak-anak yang kehilangan orang tua.
Salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa orang yang merawat anak yatim akan berada sangat dekat dengan Rasulullah SAW di surga. Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum Muharram untuk memperbanyak amal kebaikan kepada anak yatim.
Meski tidak terdapat dalil shahih yang secara khusus menetapkan 10 Muharram sebagai Hari Raya Anak Yatim, tradisi tersebut berkembang sebagai bentuk implementasi nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan Rasulullah. Sejumlah ulama juga menganjurkan memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada anak yatim serta fakir miskin pada hari Asyura.
Di berbagai daerah di Indonesia, peringatan 10 Muharram biasanya diisi dengan santunan anak yatim, doa bersama, pembacaan sholawat, hingga kegiatan hiburan yang menghadirkan suasana penuh kebahagiaan bagi anak-anak. Tradisi ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga dukungan moral agar mereka merasa dicintai dan diperhatikan oleh masyarakat.
Selain memiliki nilai sosial, tradisi menyantuni anak yatim juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Islam mengajarkan bahwa menyayangi anak yatim dapat melembutkan hati, menumbuhkan empati, serta mendekatkan seseorang kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Tradisi Lebaran Anak Yatim juga berperan dalam menanamkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial kepada generasi muda. Melalui kegiatan santunan, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya berbagi rezeki dan memperhatikan kelompok yang membutuhkan.
Pada akhirnya, Muharram identik dengan anak yatim karena bulan ini menjadi simbol kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan dalam Islam.
Melestarikan tradisi menyantuni anak yatim bukan hanya menjaga budaya keagamaan yang baik, tetapi juga menjadi wujud nyata meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.***
ARTIKEL12/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Puasa Asyura 2026: Keutamaan, Sejarah, Jadwal, dan Niat Lengkap
Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam di berbagai daerah mulai mempersiapkan diri untuk memperbanyak ibadah dan amalan sunnah. Salah satu ibadah yang paling dianjurkan pada bulan pertama dalam kalender Hijriah ini adalah puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram.
Puasa Asyura memiliki keutamaan luar biasa karena disebut langsung oleh Rasulullah SAW sebagai amalan yang dapat menghapus dosa setahun yang telah berlalu. Tidak heran jika banyak umat Islam berupaya menjalankan ibadah sunnah ini sebagai bentuk syukur sekaligus momentum memperbaiki diri di awal tahun Hijriah.
Puasa Asyura sebenarnya telah dikenal sebelum datangnya Islam. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa kaum Yahudi di Madinah melaksanakan puasa pada hari tersebut karena memperingati keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Saat ditanya mengenai alasan mereka berpuasa, mereka menjelaskan bahwa hari itu merupakan hari bersejarah ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan menenggelamkan Firaun beserta pengikutnya.
Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa AS. Setelah itu, beliau menganjurkan kaum Muslim untuk melaksanakan puasa Asyura sebagaimana diriwayatkan dalam Hadis Riwayat Muslim.
Menurut mayoritas ulama, pada awalnya puasa Asyura sempat berstatus wajib sebelum Allah SWT mewajibkan puasa Ramadan. Setelah turunnya kewajiban puasa Ramadan, hukum puasa Asyura berubah menjadi sunnah yang sangat dianjurkan.
Keistimewaan terbesar puasa Asyura terdapat dalam Hadis Riwayat Muslim dari Abu Qatadah RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
Keutamaan inilah yang menjadikan puasa Asyura sebagai salah satu ibadah sunnah paling istimewa di bulan Muharram. Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan bersedekah untuk meraih pahala yang lebih besar.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 10 Muharram 1448 Hijriah atau Hari Asyura jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026.
Sementara itu, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan puasa Tasu'a pada Rabu, 24 Juni 2026 atau 9 Muharram sebagai penyempurna ibadah puasa Asyura.
Berikut bacaan niat puasa Asyura:
Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta'ala."
Dengan memahami sejarah, keutamaan, serta tata cara pelaksanaannya, puasa Asyura dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan penuh semangat ibadah dan harapan memperoleh ampunan dari Allah SWT.***
ARTIKEL11/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Keutamaan Sedekah di Bulan Muharram 1448 H
Tahun Baru Hijriah 1447 akan segera berakhir, tidak lama lagi tahun akan berganti dan kabarnya jatuh di tanggal 16 Juni 2026 mendatang. Untuk menyambut pergantian tahun tersebut, ada beragam kesunnahan yang dapat dilakukan, salah satunya adalah bersedekah.
Sedekah di bulan Muharram memiliki keutamaan besar sebab dilakukan pada satu bulan yang dimuliakan Allah SWT atau bulan haram. Selain itu, bulan tersebut sering dinamai lebaran anak yatim sebab pada bulan Muharram, disunnahkan pula untuk menyantuni serta mengusap kepala anak yatim.
Untuk itu, pada artikel kali ini akan membahas lebih lanjut perihal beragam keutamaan sedekah di bulan Muharram 1448 H yang dapat Anda ketahui.
Dilansir dari berbagai informasi, berikut keutamaan sedekah di bulan Muharram 1448 H yang dapat Anda ketahui:
1. Dilipatgandakan Pahalanya
Muharram merupakan Syahrullah (bulan Allah), sehingga setiap amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya dinilai lebih tinggi dan dilipatgandakan dibandingkan bulan biasa.
2. Pahala Setara Sedekah Setahun
Berdasarkan riwayat dari Abu Musa al-Madini dari Ibnu Umar RA, seseorang yang bersedekah pada Hari Asyura (tanggal 10 Muharram) akan mendapatkan ganjaran layaknya bersedekah selama satu tahun penuh.
3. Melapangkan Rezeki Sepanjang Tahun
Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa yang memberikan kelapangan (nafkah atau sedekah) kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah SWT akan memberikan kelapangan rezeki kepadanya sepanjang tahun tersebut.
4. Penyucian Harta dan Penghapus Dosa
Sedekah dikenal sebagai amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan membersihkan harta dari hak orang lain yang mungkin melekat di dalamnya.
5. Perlindungan dari Musibah
Sedekah dipercaya menjadi penolak bala, sehingga harta yang disedekahkan dapat menjadi perisai yang melindungi pelakunya dari bencana atau musibah
Itulah beberapa keutamaan melaksanakan sedekah di bulan Muharram yang dapat Anda ketahui.
Anda dapat pula menitipkan sedekah tersebut melalui lembaga ZIS seperti BAZNAS Kota Semarang dengan klik link berikut ini:
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Demikian informasi mengenai keutamaan sedekah di bulan Muharram 1448 H yang dapat Anda ketahui.***
ARTIKEL11/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Doa Minum Susu 1 Muharram 1448 H, Lengkap dengan Arab Latin dan Terjemah
Momen pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah akan segera tiba. Berdasarkan kalender Hijriah, 1 Muharram 1448 H diperkirakan jatuh pada 16 Juni 2026. Menjelang datangnya tahun baru Islam, umat Muslim biasanya menyambutnya dengan berbagai amalan sunnah dan tradisi yang sarat makna spiritual.
Salah satu tradisi yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Muslim adalah meminum susu pada malam atau tanggal 1 Muharram. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk tafa'ul atau harapan baik agar kehidupan di tahun yang baru senantiasa diberikan kesucian, kebersihan hati, serta keberkahan oleh Allah SWT.
Meski tidak termasuk ibadah wajib, amalan meminum susu pada 1 Muharram telah lama dianjurkan oleh sejumlah ulama sebagai simbol optimisme dalam menyambut pergantian tahun. Warna putih pada susu dimaknai sebagai lambang kesucian dan kebersihan, sehingga diharapkan setiap langkah dan perjalanan hidup selama setahun ke depan dipenuhi dengan kebaikan.
Tradisi ini umumnya dilaksanakan pada malam 1 Muharram, yakni setelah waktu Maghrib hingga menjelang Subuh. Selain meminum susu, umat Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak doa, dzikir, istighfar, serta muhasabah diri sebagai bentuk evaluasi atas perjalanan hidup di tahun sebelumnya.
Namun, ada satu amalan yang sering kali terlupakan ketika meminum susu, yakni membaca doa sebelum atau sesudah mengonsumsinya. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus ketika meminum susu sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Berikut bacaan doa minum susu yang dapat diamalkan saat menyambut 1 Muharram 1448 H:
Latin:
Allahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu.
Artinya:
"Ya Allah, berkahilah kami di dalam air susu ini dan tambahlah keberkahan kami darinya." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dengan membaca doa tersebut, umat Muslim diharapkan tidak hanya memperoleh manfaat kesehatan dari susu yang dikonsumsi, tetapi juga mendapatkan keberkahan serta kebaikan yang melimpah dari Allah SWT.
Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan memperbanyak amalan baik. Tradisi minum susu yang disertai doa dapat menjadi salah satu ikhtiar sederhana untuk mengawali tahun baru dengan penuh harapan, kesucian hati, dan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.
Demikian informasi mengenai bacaan doa minum susu pada 1 Muharram 1448 H lengkap dengan latin dan artinya yang dapat diamalkan saat menyambut Tahun Baru Islam 2026. Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan bagi seluruh umat Muslim.***
ARTIKEL10/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Muharram 1448 H, Catat Tanggal Pelaksanaannya
Umat Islam yang ingin melaksanakan puasa sunnah Ayyamul Bidh pada bulan Muharram 1448 Hijriah perlu mencatat jadwal pelaksanaannya. Puasa sunnah yang dilakukan setiap pertengahan bulan Hijriah ini jatuh pada akhir Juni 2026.
Puasa Ayyamul Bidh merupakan amalan sunnah yang dikerjakan selama tiga hari berturut-turut, yakni pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.
Amalan ini dianjurkan Rasulullah SAW karena memiliki pahala yang besar dan dapat menjadi salah satu sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Berdasarkan kalender Hijriah 1448 H, jadwal puasa Ayyamul Bidh Muharram tahun ini adalah sebagai berikut:
- Minggu, 28 Juni 2026 (13 Muharram 1448 H)
- Senin, 29 Juni 2026 (14 Muharram 1448 H)
- Selasa, 30 Juni 2026 (15 Muharram 1448 H)
Puasa Ayyamul Bidh menjadi salah satu ibadah sunnah yang banyak dijalankan umat Islam karena keutamaannya. Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa berpuasa tiga hari setiap bulan memiliki pahala yang sebanding dengan berpuasa sepanjang tahun, karena setiap kebaikan dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Selain menjalankan puasa Ayyamul Bidh, bulan Muharram juga menjadi momen bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah lainnya.
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam, sehingga berbagai amalan saleh dianjurkan untuk ditingkatkan selama bulan ini.
Tidak hanya itu, umat Islam juga dapat melaksanakan puasa sunnah lainnya di bulan Muharram, seperti puasa Tasu'a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram yang dikenal memiliki keutamaan besar.
Dengan mengetahui jadwal puasa Ayyamul Bidh Muharram 1448 H lebih awal, diharapkan umat Islam dapat mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah sunnah tersebut secara maksimal.***
ARTIKEL09/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Tahun Baru Muharram akan Segera Tiba! Cek Tanggal dan Jadwal Liburnya
Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi salah satu momen yang dinantikan umat Muslim di seluruh Indonesia. Selain menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriah, peringatan 1 Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri, memperbanyak ibadah, serta menyusun berbagai agenda keagamaan di tahun yang baru.
Banyak masyarakat mulai mencari informasi mengenai kapan tepatnya 1 Muharram 1448 H akan berlangsung. Pasalnya, sistem kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi sehingga tanggal pergantian tahun Islam tidak selalu sama setiap tahunnya.
Berdasarkan kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, pergantian tahun dari 1447 H menuju 1448 H akan dimulai sejak waktu Magrib pada Senin, 15 Juni 2026.
Perlu diketahui, dalam sistem kalender Hijriah, pergantian hari terjadi setelah matahari terbenam atau saat masuk waktu Magrib. Karena itu, malam Tahun Baru Islam sudah dimulai sejak petang hari sebelum tanggal 1 Muharram.
Meski demikian, tanggal tersebut masih bersifat prediksi dan akan menunggu hasil sidang isbat serta pemantauan hilal yang dilakukan Kementerian Agama pada akhir bulan Zulhijah 1447 H. Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah guna mengetahui penetapan tanggal yang final.
Bulan Muharram sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, berpuasa sunnah, serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Di berbagai daerah, peringatan Tahun Baru Islam juga diramaikan dengan beragam kegiatan keagamaan seperti pawai Muharram, pengajian, doa bersama, santunan anak yatim, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kabar baik bagi masyarakat, pemerintah telah menetapkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai hari libur nasional yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Namun, untuk peringatan ini tidak terdapat cuti bersama.
Meski hanya satu hari, masyarakat tetap berpeluang menikmati libur lebih panjang dengan mengambil cuti tahunan pada Senin, 15 Juni 2026. Berikut rinciannya:
- Sabtu, 13 Juni 2026: Libur akhir pekan
- Minggu, 14 Juni 2026: Libur akhir pekan
- Senin, 15 Juni 2026: Cuti tahunan
- Selasa, 16 Juni 2026: Libur Nasional Tahun Baru Islam 1448 H
Dengan demikian, masyarakat dapat menikmati libur panjang selama empat hari berturut-turut sekaligus memanfaatkan momen Tahun Baru Islam untuk beribadah, berkumpul bersama keluarga, maupun beristirahat dari aktivitas sehari-hari.***
ARTIKEL09/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Belum Melakukan Pembayaran Fidyah? Ini Cara dan Waktu Pelaksanannya
Puasa Ramadan 2026 telah selesai dilaksanakan oleh umat Muslim pada Februari hingga Maret lalu. Ibadah puasa selama satu bulan penuh tersebut merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat dan tidak memiliki halangan atau udzur syar'i. Namun, tidak semua orang dapat menjalankan puasa Ramadan secara penuh karena kondisi tertentu yang dibenarkan dalam ajaran Islam.
Beberapa kondisi yang termasuk udzur syar'i antara lain sakit berat, usia lanjut, haid, kehamilan, hingga menyusui. Dalam keadaan tersebut, seorang Muslim diperbolehkan tidak menjalankan puasa Ramadan. Meski demikian, kewajiban yang ditinggalkan tetap harus ditunaikan melalui ketentuan yang telah diatur dalam syariat, salah satunya dengan membayar fidyah bagi golongan yang memenuhi syarat.
Fidyah merupakan tebusan atau denda berupa harta yang wajib diberikan oleh seorang Muslim yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa Ramadan karena alasan tertentu. Pembayaran fidyah bertujuan untuk menggugurkan kewajiban puasa yang tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam hukum Islam.
Lalu, kapan batas waktu pembayaran fidyah?
Secara umum, fidyah dapat ditunaikan sejak seseorang tidak menjalankan puasa pada hari yang bersangkutan. Pembayaran dapat dilakukan pada malam hari sebelum waktu puasa dimulai atau setelah seseorang diketahui tidak berpuasa pada hari tersebut.
Selain itu, fidyah juga dapat dikumpulkan dan dibayarkan sekaligus pada akhir bulan Ramadan. Bahkan, pembayaran fidyah masih diperbolehkan dilakukan setelah Ramadan berakhir hingga menjelang datangnya Ramadan tahun berikutnya.
Meski demikian, umat Muslim dianjurkan untuk segera menunaikan fidyah agar kewajiban tersebut tidak tertunda terlalu lama.
Cara Membayar Fidyah
Dalam praktiknya, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan umat Muslim untuk menunaikan fidyah sesuai syariat Islam.
Pertama, memberikan makanan kepada fakir miskin dengan cara memasak hidangan dan mengundang sejumlah orang miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan.
Kedua, memberikan makanan pokok seperti beras yang disertai lauk atau bahan makanan lain yang layak untuk dikonsumsi oleh penerima.
Ketiga, menyalurkan fidyah melalui lembaga amil zakat atau lembaga sosial terpercaya yang memiliki program penyaluran fidyah kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bagi masyarakat yang ingin membayar fidyah secara praktis, penyaluran juga dapat dilakukan melalui layanan digital yang disediakan oleh lembaga resmi seperti Baznas Kota Semarang.
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah. Pilih menu Fidyah dan ikuti langkah-langkahnya.
Melalui layanan tersebut, pembayaran fidyah dapat dilakukan secara online dengan mudah dan aman.
Memahami ketentuan fidyah menjadi penting bagi umat Muslim yang memiliki kewajiban mengganti puasa Ramadan.
Dengan menunaikannya sesuai syariat dan tepat waktu, kewajiban ibadah dapat diselesaikan dengan baik sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.***
ARTIKEL08/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Semarang.
Lihat Daftar Rekening →