Artikel Terbaru
Ketahui! Ini Perbedaan Puasa Tasua dan Asyura, Lengkap dengan Jadwal Pelaksanaannya
Umat Islam sebentar lagi akan menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Selain menjadi momen pergantian tahun dalam kalender Hijriah, bulan Muharram juga dikenal sebagai salah satu bulan yang istimewa untuk memperbanyak ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah Tasua dan Asyura.
Berdasarkan kalender Hijriah, 1 Muharram 1448 H diperkirakan jatuh pada 16 Juni 2026. Tanggal tersebut juga bertepatan dengan libur nasional dan cuti bersama dalam rangka peringatan Tahun Baru Islam 2026.
Bulan Muharram memiliki keutamaan tersendiri dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai bulan terbaik untuk melaksanakan puasa sunnah setelah bulan Ramadan.
Dalam buku Dahsyatnya Puasa Sunnah karya H. Amirulloh Syarbini dan tim, disebutkan hadis Rasulullah SAW:
"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam." (HR Muslim).
Di antara amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah puasa Tasua dan puasa Asyura. Kedua puasa sunnah ini memiliki banyak keutamaan, salah satunya sebagai penghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.
Selain itu, puasa Asyura juga menjadi bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun.
Lalu, apa perbedaan puasa Tasua dan Asyura?
1. Perbedaan Waktu Pelaksanaan
Mengutip buku Fiqih Kontroversi Jilid 2 karya H. M. Anshary, puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dikerjakan pada tanggal 10 Muharram.
Anjuran melaksanakan puasa pada dua hari tersebut didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Rasulullah SAW bersabda:
"Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram." (HR Ahmad).
Dengan demikian, puasa Tasua menjadi pelengkap puasa Asyura sekaligus pembeda dengan tradisi puasa yang dilakukan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
2. Perbedaan Bacaan Niat
Selain waktu pelaksanaannya, perbedaan lain terletak pada bacaan niat yang digunakan.
Niat Puasa Tasua
Nawaitu shauma ghadin min yaumi tasuu'aa-in sunnatan lillahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah hari Tasua esok hari karena Allah Ta'ala."
Niat Puasa Asyura
Nawaitu shauma ghadin min yaumi 'aasyuuraa-a sunnatan lillahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat berpuasa sunnah hari Asyura esok hari karena Allah Ta'ala."
Itulah perbedaan puasa Tasua dan Asyura yang perlu diketahui umat Islam menjelang Tahun Baru Hijriah 1448 H.
Dengan memahami waktu pelaksanaan, niat, dan keutamaannya, umat Islam dapat mempersiapkan diri untuk meraih pahala serta keberkahan di bulan Muharram yang penuh kemuliaan.***
ARTIKEL05/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Menjelang Hari Jumat, Yuk Sisihkan untuk Sedekah Jumat Tiap Minggunya! Ini Caranya
Jumat atau kerap disebut dengan sayyidul ayyam (penghulu hari) menjadi salah satu hari keberkahan yang memiliki beragam keutamaan agung dalam Islam, yang mana pada hari tersebut pahalanya akan dilipatgandakan untuk melakukan segala kebaikan. Ada beragam amalan yang dapat dilakukan pada hari itu, salah satunya yakni bersedekah.
Seperti kita ketahui bersedekah memang dapat dilakukan kapan saja, akan tetapi jika kita laksanakan di hari tersebut akan memiliki beragam keutamaan, di antaranya:
- Pahala berlipat ganda
Melaksanakan sedekah di hari Jumat, pahalanya akan dilipatkan daripada hari-hari biasanya, atau sama seperti sedekah seperti di bulan Ramadhan.
- Didoakan Malaikat
Selain itu, terdapat dua malaikan yang turun setiap pagi untuk mendoakan orang yang bersedekah agar hartanya diganti dan diberikan keberkahan.
- Sebagai penghapus Dosa dan Tolak Bala
Menunaikan sedekah di hari Jumat, dapat juga sebagai perisai dari musibah dan bisa menghapus dosa-dosa sebelumnya.
- Waktu mustajab untuk berdoa
Sedekah di hari Jumat menjadi salah satu wasilah atau perantara agar doa yang dipanjatkan lebih cepat untuk diijabahkan Allah SWT.
Adapun waktu terbaik untuk melaksanakan sedekah Jumat yakni pada waktu setelah subuh, sebelum waktu sholat Jumat, serta setelah Sholat Jumat.
Saat ini perantara melakukan sedekah sangatlah beragam. Anda juga dapat titipkan sedekah Jumat tersebut melalui lembaga Amil terpercaya seperti halnya BAZNAS Kota Semarang.
BAZNAS Kota Semarang menyediakan laman online bersedekah yang bisa Anda klik melalui link berikut ini:
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Hanya dengan ikuti beberapa langkah yang ada, Anda bisa melakukan sedekah Jumat setiap minggunya. Demikian informasi yang dapat Anda simak.***
ARTIKEL04/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kenapa Bulan Muharram Sering disebut Lebaran Anak Yatim? Ini Penjelasan Lengkapnya
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriah yang memiliki banyak keutamaan bagi umat Islam. Selain dikenal sebagai bulan pertama dalam penanggalan Islam, Muharram juga kerap disebut sebagai "Lebaran Anak Yatim". Sebutan ini sudah sangat populer di Indonesia dan identik dengan berbagai kegiatan santunan bagi anak-anak yatim.
Lantas, mengapa Muharram disebut Lebaran Anak Yatim?
Istilah tersebut berakar dari tradisi yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura. Dalam sejarah Islam, Hari Asyura merupakan hari yang penuh berkah dan memiliki banyak peristiwa penting, salah satunya keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun. Rasulullah SAW pun menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan pada hari tersebut.
Tradisi menyantuni anak yatim di Indonesia pada 10 Muharram telah berlangsung turun-temurun. Suasana penuh kebersamaan dan kebahagiaan yang tercipta dalam kegiatan santunan membuat Muharram sering disebut sebagai Lebaran Anak Yatim. Meskipun bukan hari raya resmi seperti Idulfitri atau Iduladha, momen ini menjadi waktu istimewa untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi anak yatim. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, beliau bersabda bahwa orang yang memelihara dan mengurus anak yatim akan berada dekat dengannya di surga. Karena itu, perhatian terhadap anak yatim menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Selain memberikan santunan berupa uang atau kebutuhan pokok, umat Islam juga dianjurkan menunjukkan kasih sayang kepada anak yatim. Dalam beberapa kitab ulama disebutkan bahwa mengusap kepala anak yatim merupakan amalan yang memiliki pahala besar dan menjadi bentuk kepedulian yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Berbagai daerah, masjid, yayasan, hingga komunitas sosial biasanya menggelar kegiatan santunan massal selama Muharram. Acara tersebut sering diisi dengan doa bersama, pemberian bantuan pendidikan, perlengkapan sekolah, hingga kegiatan hiburan yang bertujuan membahagiakan anak-anak yatim.
Selain santunan, amalan lain yang dianjurkan pada bulan Muharram adalah puasa Asyura, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, serta mempererat silaturahmi. Semua amalan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan sekaligus menumbuhkan rasa empati kepada sesama.
Muharram yang dikenal sebagai Lebaran Anak Yatim sejatinya mengandung pesan mendalam tentang kasih sayang, kepedulian sosial, dan rasa syukur. Melalui momentum ini, umat Islam diajak untuk berbagi kebahagiaan, memperkuat solidaritas, dan meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam mencintai serta memuliakan anak yatim.
Apabila Anda ingin ikut serta melakukan santunan anak yatim dan bingung ingin di salurkan melalui mana, BAZNAS Kota Semarang membuka peluang bagi Anda dengan cara mudah dan cepat. Yakni cukup melalui link berikut ini https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah kemudian isi nominal sesuai dengan yang ingin Anda santunkan.
Demikian informasi yang dapat Anda simak mengenai Muharram menjadi bulan lebarannya anak yatim.***
ARTIKEL03/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Puasa Sunnah Juni 2026: Kapan Tasyua dan Asyura? Cek Lengkapnya di Sini
Memasuki pertengahan tahun 2026, bulan Juni menjadi periode yang istimewa bagi umat Islam. Pasalnya, bulan ini bertepatan dengan dua bulan mulia dalam kalender Hijriah, yaitu Dzulhijjah 1447 H dan Muharam 1448 H. Kedua bulan tersebut termasuk dalam kategori bulan haram atau bulan suci yang memiliki banyak keutamaan dan keberkahan.
Dalam ajaran Islam, bulan haram merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh. Setiap kebaikan yang dilakukan akan mendapatkan pahala berlipat ganda, sementara perbuatan buruk memiliki konsekuensi yang lebih besar. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mengisi bulan-bulan mulia ini dengan berbagai ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah.
Beragam jenis puasa sunnah dapat diamalkan sepanjang Juni 2026, mulai dari Puasa Senin Kamis, Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Tasua, Puasa Asyura, hingga puasa sunnah Muharam.
Puasa Ayyamul Bidh merupakan puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Namun, pada bulan Dzulhijjah terdapat penyesuaian karena tanggal 13 Dzulhijjah bertepatan dengan hari Tasyrik yang dilarang untuk berpuasa.
Ayyamul Bidh Dzulhijjah 1447 H
Senin, 1 Juni 2026
Selasa, 2 Juni 2026
Rabu, 3 Juni 2026
Ayyamul Bidh Muharam 1448 H
Minggu, 28 Juni 2026
Senin, 29 Juni 2026
Selasa, 30 Juni 2026
Jadwal Puasa Senin Kamis Juni 2026
Puasa Senin Kamis merupakan salah satu amalan sunnah yang rutin dilakukan oleh Rasulullah SAW. Ibadah ini memiliki banyak keutamaan, termasuk sebagai sarana meningkatkan ketakwaan dan menjaga konsistensi dalam beribadah.
Berikut jadwal Puasa Senin Kamis selama Juni 2026:
Senin, 1 Juni 2026
Kamis, 4 Juni 2026
Senin, 8 Juni 2026
Kamis, 11 Juni 2026
Senin, 15 Juni 2026
Kamis, 18 Juni 2026
Senin, 22 Juni 2026
Kamis, 25 Juni 2026
Senin, 29 Juni 2026
Puasa Tasua dan Asyura menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan Muharam.
Puasa Tasua (9 Muharam): Rabu, 24 Juni 2026
Puasa Asyura (10 Muharam): Kamis, 25 Juni 2026
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
Selain Tasua dan Asyura, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan Muharam. Rasulullah SAW menyebut Muharam sebagai "bulan Allah" dan menjelaskan bahwa puasa terbaik setelah puasa Ramadan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharam.
Tidak ada tanggal khusus yang diwajibkan untuk menjalankan puasa Muharam. Umat Islam dapat melaksanakannya melalui puasa mutlak, Puasa Senin Kamis, Ayyamul Bidh, maupun Puasa Daud sesuai kemampuan masing-masing.
Dengan banyaknya pilihan puasa sunnah yang dapat dikerjakan sepanjang Juni 2026, umat Islam memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meraih pahala yang berlimpah.
Momentum Dzulhijjah dan Muharam ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat ketakwaan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.***
ARTIKEL03/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Berapa Hari Lagi Tahun Baru Islam 2026? Simak Jadwal 1 Muharram 1448 Hijriah dan Libur Nasionalnya
Umat Islam di seluruh dunia saat ini telah memasuki bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Hijriah. Setelah berakhirnya bulan yang identik dengan pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha tersebut, umat Muslim akan menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Momen ini menjadi penanda dimulainya tahun baru dalam kalender Islam yang digunakan oleh umat Muslim di berbagai negara.
Jika dihitung mulai Senin, 1 Juni 2026, maka masih tersisa 15 hari lagi menuju Tahun Baru Islam 2026. Dengan demikian, umat Islam memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menyambut pergantian tahun Hijriah yang penuh makna tersebut.
Perlu diketahui bahwa sistem kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi. Dalam kalender Islam, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam atau memasuki waktu Magrib. Oleh karena itu, pergantian tahun dari 1447 Hijriah ke 1448 Hijriah sebenarnya dimulai pada Senin, 15 Juni 2026 saat waktu Magrib tiba.
Tradisi menyambut Tahun Baru Islam biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti doa bersama, pengajian, refleksi diri, hingga kegiatan sosial yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kabar baik bagi masyarakat Indonesia, pemerintah telah menetapkan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai salah satu hari libur nasional pada tahun 2026. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, peringatan Tahun Baru Islam pada 16 Juni 2026 tidak disertai dengan cuti bersama. Artinya, masyarakat hanya mendapatkan satu hari libur nasional yang jatuh pada hari Selasa tanpa tambahan hari libur sebelum maupun sesudah tanggal tersebut.
Meski demikian, momen Tahun Baru Islam tetap menjadi kesempatan berharga bagi umat Muslim untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta menyusun resolusi spiritual untuk menjalani tahun Hijriah yang baru dengan lebih baik.
Dengan semakin dekatnya 1 Muharram 1448 Hijriah, masyarakat diimbau untuk memanfaatkan momentum ini sebagai sarana meningkatkan keimanan sekaligus mempererat tali silaturahmi antar sesama.***
ARTIKEL02/06/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bagaimana Hukum Menggabungkan Satu Hewan untuk Kurban dan Akikah? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini
Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, berbagai pertanyaan seputar ibadah kurban mulai banyak dibahas oleh umat Islam. Salah satu yang sering muncul adalah mengenai hukum menggabungkan kurban dan akikah dalam satu hewan. Mengingat kedua ibadah ini sama-sama melibatkan penyembelihan hewan, sebagian orang bertanya-tanya apakah keduanya boleh dilakukan sekaligus agar lebih praktis.
Untuk memahami hal ini secara jelas, berikut penjelasan lengkap menurut pandangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Pada dasarnya, ibadah kurban dilakukan pada tanggal 10 hingga 13 Zulhijah setelah selesainya salat Idul Adha. Ibadah ini menjadi bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Sementara itu, akikah merupakan penyembelihan hewan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak.
Akikah biasanya dilakukan pada hari ketujuh setelah bayi lahir, dengan ketentuan dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.
Pertanyaan muncul ketika seseorang yang belum diaqiqahkan pada masa kecil ingin melaksanakan akikah dan kurban sekaligus menggunakan satu hewan. Apakah hal tersebut diperbolehkan?
Pandangan NU
Pandangan ulama dalam mazhab Syafi’i memang tidak tunggal mengenai hal ini. Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, seseorang yang menyatukan niat kurban dan akikah hanya akan mendapatkan satu pahala saja. Dengan kata lain, penyatuan niat keduanya tidak dapat menggugurkan dua ibadah sekaligus.
Namun berbeda dengan itu, Imam Romli berpendapat bahwa seseorang yang belum diaqiqahkan oleh orang tuanya diperbolehkan menyatakan dua niat sekaligus—yaitu kurban dan akikah—pada satu hewan. Melalui niat tersebut, orang tersebut dapat memperoleh pahala dari dua ibadah tersebut sekaligus.
Penjelasan ini sering menjadi rujukan bagi sebagian umat Islam yang ingin melaksanakan keduanya dalam satu waktu.
Pandangan Muhammadiyah
Berbeda dengan NU, Muhammadiyah memberikan penjelasan yang lebih tegas. Dalam pandangan Muhammadiyah, akikah merupakan sunah muakkad yang menjadi kewajiban orang tua, bukan anak. Waktu pelaksanaan akikah pun dibatasi maksimal hari ketujuh setelah kelahiran. Karena itu, menurut Muhammadiyah, seseorang yang sudah dewasa tidak perlu melakukan akikah untuk dirinya sendiri.
Jika seseorang ingin melakukan akikah di usia dewasa dan waktunya bertepatan dengan Idul Adha, Muhammadiyah menyarankan agar hal tersebut dialihkan menjadi ibadah kurban. Kendati boleh dilakukan bersamaan pada hari yang sama, niat akikah dan kurban tidak boleh digabungkan pada satu hewan, karena keduanya memiliki ketentuan yang berbeda dan tidak ada dalil yang membenarkan penyatuan niat tersebut.
Dengan memahami dua pandangan ini, umat Islam bisa lebih bijak menentukan pilihan ibadahnya. Baik menurut NU maupun Muhammadiyah, kurban dan akikah sama-sama merupakan amalan yang membawa kebaikan besar.
Tinggal menyesuaikan dengan keyakinan dan panduan yang diyakini agar ibadah dapat dijalankan dengan lebih tenang dan penuh keikhlasan.***
ARTIKEL26/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
5 Keutamaan Ibadah Kurban: Makna, Hikmah, dan Nilai Spiritual yang Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Menjelang datangnya Idul Adha 2026, umat Muslim di seluruh dunia kembali bersiap menyambut salah satu ibadah istimewa yang sarat makna, yaitu ibadah kurban. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban merupakan simbol ketaatan, keikhlasan, dan bentuk penghambaan yang penuh nilai spiritual.
Dalam ajaran Islam, amalan ini memiliki banyak keutamaan yang tidak hanya dirasakan saat proses pelaksanaannya, tetapi juga membawa hikmah mendalam bagi kehidupan seorang Muslim.
Berikut lima keutamaan dan hikmah ibadah kurban yang perlu diketahui.
Pertama, kurban adalah amalan yang paling dicintai Allah SWT pada hari Nahr, yaitu hari Idul Adha. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari tersebut selain menyembelih hewan kurban. Bahkan, darah hewan yang dikurbankan disebutkan akan sampai kepada Allah sebelum tetesannya menyentuh bumi. Hal ini menggambarkan betapa besar nilai ibadah tersebut di sisi Allah SWT.
Kedua, ibadah kurban menjadi sumber pahala yang melimpah. Setiap helai bulu hewan kurban akan dihitung sebagai satu kebaikan bagi orang yang melaksanakannya. Semakin besar, sehat, dan berkualitas hewan yang dipilih, semakin banyak pula helai bulu yang menjadi pahala. Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah bagi hamba-Nya yang bersedia berkurban dengan hati yang ikhlas.
Ketiga, hewan kurban juga disebutkan akan menjadi kendaraan di akhirat. Pada hari kiamat kelak, hewan tersebut akan datang dengan tanduk, bulu, dan kuku kakinya, lalu menjadi kendaraan yang membantu pekurbannya melewati Shirat. Gambaran ini memberikan motivasi spiritual yang kuat agar umat Muslim tidak ragu berkurban selama mampu.
Keutamaan keempat adalah kurban berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Ibadah ini bukan sekadar proses fisik menyembelih hewan, tetapi lebih pada ketakwaan yang menyertai niat dan keikhlasan seseorang. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, bukan daging dan darah hewan yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang berkurban.
Terakhir, ibadah kurban menjadi cara untuk menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim AS. Kisah keteguhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menerima perintah Allah merupakan pelajaran berharga tentang ketaatan dan keimanan.
Dengan melaksanakan kurban, seorang Muslim mengingat kembali sejarah penuh keteladanan tersebut sekaligus meneladani pengorbanan dan kesabaran dua nabi mulia.
Dengan memahami lima keutamaan tersebut, ibadah kurban bukan lagi sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi perjalanan spiritual yang memperkuat iman, menumbuhkan rasa syukur, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Melaksanakan ibadah berkurban hukumnya sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu. Namun, apabila belum, Anda dapat pula berpartisipasi untuk melaksanakan ibadah kurban dalam bentuk sedekah daging kurban di lembaga terpercaya, seperti halnya BAZNAS Kota Semarang.
Saat ini, BAZNAS Kota Semarang membuka kesempatan bagi Anda yang ingin sedekah daging kurban, cukup dengan mulai dari Rp 300.000 dengan klik link berikut ini sedekah daging kurban tersalurkan dengan akurat, terpercaya dan transaparan.
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Demikian informasi mengenai keutamaan ibadah berkuban. Semoga Idul Adha 2026 membawa kedamaian dan keberkahan bagi seluruh umat Muslim.***
ARTIKEL25/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Bacaan Doa saat Wukuf di Arafah Lengkap dengan Keutamaannya
Menjelang Selasa, 26 Mei 2026, umat Islam di seluruh dunia bersiap memasuki salah satu fase terpenting dalam rangkaian ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah. Momen ini bukan hanya menjadi puncak haji, tetapi juga waktu terbaik untuk memanjatkan doa, memohon ampunan, serta mengharap keberkahan dari Allah SWT.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa hari Arafah adalah hari yang sangat agung, bahkan menjadi kesempatan langka bagi hamba untuk mendekat kepada Tuhannya.
Wukuf di Arafah bukan sekadar berdiam diri. Ia adalah ibadah hati dan lisan, tempat di mana doa-doa akan lebih didengar, dan ampunan lebih dekat untuk diraih. Karena itu, penting bagi para jamaah haji serta umat Muslim di mana pun mereka berada untuk mengetahui keutamaan hari ini serta doa-doa yang dianjurkan.
Keutamaan Hari Arafah yang Jarang Diketahui
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka (jamaah haji) kepada para malaikat.” (HR. Muslim)
Hadis ini menggambarkan betapa istimewanya hari tersebut. Pembebasan dari neraka, kebanggaan Allah terhadap hamba-Nya, serta kedekatan dengan Sang Pencipta menjadi karunia yang tidak ditemukan pada hari-hari lain. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan istighfar pada hari tersebut.
Doa Terbaik untuk Diamalkan Saat Wukuf
Rasulullah SAW menegaskan:
“Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Di antara doa utama yang dianjurkan untuk diperbanyak adalah:
Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir
Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Doa ini sangat dianjurkan di hari Arafah karena merupakan kalimat tauhid yang diucapkan oleh Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya.
Selain itu, beberapa doa lain juga sangat dianjurkan untuk dibaca:
Doa memohon ampunan:
Allaahummaghfir lii warhamni watub ‘alayya
Doa kebaikan dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah: 201):
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar
Doa memohon keteguhan iman:
Allaahumma tsabbit qalbii ‘alaa diinik
Adab Berdoa di Hari Arafah
Agar doa semakin bermakna, beberapa adab berikut sangat dianjurkan:
- Menghadap kiblat saat berdoa
- Mengangkat tangan dengan penuh kerendahan hati
- Memperbanyak tahlil, zikir, dan istighfar
- Mengawali doa dengan pujian kepada Allah dan sholawat
- Berdoa dengan khusyuk serta penuh keyakinan
- Memanfaatkan waktu dari zawal hingga matahari terbenam tanpa menyia-nyiakan momen
Hari Arafah adalah kesempatan langka yang datang hanya sekali dalam setahun. Baik jamaah yang berada di Padang Arafah maupun umat Muslim di seluruh dunia, semuanya dapat meraih keutamaan hari ini dengan memperbanyak doa dan mendekat kepada Allah.
Manfaatkan setiap menitnya, karena doa di hari Arafah adalah salah satu doa terbaik yang pernah dijanjikan.***
ARTIKEL25/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Banyak umat muslim bertanya, “Kalau tidak puasa Tarwiyah, apa boleh puasa Arafah?” Pertanyaan ini wajar muncul setiap memasuki bulan Zulhijah, terutama menjelang hari-hari istimewa bagi umat Islam. Jawabannya adalah boleh. Seorang muslim tetap dapat melaksanakan puasa Arafah meskipun sebelumnya tidak menjalankan puasa Tarwiyah.
Puasa Tarwiyah yang biasanya dikerjakan pada tanggal 8 Zulhijah merupakan amalan sunnah yang cukup populer di tengah masyarakat. Meskipun demikian, sebagian ulama menilai bahwa hadis-hadis yang secara khusus menjelaskan keutamaan puasa tersebut tidak berada pada derajat yang kuat atau sahih.
Meski begitu, bukan berarti puasa Tarwiyah tidak boleh dilakukan. Umat muslim tetap diperkenankan berpuasa pada tanggal tersebut karena adanya hadis umum yang menjelaskan keutamaan beramal saleh di awal bulan Zulhijah, termasuk berpuasa.
Situs jatim.nu.or.id pernah menampilkan hadis yang sering dijadikan dasar anjuran untuk berpuasa pada awal Zulhijah. Dalam hadis tersebut disebutkan:
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari pada awal Dzulhijjah, pada hari 'Asyura' (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya.” (HR. Abu Daud No. 2437)
Hadis ini menjadi landasan bagi umat muslim untuk memperbanyak ibadah pada sembilan hari pertama Zulhijah, termasuk menjalankan puasa Tarwiyah. Walaupun tidak memiliki dalil khusus yang kuat, amalan ini tetap termasuk ibadah sunnah yang diberi keleluasaan untuk dikerjakan.
Berbeda dengan puasa Tarwiyah, puasa Arafah memiliki dalil yang lebih kuat serta dikenal memiliki keutamaan besar, khususnya bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Keutamaan tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu. (HR. Muslim No. 1162)
Melalui hadis tersebut, jelas bahwa puasa Arafah memiliki nilai pahala yang sangat istimewa. Karena itu, walaupun seseorang tidak sempat melakukan puasa Tarwiyah, ia tetap sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.
Baik puasa Tarwiyah maupun puasa Arafah sama-sama termasuk ibadah sunnah. Artinya, amalan ini tidak diwajibkan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Namun, siapa pun yang mengerjakannya tentu akan mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah SWT.***
ARTIKEL22/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Keutamaan Puasa Arafah Lengkap dengan Doa dan Cara Mengamalkannya
Menjelang datangnya Idul Adha 2026, umat Islam di seluruh dunia kembali mempersiapkan diri untuk menyambut bulan penuh keberkahan. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, dua puasa yang memiliki nilai spiritual tinggi dan membawa berbagai keutamaan bagi yang mengamalkannya.
Khususnya, puasa Arafah yang dikerjakan pada 9 Dzulhijjah, menjadi momen istimewa yang diyakini mampu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Secara umum, puasa Arafah diawali dengan membaca niat. Puasa ini berada dalam rentetan amalan sunnah yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah hari-hari yang digambarkan sebagai hari paling mulia dalam setahun.
Sebelum memasuki tanggal 9 Dzulhijjah, umat Muslim biasanya melaksanakan puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, lalu meneruskannya dengan puasa Arafah keesokan harinya.
Niat Puasa Arafah
Berikut bacaan niat puasa Arafah yang dianjurkan:
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta'ala
(Aku niat puasa sunah Arafah karena Allah Ta'ala).
Idealnya, niat dibacakan pada malam hari hingga sebelum fajar. Setelah itu, umat Muslim dapat melanjutkan dengan sahur, salat Subuh, dan menyiapkan diri untuk menjalani puasa hingga waktu berbuka. Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Puasa Arafah memiliki keutamaan besar, dan berikut beberapa di antaranya:
1. Mendapat Ampunan Dosa
Puasa Arafah menjadi kesempatan emas untuk meraih ampunan Allah SWT. Disebutkan bahwa puasa Tarwiyah menghapus dosa satu tahun, sedangkan puasa Arafah menghapus dosa dua tahun: satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. Selain itu, doa yang dipanjatkan pada hari Arafah juga memiliki peluang besar untuk dikabulkan, karena bertepatan dengan waktu wukuf para jamaah haji di Padang Arafah.
2. Mendapat Pahala Berlimpah
Amalan sunnah yang dilakukan dalam 10 hari pertama Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah, dibalas dengan pahala berlipat ganda.
3. Seperti Puasa Dua Tahun Penuh
Terdapat hadits yang menyebutkan bahwa puasa Tarwiyah seperti puasa setahun penuh, dan puasa Arafah seperti berpuasa selama dua tahun penuh.
4. Berbuat Baik di Hari Istimewa
Karena 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari terbaik dalam setahun, segala amal saleh yang dilakukan di dalamnya memiliki nilai kebaikan yang berlipat ganda.
Cara pelaksanaannya sama seperti puasa sunnah lainnya:
- Membaca niat puasa Arafah pada malam hari atau sebelum fajar.
- Makan sahur untuk mendapatkan keberkahan dan kekuatan selama berpuasa.
- Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri.
- Berbuka saat matahari terbenam atau memasuki waktu Magrib.
Puasa Arafah menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena mengandung banyak keutamaan dan keberkahan. Dengan memahami niat, keutamaan, dan tata caranya, umat Muslim dapat mempersiapkan diri lebih baik dalam menyambut Idul Adha 2026.
Semoga amalan kita diterima Allah SWT dan membawa keberkahan bagi kehidupan.***
ARTIKEL22/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Pelaksanaan Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Lengkap dengan Niat
Menjelang tibanya Hari Raya Idul Adha 2026, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menyambut bulan penuh keberkahan dengan memperbanyak amal ibadah. Dua ibadah sunnah yang paling dianjurkan adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, yang memiliki jadwal pelaksanaan berbeda serta penuh makna spiritual. Keduanya menjadi momen penting yang selalu dinantikan karena menghadirkan limpahan pahala dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Pada tahun 2026, puasa Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah 1447 H, sementara puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah 1447 H, yakni satu hari sebelum Idul Adha. Penamaan Tarwiyah memiliki sejarah panjang yang merujuk pada kebiasaan para jamaah haji di masa lampau.
Saat itu, mereka mengisi persediaan air Zamzam sebagai bekal perjalanan menuju Arafah dan Mina. Air ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk hewan tunggangan mereka sepanjang perjalanan ibadah haji.
Niat dan Tata Cara Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah termasuk puasa sunnah yang sangat dianjurkan karena keutamaannya yang besar. Adapun bacaan niat puasa Tarwiyah adalah:
“Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta'aalaa.”
Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah hari Tarwiyah karena Allah Ta'ala.”
Tata cara pelaksanaannya tidak berbeda dengan puasa sunnah lainnya, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Yang membedakan hanyalah hari pelaksanaannya, yakni secara khusus pada tanggal 8 Zulhijah.
Jika dilaksanakan di luar tanggal tersebut, puasa ini tidak lagi disebut sebagai puasa Tarwiyah.
Puasa Arafah dan Waktu Pelaksanaannya
Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah, bertepatan dengan waktu wukuf bagi jamaah haji di Padang Arafah. Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, puasa Arafah menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan luar biasa, termasuk pengampunan dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang.
Momentum puasa Arafah erat kaitannya dengan rukun haji yang paling utama, yaitu wukuf di Arafah. Pada hari tersebut, jamaah haji berkumpul mengenakan pakaian ihram, berdiri di Padang Arafah sebagai simbol ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Adapun bacaan niat puasa Arafah adalah:
“Nawaitu shauma ‘arafata sunnatal lillaahi ta'aalaa.”
Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah hari Arafah karena Allah Ta'ala.”
Dengan memahami jadwal, tata cara, dan bacaan niat di atas, umat Islam dapat mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Idul Adha 2026 dengan lebih baik.
Semoga puasa Tarwiyah dan Arafah yang dikerjakan tahun ini menjadi amal terbaik dan membawa keberkahan bagi setiap yang melaksanakannya.***
ARTIKEL21/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Keutamaan Sedekah di Bulan Dzulhijjah: Dilipatgandakan Pahala Amal Ibadah
Bulan Dzulhijjah selalu menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain dikenal sebagai bulan pelaksanaan ibadah haji dan kurban, bulan ini juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh, termasuk bersedekah.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa amalan kebaikan yang dilakukan pada hari-hari pertama Dzulhijjah memiliki nilai pahala yang sangat besar dan lebih dicintai oleh Allah SWT. Tidak mengherankan bila banyak umat Islam memanfaatkan bulan penuh kemuliaan ini untuk berlomba-lomba menebar kebaikan.
Sedekah sendiri merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena memiliki banyak keutamaan dan manfaat. Ketika dilakukan pada bulan Dzulhijjah, sedekah menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan hari-hari yang diberkahi, termasuk sepuluh hari pertamanya yang disebut sebagai waktu paling utama untuk memperbanyak ibadah.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menegaskan keutamaan luar biasa dari amalan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Beliau bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah, sebagai bagian dari amal saleh, akan mendapatkan ganjaran yang lebih besar jika dilakukan di waktu tersebut.
Allah SWT juga menggambarkan betapa besarnya ganjaran bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan kebaikan. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 disebutkan bahwa sedekah dapat dilipatgandakan hingga ratusan kali, seperti benih yang tumbuh menjadi tujuh bulir dengan seratus biji pada setiap bulirnya.
Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap sedekah yang kita keluarkan tidak akan sia-sia, bahkan akan mendatangkan pahala berlipat yang hanya Allah yang menentukan kadarnya.
Bagi mereka yang belum mampu berkurban, sedekah juga menjadi alternatif ibadah bernilai tinggi pada bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak mampu berkurban, maka hendaklah ia memperbanyak sedekah.” Hal ini menegaskan bahwa setiap Muslim tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pahala besar di bulan mulia ini.
Selain sebagai ibadah, sedekah juga menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah SWT. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru akan menambah keberkahan. Sedekah juga dapat menghapus dosa, sebagaimana air memadamkan api, serta memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi pelakunya.
Untuk memudahkan masyarakat dalam menyalurkan sedekah, BAZNAS Kota Semarang kini menyediakan layanan sedekah online yang cepat, mudah, dan transparan. Anda dapat langsung menunaikan sedekah melalui laman resmi berikut:
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Demikian ulasan mengenai keutamaan sedekah di bulan Dzulhijjah 2026. Semoga menjadi pengingat untuk terus menebar kebaikan di bulan penuh berkah ini.***
ARTIKEL20/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa Dzulhijjah 2026 Lengkap dengan Arab Latin dan Terjemahannya
Simak selengkapnya pada artikel ini untuk temukan informasi terkait bacaan niat puasa dzulhijjah yang sudah berlangsung sejak tanggal 18 Mei 2026 kemarin.
Dzulhijjah adalah bulan ke 12 dan terakhir dalam kalender Hijriah yang sering dikenal dengan bulan ibadah haji serta kurban. Sepuluh hari pertama di bulan ini menjadi salah satu hari-hari yang dimuliakan, sehingga dianjurkan untuk melaksanakan kesunnahannya seperti halnya melaksanakan puasa.
Puasa di bulan Dzulhijjah dilaksanakan selama 10 hari lamanya, yakni mulai tanggal 1-10 Dzulhijjah yang mana 2 harinya termasuk Tarwiyah dan Arafah, sehingga untuk melaksanakan puasa terdapat pebedaan niat yang perlu Anda ketahui.
Agar tidak terjadi kesalahan dalam melafalkan niat puasa dzulhijjah, Anda dapat simak selengkapnya pada artikel ini.
Dilansir dari laman NU Online, berikut bacaan niat puasa 1-7 Dzulhijjah, lengkap dengan puasa 8 Dzulhijjah (tarwiyah) dan puasa 9 Dzulhijjah yakni arafah:
1. Niat Puasa 1-7 Dzulhijjah
Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an ada'i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta'ala.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta'âlâ."
2. Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)
Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an ada'i tarwiyata sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah ta'âlâ."
3. Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an ada'i arafata sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah ta'âlâ."
Demikian informasi mengenai niat puasa Dzulhijjah 1447 H yang dapat Anda lafalkan ketika hendak melaksanakan kesunnah di bulan penuh berkah ini.***
ARTIKEL20/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
3 Hikmah Idul Adha 2026: Makna Mendalam di Balik Pengorbanan dan Kepedulian Sosial
Menjelang datangnya Idul Adha 2026, umat Islam di seluruh dunia kembali diingatkan pada rangkaian ibadah yang sarat makna dan penuh nilai spiritual. Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, melainkan momen besar untuk meneguhkan kembali makna keikhlasan, ketaatan, serta kepedulian sosial.
Dalam artikel ini, kita akan membahas tiga hikmah Idul Adha yang perlu direnungkan agar ibadah kurban membawa manfaat lahir dan batin.
Sebelum memasuki inti pembahasan, penting untuk memahami bahwa nilai utama Idul Adha tidak hanya terletak pada ritualnya. Di balik prosesi kurban, terkandung pelajaran hidup yang mampu membentuk karakter seorang Muslim agar semakin dekat dengan Allah SWT dan semakin peka terhadap sesama.
Oleh karena itu, memahami hikmah Idul Adha menjadi bagian penting dalam menyempurnakan makna ibadah.
1. Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Hikmah Idul Adha yang paling utama adalah kisah monumental tentang ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi simbol kepasrahan dan kepatuhan total terhadap perintah Allah SWT, bahkan saat perintah tersebut terasa sangat berat dan sulit diterima secara logika manusia. Perintah penyembelihan seorang anak oleh ayahnya sendiri bukanlah perkara mudah, tetapi keduanya menunjukkan keteguhan iman yang sempurna.
Dalam keseharian, hikmah ini mengajarkan bahwa keimanan harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Ujian hidup yang kita hadapi sering kali membutuhkan “pengorbanan” dalam bentuk kesabaran, kejujuran, dan kemampuan menahan hawa nafsu. Idul Adha mengingatkan bahwa ketaatan kepada Allah adalah prioritas utama di atas kepentingan duniawi.
Selain itu, kisah Nabi Ibrahim juga menjadi teladan tentang keikhlasan. Beliau tidak memperdebatkan perintah Allah, tetapi melaksanakan dengan hati yang berserah penuh. Inilah makna mendalam yang menjadi fondasi ibadah kurban: penyembelihan ego, kesombongan, dan keinginan duniawi agar hati kembali bersih.
2. Menghadirkan Keikhlasan dalam Setiap Ibadah
Keikhlasan merupakan hikmah penting dari perayaan Idul Adha. Dalam proses berkurban, Allah SWT menekankan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging maupun darah hewan, melainkan ketakwaan dan niat tulus pelakunya. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Hajj ayat 37, yang menegaskan bahwa nilai spiritual kurban terletak pada niat.
Hikmah ini mengingatkan bahwa setiap amal ibadah harus dilandasi oleh keikhlasan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menerapkannya dengan berbuat baik tanpa berharap pujian. Sikap ikhlas akan melahirkan ketenangan hati dan menjauhkan kita dari sifat riya. Idul Adha menjadi momentum pelatihan spiritual untuk menjaga kemurnian niat dalam setiap tindakan.
3. Menguatkan Solidaritas dan Kepedulian Sosial
Salah satu nilai paling terasa dari Idul Adha adalah tumbuhnya semangat berbagi. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar menjadi simbol bahwa Islam mengajarkan keadilan sosial. Dalam momen ini, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin karena semua merasakan nikmat yang sama.
Hikmah Idul Adha juga menegaskan bahwa sebagian harta yang kita miliki merupakan hak orang lain. Dengan berbagi, umat Islam mempererat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan sosial. Momentum Idul Adha pun menjadi ajang untuk menghadirkan empati dan memperkuat kebersamaan dalam masyarakat.
Lebih dari sekadar ritual, aktivitas berbagi daging kurban menunjukkan bahwa Idul Adha adalah waktu untuk memperkokoh hubungan antar manusia.
Ibadah ini tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga membangun harmoni sosial yang saling menguatkan.
Idul Adha 2026 menjadi kesempatan bagi kita untuk memperdalam makna pengorbanan, memperkuat keikhlasan, dan meningkatkan kepedulian.
Dengan memahami hikmah-hikmah ini, diharapkan umat Islam dapat memaknai ibadah kurban tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai pedoman hidup yang membawa keberkahan.
Bagi Anda yang ingin melaksanakan qurban dengan mudah, cepat dan pendistribusian transparan dapat salurkan juga melalui BAZNAS Kota Semarang. Cukup dengan klik link berikut ini yang tersedia di laman kantor digital BAZNAS Kota Semarang.
https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah
Caranya dengan pilih jenis dana qurban dan ikuti beberapa langkah yang tersedia.
Demikian informasi mengenai 3 hikmah Idul Adha 2026 yang dapat Anda ketahui.***
ARTIKEL19/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bolehkah Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dengan Qadha Ramadhan? Ini Penjelasan Lengkap dengan Niatnya
Bulan Dzulhijjah sudah tiba, mulai tanggal 18 Mei 2026 seluruh umat Islam disunnahkan untuk melakukan puasa sunnah untuk menyambut datangnya bulan penuh keberkahan ini. Seperti kita ketahui, saat bulan dzulhijjah datang, kita dianjurkan melaksanakan puasa sunnah 10 hari hingga menjelang datangnya tarwiyah dan arafah.
Akan tetapi, terkadang ada pula yang ingin melaksanakan puasa sunnah tersebut namun belum menyelesaikan qadha puasa Ramadhan di tahun ini. Lantas, apakah boleh menggabungkan keduanya?
Untuk mengetahui jawabannya, Anda dapat simak penjelasannya pada artikel ini lengkap dengan niat.
Apakah boleh menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Dzulhijjah?
Mengutip penjelasan MUI Digital, seseorang dibolehkan melaksanakan puasa qadha Ramadhan bertepatan dengan hari-hari sunnah di bulan Dzulhijjah. Artinya, ketika ia berpuasa untuk mengganti kewajiban Ramadhan, ia tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah Dzulhijjah.
Pandangan ini juga selaras dengan fatwa Imam Al-Barizi yang dinukil oleh Syekh Abu Bakr Syatha Ad-Dimyathi. Dalam penjelasannya, beliau menyebut bahwa puasa di hari-hari yang memiliki keutamaan khusus secara otomatis menghadirkan pahala puasa sunnah, meskipun seseorang hanya berniat mengerjakan puasa wajib seperti qadha Ramadhan.
Namun, laman NU Online menyarankan bahwa bagi seseorang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, lebih baik mendahulukan puasa wajib. Tetapi jika teringat mendekati hari-hari dianjurkannya puasa Dzulhijjah, maka qadha Ramadhan bisa dilakukan pada saat itu agar mendapatkan dua pahala sekaligus.
Buya Yahya juga menegaskan hal serupa dalam kajiannya di Al-Bahjah TV. Menurut beliau, puasa wajib harus didahulukan dan tidak boleh digabungkan niatnya. Niat puasa qadha harus berdiri sendiri, sementara pahala puasa sunnah akan otomatis mengikuti karena dilakukan di hari-hari yang utama.
Puasa Dzulhijjah dianjurkan dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Berikut niatnya:
1. Niat Puasa 1–7 Dzulhijjah:
“Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillaahi ta’aala.”
Artinya: “Aku berniat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah):
“Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta’aala.”
Artinya: “Saya berniat puasa Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
3. Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah):
“Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillaahi ta’aala.”
Artinya: “Aku berniat puasa Arafah karena Allah Ta’ala.”
Dengan memahami hukum dan tata caranya, umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di bulan Dzulhijjah dengan penuh kesadaran dan keutamaan. Semoga ibadah kita diterima dan diberkahi Allah SWT.***
ARTIKEL18/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kurban sebagai Kritik terhadap Kapitalisme Modern
Di tengah dunia yang diwarnai ketimpangan dan ketidakadilan distribusi kekayaan yang mendorong manusia untuk terus memiliki, menumpuk, dan mengakumulasi kekayaan, ibadah kurban hadir dengan logika yang berlawanan. Ia tidak mengajarkan bagaimana memperoleh, tetapi bagaimana mengikhlaskan.
Dalam sistem kapitalisme, orang bebas mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Itu tidak salah. Justru dianggap wajar, bahkan didorong. Distribusi? Ya, diserahkan ke pasar. Siapa punya akses, dia dapat. Tapi kurban tidak berjalan dengan logika itu. Di momen kurban, harta yang kita punya tidak lagi dipertahankan, tapi dilepas. Dan pelepasannya juga tidak acak, sudah jelas arahnya kepada orang yang membutuhkan.
Ada satu ayat cukup menampar cara berpikir kita, yaitu Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 37. Intinya sederhana: bukan daging atau darah yang sampai kepada Allah, tapi ketakwaan. Artinya adalah yang dilihat bukan output fisiknya, tapi proses batinnya. Ini menarik, karena berarti kurban itu sebenarnya lebih banyak bekerja di dalam diri manusia, bukan di luar.
Yang membuat kurban unik adalah posisinya yang tidak wajib, namun juga tidak bisa dianggap enteng. Kalau pajak, jelas diwajibkan setiap individu. Kalau sedekah, adalah kesukarelaan. Tapi kurban? Sunnah, tapi ada dorongan moral yang cukup kuat, apalagi kalau kita mampu.
Dan anehnya, justru dari situ muncul distribusi yang nyata. Tidak ada negara yang memaksa. Tidak juga sepenuhnya diatur pasar. Tapi setiap tahun, dalam waktu yang sangat singkat, daging bisa tersebar ke banyak orang.
Kurban memang tidak menyelesaikan masalah itu secara total. Tapi setidaknya, ia memberikan kehangatan di setiap rumah kaum muslimin, walaupun sederhana. Orang yang punya kemampuan membeli hewan kurban. Lalu dagingnya dibagikan. Ini merupakan proses yang tidak rumit, namun memiliki dampak yang nyata
Di dunia yang terus mendorong kita untuk mengambil sebanyak-banyaknya. Kurban berfungsi sebagai ”rem” manusia selalu mengikhlaskan apa yang diperoleh. Kurban adalah ritual tahunan, untuk selalu mengingat di sekeliling kita.
ARTIKEL18/05/2026 | Humas BAZNAS Kota Semarang
Kurban sebagai Instrumen Peningkatan Gizi Indonesia
Kalau kita bicara soal gizi di Indonesia, sering kali yang dibahas itu angka stunting, malnutrisi, atau kekurangan protein. Tapi kalau ditarik ke level yang lebih sederhana, masalahnya sebenarnya cukup konkret, tidak semua orang bisa makan makanan bergizi secara rutin, terutama protein hewani.
Daging, misalnya. Secara teori, semua orang tahu itu penting. Tapi dalam praktiknya, tidak semua keluarga bisa mengaksesnya dengan mudah. Harganya relatif mahal, dan dalam banyak kasus, bukan jadi prioritas utama.
Masalah gizi sering kali bukan soal tidak ada makanan, tapi soal kualitas. Karbohidrat mungkin cukup, tapi protein? Belum tentu. Padahal, protein hewani punya peran penting dalam:
pertumbuhan
perbaikan jaringan tubuh
perkembangan otak
Sayangnya, akses terhadap sumber protein seperti daging masih terbatas bagi sebagian masyarakat. Akhirnya, konsumsi protein jadi tidak optimal. Dalam beberapa hari, distribusi daging terjadi dalam skala besar. Orang-orang yang mungkin jarang, bahkan hampir tidak pernah makan daging, tiba-tiba mendapatkannya.
Kalau dipikir-pikir, ini menarik. Karena dalam sistem normal, distribusi pangan sangat bergantung pada daya beli. Tapi dalam kurban, logika itu berubah. Akses tidak lagi ditentukan oleh kemampuan ekonomi, tapi oleh mekanisme sosial dan keagamaan.
Dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 36, ada anjuran untuk makan sebagian daging kurban dan membagikannya kepada yang membutuhkan. Artinya, sejak awal kurban memang tidak dimaksudkan berhenti pada individu, namun kepada orang yang membutuhkan.
Pada akhirnya, kurban memang bukan jawaban atas semua masalah gizi. Tapi dalam ibadah, ada potensi yang sering kali belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ia mengingatkan bahwa akses terhadap makanan bergizi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal kepedulian.
ARTIKEL13/05/2026 | Humas BAZNAS Kota Semarang
Ketahui! Ini Waktu Terbaik untuk Melakukan Penyembelihan Kurban sesuai Syariat Islam
Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia bersiap melaksanakan dua amalan utama: salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. Ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan disempurnakan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, memahami waktu penyembelihan kurban menjadi sangat penting agar ibadah yang dilakukan benar-benar sah sesuai syariat.
Dalam Islam, kurban tidak bisa dilakukan sembarangan. Keabsahan kurban tidak hanya ditentukan oleh jenis hewan atau niat, tetapi juga waktu penyembelihan. Jika penyembelihan dilakukan di luar waktu yang telah ditetapkan, maka hewan tersebut tidak dianggap sebagai kurban, melainkan hanya sembelihan biasa. Inilah sebabnya pengetahuan tentang batas waktu penyembelihan kurban menjadi hal yang wajib dipahami setiap Muslim.
Berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW, waktu penyembelihan kurban dimulai setelah salat Idul Adha selesai pada tanggal 10 Dzulhijjah. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Al-Barra' bin Azib, bahwa siapa pun yang menyembelih sebelum salat Id, maka sembelihannya tidak sah sebagai kurban. Mayoritas ulama sepakat bahwa penyembelihan baru bisa dilakukan setelah matahari terbit dan salat Id selesai dilaksanakan, kira-kira 15 menit setelah terbit matahari.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menegaskan bahwa penyembelihan yang dilakukan sebelum waktu tersebut harus diulang. Bahkan, jika seseorang menyembelih satu menit lebih awal sebelum salat Id dimulai, ibadah itu tidak sah sebagai kurban. Untuk lebih berhati-hati, para ulama menganjurkan agar penyembelihan dilakukan setelah rangkaian khutbah Idul Adha selesai.
Selain mengetahui kapan dimulai, batas akhir waktu penyembelihan juga tidak boleh diabaikan. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menetapkan bahwa waktu penyembelihan berlangsung selama empat hari, yaitu 10 hingga 13 Dzulhijjah. Artinya, penyembelihan dapat dilakukan pada hari raya dan tiga hari tasyrik.
Meski begitu, ada pendapat Imam Malik yang membatasi sampai tanggal 12 Dzulhijjah. Namun, pandangan yang membolehkan hingga tanggal 13 lebih banyak diamalkan karena dianggap memberi kelonggaran bagi umat. Yang penting, penyembelihan harus dilakukan sebelum matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah.
Walaupun hari tasyrik adalah waktu yang sah, beberapa ulama menyebut menyembelih pada malam hari sebagai makruh. Alasannya, minimnya pencahayaan dapat menyebabkan proses penyembelihan kurang optimal dan berisiko terhadap kebersihan.
Namun, secara hukum, kurban yang disembelih pada malam hari tetap sah selama masih dalam tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Waktu terbaik adalah pagi hari setelah salat Id, karena memungkinkan distribusi daging dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Memahami waktu penyembelihan kurban adalah bagian penting dari kesempurnaan ibadah Idul Adha. Dengan memastikan waktu dimulai setelah salat Id dan berakhir sebelum 13 Dzulhijjah terbenam, Muslim dapat melaksanakan kurban dengan benar, sah, dan maksimal pahalanya.
Semakin tepat waktu pelaksanaannya, semakin sempurna pula nilai ibadah yang dikerjakan.***
ARTIKEL13/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Keistimewaan Bulan Dzulhijjah: Momentum Emas untuk Meraih Pahala Berlipat
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan suci dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Sebagai bulan kedua belas dalam penanggalan Islam, Dzulhijjah menjadi waktu penting pelaksanaan ibadah haji dan hari raya Iduladha. Dua ibadah agung ini menjadikan Dzulhijjah sebagai bulan penuh keberkahan, peluang amal, serta kesempatan besar untuk meraih pahala yang berlipat ganda.
Dalam artikel ini, kita akan membahas keutamaan Dzulhijjah, amalan yang dianjurkan, serta makna spiritual yang terkandung di dalamnya.
Dzulhijjah termasuk dalam empat bulan suci (asyhurul hurum) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36. Kemuliaan bulan ini semakin jelas dengan adanya ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima. Jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah SWT, menjadikan Dzulhijjah sebagai simbol persatuan dan ketakwaan.
Salah satu keutamaan terbesar bulan ini terletak pada sepuluh hari pertamanya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti puasa, dzikir, sedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya.
Tanggal 9 Dzulhijjah menjadi puncak pelaksanaan haji, yaitu wukuf di Arafah. Bagi yang tidak berhaji, puasa Arafah adalah amalan utama dengan keutamaan besar, yakni menghapus dosa setahun lalu dan setahun mendatang. Sementara itu, tanggal 10 Dzulhijjah ditandai dengan hari raya Iduladha dan ibadah kurban sebagai wujud keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Tidak hanya ibadah haji dan kurban, bulan ini juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak sedekah, dzikir, takbir, hingga mempererat silaturahmi. Setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai pahala yang tinggi, sehingga umat Islam sangat dianjurkan memanfaatkan setiap harinya.
Secara spiritual, Dzulhijjah mengajarkan makna mendalam tentang keikhlasan dan pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan bagaimana ketaatan sejati membawa keberkahan besar. Di bulan ini pula, umat Islam diajak memperkuat rasa syukur, kepedulian, serta kebersamaan dengan berbagi kepada yang membutuhkan.
Dengan memahami keutamaan dan amalan utama di bulan Dzulhijjah, umat Islam dapat memanfaatkan waktu istimewa ini dengan maksimal.
Setiap ibadah yang dilakukan menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba-Nya. Bulan Dzulhijjah adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan.***
ARTIKEL12/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Amalan Utama 10 Hari Pertama Dzulhijjah: Kesempatan Emas Meraih Pahala Berlipat
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa bagi umat Muslim. Dalam berbagai riwayat, periode ini disebut sebagai hari-hari terbaik dalam setahun untuk memperbanyak amal kebaikan. Tidak heran, banyak ulama menekankan pentingnya memanfaatkan momen ini untuk beribadah sebanyak mungkin, karena setiap amalan memiliki nilai pahala yang berlipat ganda.
Berikut rangkaian amalan utama di 10 hari pertama Dzulhijjah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan.
Salah satu ibadah yang paling dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah mulai tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Puasa pada hari-hari ini termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah. Selain sebagai bentuk ketaatan, puasa ini juga melatih diri untuk tetap taat dan bersabar dalam menjalani aktivitas harian. Dari semua hari tersebut, ada satu hari yang memiliki kedudukan paling istimewa, yakni Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Rasulullah SAW menerangkan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Keutamaan besar inilah yang membuat umat Muslim di seluruh dunia berlomba-lomba menjalankan amalan tersebut.
Amalan lain yang sangat dianjurkan selama 10 hari pertama ini adalah memperbanyak dzikir. Ucapan takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih sangat dianjurkan untuk dilafalkan baik secara individu maupun berjamaah. Takbir khususnya diperbanyak dari tanggal 1 hingga 13 Dzulhijjah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
Tradisi mengumandangkan takbir juga menjadi penyemangat bagi umat Muslim untuk menambah keimanan dan ketakwaan.
Tak kalah penting, bagi yang memiliki kemampuan dianjurkan untuk menunaikan ibadah qurban pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Menyembelih hewan qurban merupakan bentuk syukur dan pendekatan diri kepada Allah.
Ibadah ini juga menjadi sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, qurban menjadi salah satu amalan paling dicintai Allah pada hari raya Idul Adha.
Selain itu, umat Muslim juga dianjurkan untuk meningkatkan amal shaleh lainnya seperti memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak perbuatan baik dalam keseharian. Semua amal kebaikan pada 10 hari ini memiliki nilai pahala yang besar.
Tidak kalah pentingnya adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar, agar hati dibersihkan dari dosa dan kembali kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
Bagi umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah, 10 hari pertama Dzulhijjah tentu menjadi momen yang sangat bermakna. Seluruh rangkaian ibadah tersebut merupakan bentuk penyempurnaan dalam menggapai ridha Allah SWT.
Dengan penuh keutamaan di dalamnya, sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala berlipat. Semoga kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.***
ARTIKEL11/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Semarang.
Lihat Daftar Rekening →