WhatsApp Icon
Mengapa Muharram Disebut dengan Hari Penting? Kenali Makna dan Sejarahnya

Memasuki bulan Muharram, umat Islam di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang, bersiap menyambut Tahun Baru Hijriah yang menjadi salah satu momen penting dalam kalender Islam. Tidak sekadar pergantian tahun, Muharram menyimpan sejarah panjang serta berbagai keutamaan yang menjadikannya sebagai salah satu bulan paling mulia dalam ajaran Islam.

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah atau kalender Qamariyah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia. Kehadiran bulan ini menandai dimulainya tahun baru Islam yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1 Muharram.

Bagi masyarakat Muslim di Semarang, momentum Muharram kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari doa bersama, pengajian, santunan anak yatim, hingga refleksi diri untuk menyambut tahun baru dengan semangat yang lebih baik.

Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci yang dikenal sebagai Al Asyhur Al Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai kebaikan.

Keistimewaan Muharram juga disebutkan dalam berbagai hadis. Rasulullah SAW bahkan menyebut puasa terbaik setelah bulan Ramadhan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram.

Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah Puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Banyak ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut memiliki keutamaan besar, termasuk menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang telah lalu atas izin Allah SWT. Karena itu, Muharram sering dianggap sebagai momentum terbaik bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memulai lembaran baru kehidupan yang lebih baik.

Di balik peringatan Tahun Baru Islam, terdapat sejarah penting mengenai lahirnya kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.

Dikutip dari berbagai riwayat yang juga dijelaskan dalam literatur Islam, penetapan kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA sekitar tahun ke-17 Hijriah.

Kala itu, Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa Al-Asy'ari RA. Namun surat tersebut tidak mencantumkan tanggal maupun waktu pengiriman sehingga menimbulkan kesulitan dalam administrasi pemerintahan.

Situasi tersebut mendorong Umar bin Khattab untuk mengumpulkan para sahabat dan tokoh penting Islam guna membahas perlunya sistem penanggalan resmi bagi umat Islam.

Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan untuk dijadikan titik awal kalender Islam, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau menjadi Rasul, tahun wafatnya Nabi, hingga peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, para sahabat akhirnya sepakat memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai awal penanggalan Islam. Usulan tersebut disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib RA dan diterima oleh para sahabat lainnya.

Sejak saat itu, kalender Islam dikenal sebagai kalender Hijriah, yang berasal dari kata "Hijrah" sebagai simbol perubahan, perjuangan, dan awal kehidupan baru bagi umat Islam.

Bagi warga Semarang dan umat Islam pada umumnya, datangnya bulan Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun. Lebih dari itu, bulan ini merupakan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Semangat hijrah yang menjadi dasar penetapan kalender Islam dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dengan memahami sejarah dan makna Muharram, umat Islam diharapkan dapat menyambut Tahun Baru Hijriah dengan penuh rasa syukur, optimisme, dan semangat memperbanyak amal kebaikan.***

18/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
Kapan 10 Muharram 1448 H? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Jadwal Puasa Sunnahnya

Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam di Indonesia kembali menyambut salah satu bulan yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Muharram menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus termasuk dalam empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, bulan Muharram juga identik dengan berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Salah satu amalan yang paling banyak dilakukan adalah Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Namun pada tahun 2026, terdapat perbedaan penetapan awal Muharram antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan tersebut membuat jadwal pelaksanaan Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura juga berbeda.

Karena itu, warga Semarang yang ingin menjalankan ibadah puasa sunnah di bulan Muharram perlu mengetahui jadwal sesuai dengan pedoman yang dianut masing-masing.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia serta Maklumat Muhammadiyah, 1 Muharram 1448 Hijriah ditetapkan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Dengan dasar tersebut, maka jadwal puasa sunnah Muharram adalah sebagai berikut:

- Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Rabu, 24 Juni 2026

- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026

Jadwal ini menjadi acuan bagi mayoritas umat Islam yang mengikuti ketetapan pemerintah maupun Muhammadiyah.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama melalui hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PBNU menetapkan bahwa hilal tidak terlihat pada 15 Juni 2026. Oleh sebab itu, bulan Zulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal.

Berdasarkan hasil tersebut, NU menetapkan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.

Dengan demikian, jadwal puasa sunnah versi NU adalah:

- Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026

- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Jumat, 26 Juni 2026

Perbedaan penetapan ini merupakan hal yang lazim terjadi dalam kalender Hijriah karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan, baik melalui hisab maupun rukyat.

Keutamaan Puasa Asyura yang Sayang Dilewatkan

Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa pada hari tersebut.

Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa salah satu keutamaan Puasa Asyura adalah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya.

Selain itu, Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram juga dianjurkan sebagai bentuk pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi yang pada masa Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura.

Bagi masyarakat Semarang yang ingin memperbanyak ibadah di bulan Muharram, puasa sunnah ini dapat menjadi salah satu amalan yang mudah dilakukan namun memiliki pahala yang besar. Dengan mengetahui jadwal yang tepat sesuai pedoman masing-masing, umat Islam dapat mempersiapkan diri sejak sekarang agar tidak melewatkan momentum ibadah yang hanya datang sekali dalam setahun tersebut.

Karena itu, pastikan untuk mencatat tanggal Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura 2026 sesuai versi yang Anda ikuti agar pelaksanaan ibadah berjalan dengan baik dan sesuai ketentuan.***

18/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa 1 hingga 10 Muharram 1448 H Lengkap dengan Artinya

Umat Islam kini telah memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, salah satu bulan mulia dalam kalender Islam yang memiliki banyak amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Salah satu ibadah yang paling dianjurkan selama bulan ini adalah puasa sunnah Muharram, termasuk Puasa Tasua dan Puasa Asyura yang memiliki keutamaan besar.

Bagi warga Semarang dan sekitarnya yang ingin menjalankan ibadah puasa sunnah Muharram, penting untuk mengetahui bacaan niat yang benar agar ibadah dapat dilaksanakan dengan baik sesuai tuntunan syariat.

Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa puasa di bulan Muharram merupakan puasa sunnah terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan. Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala.

Niat Puasa Muharram Tanggal 1-8 Muharram 1448 H

Puasa Muharram dapat dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga seterusnya di bulan Muharram. Namun, para ulama menjelaskan bahwa tidak dianjurkan berpuasa satu bulan penuh karena hal tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Berikut bacaan niat puasa sunnah Muharram:

Latin:

Nawaitu shauma asy-syahri al-muharrami sunnatan lill?hi ta'?l?.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah di bulan Muharam karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Tasua 9 Muharram

Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Puasa ini memiliki nilai istimewa karena menjadi pembeda antara umat Islam dan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Berikut bacaan niat Puasa Tasua:

Latin:

Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnatit Tasu'a lillâhi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a esok hari karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Asyura 10 Muharram

Sementara itu, Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Salah satu keutamaannya adalah dihapuskan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu, sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah riwayat sahih.

Berikut bacaan niat Puasa Asyura:

Latin:

Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnatil asyura lillahi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah Ta'ala."

Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Muharram?

Secara umum, niat puasa sunnah sebaiknya dibaca pada malam hari, yakni sejak setelah Magrib hingga sebelum terbit fajar. Namun karena termasuk puasa sunnah, terdapat keringanan bagi seseorang yang belum sempat berniat pada malam hari.

Seseorang masih diperbolehkan berniat setelah terbit fajar hingga sebelum waktu Zuhur, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, maupun aktivitas lain yang membatalkan puasa.

Berikut bacaan niat puasa Muharram yang dapat dibaca pada siang hari:

Latin:

Nawaitu shauma hadzal yaumi ada'i sunnati syahri Muharrami lillahi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa pada hari ini untuk menunaikan puasa sunnah bulan Muharam karena Allah Ta'ala."

Sedangkan untuk Puasa Tasua maupun Asyura yang diniatkan pada siang hari, bacaannya adalah:

Latin:

Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an ada'i sunnatit Tasu'a awil asyura lillâhi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a atau Asyura hari ini karena Allah Ta'ala."

Meski demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa niat yang dilakukan pada siang hari untuk Puasa Tasua dan Asyura tidak menjadikannya sebagai puasa satu hari penuh. Dalam pandangan tersebut, puasa tetap sah namun dihitung sebagai puasa sunnah mutlak.

Memasuki bulan Muharram 1448 H, umat Islam di Semarang diharapkan dapat memanfaatkan bulan yang penuh keberkahan ini dengan memperbanyak amal ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah Muharram, Tasua, dan Asyura sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.***

17/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
4 Amalan Sunnah di Bulan Muharram 1448 H, Lakukan untuk Menambah Keberkahan

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah segera tiba dan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memulai lembaran baru yang lebih baik. Bulan Muharram yang menandai awal kalender Hijriah dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia dalam Islam, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, datangnya bulan Muharram tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena keistimewaan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menghindari berbagai perbuatan yang dapat mengurangi pahala.

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Muharram 1448 Hijriah.

1. Memperbanyak Puasa Sunnah Muharram

Salah satu amalan yang paling dianjurkan pada bulan Muharram adalah menjalankan puasa sunnah. Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar setelah puasa Ramadan.

Puasa Tasu'a yang dilaksanakan pada 9 Muharram dan Puasa Asyura pada 10 Muharram menjadi amalan yang banyak dilakukan umat Islam. Selain mendapatkan pahala, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, mengendalikan diri, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Bagi warga Semarang yang memiliki aktivitas padat, puasa sunnah tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi kesehatan dan pekerjaan masing-masing.

2. Memperbanyak Sedekah dan Berbagi kepada Sesama

Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial. Berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari memberikan makanan, membantu tetangga yang kesulitan, hingga menyantuni anak yatim.

Di Kota Semarang sendiri, banyak kegiatan sosial yang biasanya digelar oleh masjid, komunitas, maupun lembaga kemanusiaan selama bulan Muharram. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mempererat solidaritas sekaligus menebar manfaat bagi sesama.

Selain membantu orang lain, sedekah juga diyakini menjadi jalan untuk membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.

3. Memperbanyak Dzikir dan Doa

Memasuki tahun baru Hijriah menjadi momen yang tepat untuk memperbanyak dzikir dan doa. Umat Islam dapat mengisi waktu dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dzikir dan doa tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga membantu memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Banyak umat Muslim memanfaatkan awal tahun Hijriah untuk memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan selama satu tahun ke depan.

4. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur'an

Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memulai kebiasaan membaca Al-Qur'an secara rutin. Tidak hanya membaca, umat Islam dianjurkan memahami makna ayat-ayat yang dibaca dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan sederhana seperti meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca Al-Qur'an dapat menjadi langkah awal menuju perubahan diri yang lebih baik sepanjang tahun.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan

Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, bulan Muharram juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan menghindari perselisihan merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Di tengah kesibukan masyarakat perkotaan seperti Semarang, menjaga komunikasi dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga menjadi hal yang penting. Hubungan yang harmonis dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan penuh keberkahan.

Muharram 1448 Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan memperbanyak ibadah, menjaga hubungan sosial, dan meningkatkan kualitas diri, tahun baru Islam dapat menjadi awal yang penuh keberkahan dan harapan baru.***

17/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Doa Awal dan Akhir Tahun 1448 H, Amalkan di Bulan Muharram

Umat Islam di Indonesia, termasuk warga Kota Semarang, akan menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah pada Senin sore, 15 Juni 2026. Momen pergantian tahun dalam kalender Hijriah ini menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk melakukan introspeksi diri sekaligus memperbanyak ibadah dan doa.

Berbeda dengan perayaan pergantian tahun Masehi yang identik dengan berbagai hiburan, Tahun Baru Islam lebih banyak diisi dengan kegiatan religius seperti pengajian, dzikir, muhasabah, hingga membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Tradisi ini masih banyak dijalankan oleh masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kota Semarang dan sekitarnya.

Doa akhir tahun dibaca sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir. Sementara itu, doa awal tahun dipanjatkan sebagai harapan agar diberikan keberkahan, perlindungan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan selama setahun ke depan.

Bagi masyarakat yang ingin mengamalkannya, doa akhir tahun biasanya dibaca menjelang berakhirnya bulan Zulhijah atau sebelum masuk waktu Maghrib yang menandai pergantian tahun Hijriah. Sedangkan doa awal tahun dibaca setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharram.

Dalam tradisi Islam, membaca doa akhir tahun bukan sekadar ritual tahunan. Doa ini mengandung permohonan ampun atas berbagai dosa yang mungkin dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja selama satu tahun terakhir.

Melalui doa tersebut, seorang Muslim diajak untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya, memperbaiki kesalahan, serta memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

Versi singkat doa akhir tahun yang banyak diamalkan berbunyi:

"Allaahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu wa lam atub minhu, wa halumta fiihaa 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii, wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa-atii 'alaa ma'shiyatik. Fa innistaghfartuka faghfir-lii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaa, wa wa'attanii 'alaihits tsawaaba, fa as-aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaa-ii minka yaa kariim."

Artinya:

Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."

Doa Awal Tahun 1 Muharram 1448 Hijriah

Selain doa akhir tahun, umat Islam juga dianjurkan membaca doa awal tahun setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharram.

Doa ini berisi harapan agar Allah SWT memberikan perlindungan dari godaan setan, menjaga diri dari perbuatan buruk, serta membimbing setiap langkah agar lebih dekat kepada-Nya.

Bacaan doa awal tahun yang umum diamalkan adalah:

"Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal 'azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Artinya: Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.

Melalui doa tersebut, umat Muslim berharap tahun baru yang datang menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memasuki tahun baru Hijriah, umat Islam diharapkan mampu meninggalkan kebiasaan buruk di masa lalu dan memulai lembaran baru yang lebih baik, penuh keberkahan, serta semakin dekat kepada Allah SWT.***

15/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan

Artikel Terbaru

Merasa Tertinggal  Mungkin Kamu Hanya Membandingkan
Merasa Tertinggal Mungkin Kamu Hanya Membandingkan
Pernah nggak sih kamu ngerasa kayak hidupmu jalan di tempat, sementara orang lain kayaknya terus maju? Buka media sosial, lihat teman sudah kerja mapan. Yang lain sudah punya usaha. Ada juga yang kelihatan hidupnya “jadi”. Di situ biasanya mulai muncul satu perasaan yang nggak enak: “Kok aku gini-gini aja ya?” Perasaan tertinggal itu nyata. Dan hampir semua orang pernah ngerasain. Tapi ada satu hal yang sering kita nggak sadar. Bisa jadi, kita merasa tertinggal bukan karena kita benar-benar lambat. Tapi karena kita terlalu sering membandingkan. Masalahnya, kita sering membandingkan “belakang layar” hidup kita dengan “highlight” hidup orang lain. Kita tahu semua perjuangan kita, semua kegagalan kita, semua keraguan kita. Tapi kita cuma lihat hasil akhir orang lain, tanpa tahu prosesnya. Akhirnya jadi nggak adil. Kita mulai merasa kurang, padahal mungkin kita sedang berjalan di jalur yang berbeda. Kita merasa gagal, padahal sebenarnya kita hanya belum sampai di titik yang sama. Setiap orang punya timeline hidup yang beda. Ada yang cepat di karier, tapi lambat di hal lain. Ada yang terlihat sukses dari luar, tapi lagi berjuang di dalam. Dan ada juga yang pelan, tapi justru lebih stabil. Masalahnya bukan di posisi kita. Tapi di cara kita melihat posisi orang lain. Semakin sering kita membandingkan, semakin kita kehilangan fokus terhadap hidup sendiri. Energi kita habis untuk melihat orang lain, bukan membangun diri sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, hidup ini bukan perlombaan. Nggak ada garis finish yang sama untuk semua orang. Nggak ada aturan umur sekian harus sudah jadi apa. Yang ada hanya proses masing-masing, dengan ritme yang berbeda. Bukan berarti kita nggak boleh punya standar atau keinginan untuk berkembang. Itu penting. Tapi ada bedanya antara termotivasi dan tertekan karena perbandingan. Kalau melihat orang lain membuat kita semangat, itu bagus. Tapi kalau malah bikin kita merasa tidak cukup, mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak. Coba tarik napas. Lihat lagi hidup kita sendiri. Mungkin kita memang belum sampai ke titik yang kita inginkan. Tapi bukan berarti kita tidak bergerak. Bisa jadi kita sedang membangun sesuatu yang tidak instan. Sesuatu yang butuh waktu. Dan itu tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang paling cepat. Tapi siapa yang tetap berjalan, meskipun pelan. Jadi kalau hari ini kamu merasa tertinggal, coba tanya lagi ke diri sendiri.nApakah kamu benar-benar tertinggal? Atau kamu hanya sedang melihat ke arah yang salah?
ARTIKEL09/04/2026 | Humas BAZNAS Kota Semarang
Perbedaan Infaq dan Sedekah: Pengertian, Waktu Pelaksanaan, dan Keutamaannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Perbedaan Infaq dan Sedekah: Pengertian, Waktu Pelaksanaan, dan Keutamaannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Memahami perbedaan antara infaq dan sedekah menjadi penting bagi setiap muslim, terutama dalam upaya memperluas kebaikan dan meningkatkan kepedulian sosial. Meski sering disatukan dalam istilah ZIS (Zakat, Infaq, Sedekah), keduanya memiliki makna, bentuk, serta waktu pelaksanaan yang berbeda. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mengenai perbedaan infaq dan sedekah, termasuk bagaimana dan kapan keduanya dapat dilakukan. Infaq: Mengeluarkan Harta Tanpa Batas Waktu dan Jumlah Infaq adalah amalan memberikan sebagian harta untuk kepentingan kebaikan, baik saat dalam kondisi lapang maupun sempit. Berbeda dari zakat yang memiliki syarat, batas nisab, dan golongan penerima tertentu, infaq bersifat sunnah dan tidak memiliki batas minimum. Jenis harta yang dikeluarkan pun tidak dibatasi, sehingga setiap orang dapat berinfaq sesuai kemampuan. Penerima infaq tidak harus terbatas pada delapan golongan mustahik. Siapa pun dapat menjadi penerima manfaat, seperti orang tua, kerabat, teman, tetangga, hingga lembaga pendidikan atau pembangunan fasilitas umum. Contoh infaq meliputi membantu renovasi masjid, menyalurkan dana untuk pendidikan anak yatim, memberikan bantuan bencana, hingga mendukung kegiatan dakwah. Keunggulan lainnya, infaq dapat dilakukan kapan saja. Tidak ada ketentuan waktu tertentu sehingga amalan ini sangat fleksibel dan dapat dilakukan setiap kali ada kesempatan berbuat baik. Sedekah: Amalan Luas yang Tak Selalu Berupa Uang Sedekah memiliki cakupan yang lebih luas dibanding infaq. Jika infaq umumnya dikaitkan dengan harta, maka sedekah bisa berupa apa saja yang membawa manfaat. Senyum, memberi nasihat baik, menolong orang lain, hingga menyingkirkan duri dari jalan, semuanya merupakan bentuk sedekah. Sedekah merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah adalah bukti keikhlasan hati dan kepedulian sosial yang tidak selalu membutuhkan materi. Perbedaan Inti antara Infaq dan Sedekah Infaq adalah amalan sunnah yang berfokus pada pemberian harta tanpa batas jumlah dan waktu. Sedekah bersifat lebih umum karena mencakup materi maupun non-materi. Keduanya memiliki nilai kebaikan besar dan membantu membangun masyarakat yang lebih berkeadilan, sejahtera, dan penuh kasih sayang. Cara Menyalurkan Infaq dan Sedekah Secara Resmi Anda dapat menyalurkan infaq dan sedekah melalui lembaga zakat terpercaya, salah satunya Baznas Kota Semarang. Penyaluran dapat dilakukan secara offline maupun online. Melalui tautan resmi https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah, Anda dapat memilih jenis dana dan melakukan pembayaran secara aman dan mudah. Demikian penjelasan lengkap terkait perbedaan infaq dan sedekah. Semoga membantu Anda lebih bijak dalam berbagi dan memperluas keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.***
ARTIKEL09/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Panduan Lengkap Zakat Hewan Ternak: Syarat, Nisab, dan Cara Menghitungnya
Panduan Lengkap Zakat Hewan Ternak: Syarat, Nisab, dan Cara Menghitungnya
Zakat hewan ternak merupakan salah satu bentuk zakat maal yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat muslim. Sebagai bagian dari zakat harta, zakat hewan ternak diwajibkan bagi para pemilik hewan yang menjadikannya sebagai aset usaha, seperti kambing, sapi, kerbau, maupun domba. Kewajiban ini bukan hanya bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana untuk membantu sesama dan menumbuhkan solidaritas sosial. Dilansir dari laman baznas.go.id, zakat hewan ternak diwajibkan ketika jumlah kepemilikan telah mencapai nisab atau batas minimal wajib zakat. Nisab ini berbeda-beda tergantung jenis hewan ternak, wilayah, serta ketentuan mazhab yang dianut. Perbedaan pendapat ulama juga mempengaruhi cara pembayaran zakat hewan ternak. Mazhab Syafi’i, misalnya, menegaskan bahwa zakat hewan ternak wajib dibayarkan dalam bentuk hewan, bukan uang. Namun, mazhab Hanafi, satu pendapat dalam mazhab Maliki, serta salah satu riwayat dalam mazhab Hanbali memperbolehkan pembayaran zakat ternak dengan uang sesuai nilai standar harga hewan tersebut. Fleksibilitas ini memungkinkan pemilik hewan ternak menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Penghitungan zakat hewan ternak dilakukan berdasarkan jumlah kepemilikan dalam jangka satu tahun penuh hingga jatuh tempo zakatnya. Jika jumlah hewan sudah mencapai nisab, maka pemilik wajib mengeluarkan sejumlah hewan sesuai ketentuan. Pada umumnya, besaran zakat hewan ternak berkisar antara 2,5 persen hingga 5 persen, tergantung jenis ternaknya. Nisab Zakat Ternak Kambing: 1. Berdasarkan jumlah ternak, nisab zakat untuk ternak kambing adalah 40 ekor. Jika seseorang memiliki 40 ekor kambing atau lebih maka dia wajib membayar zakat atas ternaknya. 2. Perhitungan untuk zakat ternak kambing adalah sebagai berikut: Jumlah kambing 40-120 ekor dan telah mencapai haul (1 Tahun) kadar zakatnya adalah 1 ekor kambing (2 tahun) atau domba (1 tahun). Jumlah kambing 121-200 ekor, haul 1 tahun, zakatnya 2 ekor (kambing/domba). Jumlah kambing 2001-300 ekor, haul 1 tahun, zakatnya 3 ekor (kambing/domba). Jumlah kambing 301-400 ekor, haul 1 tahun, zakatnya 4 ekor (kambing/domba). Jumlah kambing 401-500 ekor, haul 1 tahun, zakatnya 5 ekor (kambing/domba). Selanjutnya, setiap jumlah bertambah 100 ekor, maka zakatnya bertambah 1 ekor 3. Berdasarkan bobot ternak, nisab zakat kambing adalah setara dengan 612,36 kg (berdasarkan pendapat mayoritas ulama). Jika total bobot daging kambing yang dimiliki mencapai atau melebihi nisab tersebut, maka zakat wajib dibayarkan. Sementara itu, untuk sapi, ketentuannya berbeda. Pemilik 30 ekor sapi wajib mengeluarkan zakat berupa 1 ekor sapi berumur 1 tahun. Jika memiliki 40 ekor sapi, zakatnya adalah 1 ekor sapi berumur 2 tahun. Dengan memahami ketentuan nisab, perbedaan mazhab, serta cara perhitungan zakat hewan ternak, umat muslim dapat menunaikan kewajiban ini dengan lebih tepat dan penuh kesadaran. Selain menjadi ibadah, zakat hewan ternak juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan dan mendukung kesejahteraan masyarakat.***
ARTIKEL09/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kenapa Memberi Itu Harus Jadi Kebiasaan, Bukan Musiman
Kenapa Memberi Itu Harus Jadi Kebiasaan, Bukan Musiman
Setiap Ramadhan, ada sesuatu yang berbeda di udara. Masjid penuh, donasi mengalir, orang-orang berlomba berbuat baik. Rasanya seperti semua orang serentak jadi versi terbaik dari diri mereka. Tapi kemudian Ramadhan selesai. Dan perlahan, segalanya kembali seperti semula. Jujur saja, ini bukan fenomena baru. Kita semua tahu polanya. Bahkan mungkin pernah mengalaminya sendiri. Yang jadi pertanyaan bukan soal kenapa semangat itu muncul saat Ramadhan. Itu wajar, bahkan indah. Pertanyaannya justru: kenapa harus berhenti? Ramadhan itu semacam pengingat besar. Suasananya memaksa kita keluar dari rutinitas dan sadar bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari kesibukan sehari-hari. Tapi kalau kita jujur, banyak dari kita bergerak karena suasananya, bukan karena kebiasaannya. Ketika suasana itu pergi, dorongan itu ikut pergi juga. Padahal memberi itu bukan soal jumlahnya. Bukan soal apakah kita berinfak ratusan ribu atau hanya selembar dua puluhan. Yang lebih penting adalah apakah kita terbiasa melakukannya, meski tidak ada yang tahu, meski tidak ada momen spesial, meski hari itu terasa biasa-biasa saja. Ada analogi yang sederhana tapi cukup mengena: memberi itu seperti olahraga. Kalau kita tiba-tiba lari 10 kilometer sebulan sekali, badan kita tidak akan terlatih. Tapi kalau kita jalan kaki 30 menit setiap hari, lama-lama tubuh kita berubah tanpa kita sadari. Prinsipnya sama. Banyak orang menunda memberi karena menunggu kondisi yang "lebih siap". Menunggu gaji naik. Menunggu utang lunas. Menunggu ada sisa. Tapi sering kali, bukan soal mampu atau tidak, melainkan soal sudah terbiasa atau belum. Yang juga perlu disadari: manfaat dari kebiasaan memberi itu tidak hanya dirasakan penerimanya. Orang yang terbiasa memberi cenderung lebih tenang dalam menyikapi harta. Tidak mudah panik ketika kekurangan, tidak terlalu melekat ketika berlebih. Ada sesuatu yang berubah dalam cara pandang kita terhadap rezeki, ketika kita sadar bahwa sebagian dari apa yang kita punya memang bukan sepenuhnya untuk kita. Jadi kalau Ramadhan tahun ini sudah kita isi dengan kebiasaan baik, pertahankan. Tidak perlu dalam skala yang sama. Bisa lebih kecil, lebih sederhana. Yang penting tidak berhenti sama sekali. Melalui BAZNAS Kota Semarang, menjadikan sedekah sebagai rutinitas itu bisa dilakukan dengan cara yang lebih mudah dan terstruktur. Tidak perlu menunggu bulan puasa datang lagi. Karena dampak dari kebaikan yang konsisten, meski kecil, bisa jauh lebih luas dari yang kita bayangkan.
ARTIKEL08/04/2026 | Humas BAZNAS Kota Semarang
Pengertian Zakat, Jenis, dan Syaratnya: Panduan Lengkap untuk Umat Muslim
Pengertian Zakat, Jenis, dan Syaratnya: Panduan Lengkap untuk Umat Muslim
Zakat merupakan kewajiban penting bagi setiap muslim yang mampu, sekaligus menjadi salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan. Secara sederhana, zakat adalah bagian tertentu dari harta yang wajib dikeluarkan ketika telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam syariat Islam. Harta tersebut kemudian diberikan kepada golongan yang berhak menerima atau disebut asnaf. Secara bahasa, zakat berasal dari kata zaka yang berarti suci, berkah, tumbuh, dan berkembang. Makna ini menggambarkan bahwa menunaikan zakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga menyucikan jiwa dari sifat buruk serta menjadi sebab bertambahnya keberkahan. Hal ini ditegaskan dalam kitab Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, yang menjelaskan bahwa zakat membawa harapan untuk menumbuhkan kebaikan dalam hati seorang muslim. Makna tumbuh dalam zakat juga menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan akan kembali membawa pahala dan keberkahan yang berlipat. Sementara itu, makna suci berarti zakat menjadi sarana pembersihan jiwa dari kejelekan dan dosa. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” Dari sisi istilah, al-Mawardi dalam kitab al-Hâwî mendefinisikan zakat sebagai pengambilan tertentu dari harta tertentu dengan sifat-sifat tertentu untuk disalurkan kepada golongan yang berhak. Orang yang mengeluarkan zakat disebut muzaki, sedangkan penerima zakat disebut mustahik. Dalam regulasi modern, Peraturan Menteri Agama No. 52 Tahun 2014 menjelaskan bahwa zakat wajib ditunaikan oleh muslim, baik individu maupun badan usaha milik muslim, sesuai ketentuan syariat. Tidak semua harta wajib dizakati. Harta harus memenuhi syarat: halal, dimiliki sepenuhnya, dapat berkembang, mencapai nisab, melewati haul, serta tidak dibebani utang jangka pendek. Secara umum, zakat dibagi menjadi dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah wajib bagi setiap muslim yang hidup di bulan Ramadan dan memiliki kecukupan kebutuhan pokok. Adapun zakat mal adalah zakat atas harta seperti emas, uang, perniagaan, hasil pertanian, peternakan, pertambangan, hingga penghasilan profesi. Ragam zakat mal mencakup zakat emas dan perak, zakat uang, zakat perdagangan, zakat pertanian, zakat peternakan, zakat pertambangan, zakat industri, zakat penghasilan, dan zakat rikaz (harta temuan). Beberapa jenis zakat mal tidak mensyaratkan haul, seperti zakat pertanian dan zakat penghasilan yang dikeluarkan saat menerima hasil. Sementara itu, syarat zakat fitrah meliputi beragama Islam, hidup pada saat Ramadan, serta memiliki kelebihan kebutuhan pokok untuk hari raya Idulfitri. Dengan memahami ketentuan zakat, umat Muslim dapat menunaikannya secara benar serta merasakan manfaat spiritual maupun sosialnya.***
ARTIKEL08/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui Ini Jenis Kafarat dalam Islam Lengkap dengan Hukum dan Cara Menunaikannya Sesuai Syariat
Ketahui Ini Jenis Kafarat dalam Islam Lengkap dengan Hukum dan Cara Menunaikannya Sesuai Syariat
Kafarat merupakan salah satu bentuk denda atau tebusan dalam ajaran Islam yang wajib ditunaikan ketika seseorang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kata kafarat berasal dari bahasa Arab kafara yang berarti menutupi atau menghapus. Secara makna, kafarat bertujuan sebagai sarana penghapus dosa agar seorang muslim dapat kembali meraih ridha Allah SWT setelah melakukan kesalahan. Ketentuan mengenai kafarat dijelaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam Surat Al-Maidah ayat 89 yang membahas kafarat atas pelanggaran sumpah. Karena itu, memahami jenis-jenis kafarat menjadi penting agar umat Islam dapat menunaikannya sesuai tuntunan syariat dan mengetahui bentuk tanggung jawab yang harus dipenuhi. Jenis-Jenis Kafarat yang Wajib Diketahui 1. Kafarat karena Sumpah Palsu Sumpah palsu terjadi ketika seseorang bersumpah atas sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Perbuatan ini termasuk pelanggaran berat karena melibatkan nama Allah SWT, sehingga pelakunya wajib menunaikan kafarat sebagai bentuk taubat dan permohonan ampun. 2. Kafarat atas Pembunuhan Tidak Sengaja Dalam kasus pembunuhan tidak disengaja, Islam menetapkan kewajiban memerdekakan budak muslim. Jika tidak mampu, pelaku harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut sebagai bentuk penebusan dan taubat kepada Allah SWT. Ketentuan ini menunjukkan betapa Islam menekankan kehati-hatian dalam menjaga nyawa manusia. 3. Kafarat Pelanggaran Larangan di Tanah Suci Melakukan pelanggaran di Tanah Suci, seperti membunuh binatang atau merusak tanaman, mewajibkan seseorang menunaikan kafarat. Hal ini bertujuan menjaga kesucian wilayah haram dan menegaskan bahwa Tanah Suci adalah area terlarang untuk tindakan merusak. 4. Kafarat Dzihar Dzihar adalah ucapan suami yang menyamakan istrinya dengan ibu kandung. Dalam syariat, hal ini termasuk bentuk pelanggaran dalam hubungan pernikahan. Mengacu pada Buku Saku Fikih Mazhab Syafi’i karya Ulin Nuha, kafarat dzihar dilakukan dengan memerdekakan budak mukmin. Jika tidak mampu, suami wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Apabila masih tidak mampu, ia harus memberi makan 60 orang miskin, masing-masing satu mud. 5. Kafarat Jima’ dan Kafarat Ila’ Kafarat jima’ diwajibkan kepada pasangan yang sengaja melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadan. Sementara itu, kafarat ila’ berlaku bagi suami yang bersumpah tidak menggauli istrinya dalam jangka waktu tertentu. QS. Al-Baqarah ayat 226–227 menjelaskan ketentuan dan batas waktunya. 6. Kafarat Membunuh Binatang Buruan Saat Ihram Jika seseorang membunuh binatang buruan ketika sedang ihram, ia harus menunaikan salah satu dari tiga pilihan kafarat: mengganti dengan hewan ternak seimbang, memberi makan fakir miskin, atau berpuasa sesuai ketentuan. Sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT, kafarat menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan hubungan dengan-Nya. Kini, penyaluran kafarat dapat dilakukan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Semarang. Anda dapat menunaikannya secara langsung di Ruko Kalipancur No. 2, Jl. Abdul Rahman Saleh Raya, Semarang, atau melalui layanan online di laman resmi BAZNAS Kota Semarang. https://kotasemarang.baznas.go.id/bayarzakat kemudian pilih jenis dana yang ingin dilaksanakan. Dengan memahami ketentuan kafarat, umat Islam dapat menunaikan kewajibannya dengan benar serta menjaga kemurnian ibadah sesuai tuntunan syariat. Semoga penjelasan ini membantu memperluas wawasan dan meningkatkan kesadaran dalam menjalankan ajaran Islam.***
ARTIKEL08/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Makna Infak dan Keutamaannya: Amalan Mulia yang Membawa Berkah Dunia Akhirat
Makna Infak dan Keutamaannya: Amalan Mulia yang Membawa Berkah Dunia Akhirat
Infak merupakan salah satu amalan penting dalam ajaran Islam yang melekat dalam kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat pada BAB I Pasal 1, infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Amalan ini bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga wujud ketaatan kepada Allah SWT. Secara bahasa, infak berasal dari kata Arab “anfaqa” yang berarti membelanjakan atau memberikan harta. Sedangkan infak dalam konteks syariat berarti mengeluarkan sebagian harta untuk tujuan kebaikan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali Imran: 133-134). Ayat ini menunjukkan bahwa infak merupakan amalan yang dicintai Allah, dilakukan dalam berbagai kondisi, baik saat senang maupun susah. Infak sering dianggap sama dengan sedekah, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Infak lebih bersifat materi, sementara sedekah dapat berupa hal non-materi, seperti senyuman atau bantuan non-finansial lainnya. Hal ini diperkuat oleh hadis Nabi: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi). Meskipun berbeda, keduanya sama-sama membawa kebaikan bagi pelakunya maupun penerimanya. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menyisihkan sebagian hartanya di jalan kebaikan. Perintah ini bukan sekadar ibadah, tetapi sarana untuk membersihkan hati dari sifat kikir serta menumbuhkan rasa empati. Dalam QS. Al-Hadid ayat 7, Allah menjanjikan pahala besar bagi mereka yang beriman dan menginfakkan hartanya. Ada banyak keutamaan yang diperoleh dari amalan infak. Pertama, pelakunya akan mendapat pahala berlipat ganda dari Allah SWT. Kedua, orang yang gemar berinfak akan didoakan oleh malaikat setiap pagi agar Allah mengganti hartanya dengan yang lebih baik, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari. Ketiga, infak menjadi sarana pembersih harta, sebagaimana firman Allah dalam QS. Saba: 39 yang menegaskan bahwa apa saja yang diinfakkan akan diganti oleh Allah dengan rezeki yang lebih baik. Selain itu, infak juga membawa keberkahan dalam kehidupan seseorang. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan berkurang, justru menjadi sumber keberkahan. Bahkan di akhirat kelak, infak menjadi pelindung bagi seorang mukmin. Rasulullah SAW bersabda, “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad). Dengan berbagai keutamaan tersebut, infak menjadi amalan yang tidak hanya mendatangkan manfaat sosial, tetapi juga menuntun pelakunya menuju keberkahan dunia dan keselamatan akhirat.***
ARTIKEL07/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Puasa Sunnah April 2026: Panduan Lengkap Ayyamul Bidh, Senin-Kamis, dan Puasa Syawal
Jadwal Puasa Sunnah April 2026: Panduan Lengkap Ayyamul Bidh, Senin-Kamis, dan Puasa Syawal
Memasuki bulan April 2026, banyak umat Muslim mulai mencari informasi mengenai jadwal puasa sunnah yang dapat diamalkan untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bulan ini bertepatan dengan bulan Syawal 1447 H, sehingga terdapat beberapa amalan puasa yang sangat dianjurkan, mulai dari Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Senin-Kamis, hingga Puasa Syawal. Berikut panduan lengkapnya yang dapat menjadi referensi bagi Anda yang ingin memaksimalkan ibadah sunnah di bulan ini. Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah. Di bulan Syawal 1447 H, pelaksanaannya jatuh pada: - Kamis, 2 April 2026 - Jumat, 3 April 2026 - Sabtu, 4 April 2026 Puasa ini sering disebut puasa “hari-hari putih” karena bertepatan dengan malam bulan purnama. Keutamaannya sangat besar, salah satunya adalah mendapatkan pahala seperti berpuasa sepanjang tahun. Puasa Senin-Kamis adalah salah satu amalan sunnah yang paling dianjurkan karena kedua hari tersebut memiliki keutamaan khusus, di antaranya adalah waktu ketika amalan manusia diangkat kepada Allah SWT. Berikut jadwal lengkapnya di bulan April 2026: - Senin, 6 April 2026 - Kamis, 9 April 2026 - Senin, 13 April 2026 - Kamis, 16 April 2026 - Senin, 20 April 2026 - Kamis, 23 April 2026 - Senin, 27 April 2026 - Kamis, 30 April 2026 Dengan jadwal yang cukup banyak dalam satu bulan, puasa Senin-Kamis menjadi peluang besar bagi umat Muslim untuk rutin menjaga amal ibadah sekaligus meraih kesehatan fisik dan mental. Selain dua amalan di atas, Puasa Syawal juga menjadi ibadah sunnah yang paling banyak dicari di bulan ini. Puasa Syawal bisa dilakukan mulai setelah Hari Raya Idul Fitri hingga akhir bulan Syawal. Umat Muslim dianjurkan untuk menunaikan puasa enam hari di bulan ini. Keutamaannya luar biasa: pahala seperti berpuasa selama setahun penuh. Puasa ini dapat dilakukan berturut-turut maupun terpisah, sesuai kemampuan masing-masing. Yang paling penting adalah menyelesaikan enam hari tersebut selama bulan Syawal masih berlangsung. Dengan mengetahui jadwal lengkap puasa sunnah April 2026 ini, Anda bisa merencanakan ibadah dengan lebih teratur dan konsisten. Semoga amalan yang dilakukan membawa keberkahan dan menjadi pembuka pintu kebaikan di bulan-bulan berikutnya. Selamat menjalankan ibadah puasa sunnah!***
ARTIKEL07/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Ketentuan dan Cara Menghitung Zakat Mal Lengkap dengan Niatnya
Ketahui! Ini Ketentuan dan Cara Menghitung Zakat Mal Lengkap dengan Niatnya
Setelah menunaikan zakat fitrah di bulan suci Ramadan, umat Islam juga dianjurkan untuk membayar zakat mal apabila harta yang dimiliki telah mencapai nisab yang ditetapkan. Zakat mal merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu, sebagai wujud kepedulian sosial dan bentuk penyucian harta. Dengan menunaikan zakat mal, seorang muslim turut membantu mereka yang kurang beruntung dan memperkuat solidaritas di tengah masyarakat. Secara umum, zakat mal dikeluarkan dari berbagai jenis harta seperti uang tunai, tabungan, emas, perak, aset investasi, hingga barang dagangan. Untuk memastikan kewajiban ini terlaksana dengan benar, berikut panduan lengkap tentang cara menghitung dan menunaikan zakat mal. 1. Mengidentifikasi Harta yang Wajib Dizakatkan Langkah pertama adalah mengidentifikasi seluruh harta yang termasuk kategori wajib dizakatkan. Harta tersebut meliputi uang tunai, tabungan bank, investasi, emas, perak, aset perdagangan, maupun bentuk kekayaan lainnya. Pastikan semua harta tersebut tercatat dengan jelas agar perhitungan lebih akurat. 2. Menentukan Batas Nisab Nisab adalah batas minimal harta yang menyebabkan seseorang wajib mengeluarkan zakat. Nilai nisab zakat mal biasanya merujuk pada harga emas atau perak terkini. Karena nilainya dapat berubah, penting untuk selalu memperbarui informasi nisab sesuai standar yang berlaku di wilayah masing-masing. 3. Menghitung Nilai Harta Bersih Setelah mengetahui total harta, langkah berikutnya adalah menghitung nilai bersihnya, yaitu jumlah harta setelah dikurangi utang atau kewajiban finansial yang harus dibayarkan. Nilai bersih inilah yang menjadi dasar perhitungan zakat mal. 4. Menentukan Persentase Zakat Besaran zakat mal adalah 2,5 persen dari total harta bersih. Persentase ini berlaku untuk sebagian besar jenis kekayaan yang termasuk dalam kategori zakat mal. 5. Rumus Menghitung Zakat Mal Untuk menghitung jumlah zakat yang harus dikeluarkan, gunakan rumus berikut: Zakat Mal = Nilai Harta Bersih × 2,5% Dengan rumus ini, muzaki dapat mengetahui jumlah zakat yang wajib dibayarkan setiap tahunnya. 6. Membayar Zakat Mal Jika jumlah zakat sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menunaikannya. Zakat dapat disalurkan melalui lembaga resmi seperti Baznas, lembaga amil zakat terpercaya, atau diberikan langsung kepada yang berhak seperti fakir miskin, janda, yatim piatu, dan orang yang membutuhkan lainnya. Bagi masyarakat Kota Semarang, pembayaran zakat mal juga bisa dilakukan secara digital melalui tautan resmi berikut: https://kotasemarang.baznas.go.id/bayarzakat 7. Melakukan Perhitungan Tahunan Zakat mal dihitung setiap tahun berdasarkan nilai harta pada periode tersebut. Disarankan untuk melakukan pengecekan rutin, khususnya menjelang Ramadan saat umat Islam banyak menunaikan zakat. 8. Mencatat Pembayaran Zakat Agar lebih tertib, catat setiap pembayaran zakat. Hal ini membantu memastikan kewajiban zakat telah ditunaikan dengan benar dan tepat waktu. Berikut niat yang dapat dibacakan saat menunaikan zakat mal: “Nawaitu an ukhrija zak?ta m?li fardhan lill?hi ta'?l?.” Artinya: Aku niat mengeluarkan zakat hartaku fardhu karena Allah Ta’ala. Dengan memahami tata cara dan syarat zakat mal, umat Islam dapat menunaikan kewajiban ini dengan benar serta menyalurkan manfaatnya kepada mereka yang membutuhkan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.***
ARTIKEL07/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2026 Lengkap dengan Niat
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2026 Lengkap dengan Niat
Artikel berikut akan bagikan informasi mengenai jadwal puaa ayyamul bidh April 2026 lengkap dengan niat yang dapat Anda amalkan. Puasa Ayyamul Bidh menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Ibadah ini dilaksanakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 pada kalender Hijriah, dikenal sebagai “hari-hari putih” karena malamnya disinari cahaya bulan purnama. Amalan ini memiliki keutamaan istimewa, bahkan disebutkan pahalanya setara dengan berpuasa sepanjang tahun bagi yang rutin melaksanakannya. Memasuki bulan Syawal 1447 H yang bertepatan dengan April 2026, umat Islam kembali berkesempatan menunaikan puasa sunnah ini. Selain sebagai bentuk ketaatan dan penyempurna amalan setelah Ramadan, Puasa Ayyamul Bidh juga menjadi momen untuk memperkuat spiritualitas dan memperbaiki kedisiplinan diri dalam beribadah. Mengacu pada kalender Hijriah resmi yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag), berikut jadwal lengkap pelaksanaan Puasa Ayyamul Bidh untuk April 2026: - Kamis, 2 April 2026 – Bertepatan dengan 13 Syawal 1447 H (Hari pertama Puasa Ayyamul Bidh) - Jumat, 3 April 2026 – Bertepatan dengan 14 Syawal 1447 H (Hari kedua Puasa Ayyamul Bidh) - Sabtu, 4 April 2026 – Bertepatan dengan 15 Syawal 1447 H (Hari ketiga Puasa Ayyamul Bidh) Umat Islam dapat melaksanakan puasa ini secara berurutan tiga hari atau boleh juga memilih hari yang memungkinkan, selama masih berada dalam tanggal yang ditentukan. Niat merupakan bagian penting dari ibadah puasa. Untuk puasa sunnah seperti Ayyamul Bidh, niat dapat dibaca dalam hati maupun dilisankan. Waktunya mulai dari malam hari hingga sebelum fajar menyingsing. Berikut bacaan niat puasa Ayyamul Bidh: Latin: Nawaitu shauma ayyâmil bîdl lillâhi ta'âlâ. Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh (hari-hari yang malamnya cerah), karena Allah Ta’âlâ.” Menariknya, bagi yang lupa berniat pada malam hari, puasa Ayyamul Bidh tetap dapat dilaksanakan. Syaratnya, sejak terbit fajar hingga muncul keinginan untuk berpuasa, belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan begitu, niat masih boleh dibaca pada siang hari sebagaimana ketentuan puasa sunnah. Puasa Ayyamul Bidh menjadi kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk meraih keutamaan besar dengan ibadah yang ringan namun penuh keberkahan. Dengan mengetahui jadwal dan bacaan niatnya, Anda dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk menjalankan amalan sunnah ini pada April 2026. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam mengamalkannya.***
ARTIKEL02/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal 2026: Amalan Sunnah dengan Ganjaran Setahun Penuh
Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal 2026: Amalan Sunnah dengan Ganjaran Setahun Penuh
Memasuki bulan Syawal 2026, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan rangkaian ibadah setelah Ramadan dengan melaksanakan puasa sunnah enam hari. Puasa Syawal menjadi amalan istimewa yang tidak hanya memperpanjang semangat Ramadan, tetapi juga membuka pintu pahala luar biasa bagi siapa pun yang melakukannya. Ibadah ini menawarkan banyak keutamaan yang membuatnya sangat dianjurkan untuk diamalkan. Puasa enam hari di bulan Syawal adalah bentuk konsistensi seorang hamba dalam menjaga kedekatannya dengan Allah SWT. Setelah sebulan penuh berpuasa, Syawal datang sebagai kesempatan emas untuk mempertahankan kebiasaan baik sekaligus meningkatkan ketakwaan. Lebih dari itu, puasa ini memiliki dasar kuat dalam hadis shahih dan telah dipraktikkan oleh umat Islam sejak masa Rasulullah SAW. 1. Pahala Setara Puasa Setahun Penuh Keutamaan paling populer dari puasa Syawal adalah pahalanya yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan enam hari dari Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR Muslim) Penjelasan ulama menyebutkan bahwa satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Artinya, puasa Ramadan selama 30 hari setara dengan 300 hari. Ditambah puasa Syawal, enam hari menjadi 60 hari. Totalnya adalah 360 hari, yaitu setahun penuh dalam perhitungan hijriah. Hadis lain riwayat Ibnu Majah juga menegaskan hal ini dengan perhitungan yang sama. 2. Menyempurnakan Kekurangan Puasa Ramadan Setiap ibadah wajib memiliki kemungkinan kekurangan. Puasa Syawal berfungsi seperti shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan shalat wajib. Dalam hadis riwayat at-Tirmidzi disebutkan bahwa amalan sunnah akan digunakan untuk menambal kekurangan amalan wajib seorang hamba. Dengan demikian, puasa Syawal dapat memperbaiki kekurangan yang mungkin terjadi saat berpuasa Ramadan. 3. Tanda Diterimanya Puasa Ramadan Salah satu tanda diterimanya amal adalah munculnya keinginan untuk melakukan amal baik setelahnya. Mereka yang diberi kemudahan mengerjakan puasa Syawal dianggap mendapatkan taufik dari Allah SWT. Ini menjadi indikasi bahwa puasa Ramadan mereka diterima dan diberkahi. 4. Wujud Rasa Syukur atas Nikmat dan Ampunan Allah Puasa enam hari di bulan Syawal juga menjadi bentuk nyata rasa syukur seorang hamba. Selama Ramadan, Allah menjanjikan pengampunan dosa bagi hamba yang berpuasa dengan iman dan penuh harap. Menyambungnya dengan puasa Syawal adalah cara menunjukkan terima kasih atas limpahan rahmat dan ampunan tersebut. Dengan berbagai keutamaan tersebut, puasa Syawal 6 hari menjadi amalan mulia yang sangat sayang untuk dilewatkan. Selain ringan dilakukan, manfaat spiritual dan pahalanya sangat besar bagi yang mengamalkannya dengan penuh keikhlasan. Semoga kita termasuk orang yang mampu meraih keutamaan besar ini di bulan Syawal 2026.***
ARTIKEL02/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Panduan Lengkap Niat dan Tata Cara Puasa Syawal: Amalan Sunnah Setelah Idul Fitri yang Penuh Keutamaan
Panduan Lengkap Niat dan Tata Cara Puasa Syawal: Amalan Sunnah Setelah Idul Fitri yang Penuh Keutamaan
Puasa Syawal merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan setelah umat Muslim menunaikan ibadah puasa Ramadan. Ibadah ini memiliki keutamaan besar, bahkan disebutkan pahalanya setara dengan berpuasa selama satu tahun apabila dilaksanakan selama enam hari. Agar amalan ini sempurna, penting untuk mengetahui bagaimana niat puasa Syawal dan tata cara pelaksanaannya secara benar. Niat puasa Syawal dapat diucapkan pada malam hari atau sebelum terbit fajar. Namun, karena puasa ini termasuk dalam kategori puasa sunnah, niat masih diperbolehkan dibaca di pagi hari selama seseorang belum melakukan hal yang membatalkan puasa, seperti makan atau minum. Hal ini memberikan kemudahan bagi siapa pun yang ingin menunaikan puasa Syawal meski belum berniat dari malam sebelumnya. Berikut bacaan niat puasa Syawal: “Nawaitu shauma ghadin ‘an ad?’i sunnati Syaww?l lill?hi ta‘?l?.” Artinya: “Saya niat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.” Meskipun ada lafal yang dianjurkan, niat pada dasarnya adalah tekad dalam hati. Hal yang paling penting adalah kesadaran untuk melaksanakan ibadah semata-mata karena Allah SWT. Secara umum, tata cara puasa Syawal sama dengan puasa sunnah lainnya dan tidak berbeda dari puasa wajib. Berikut langkah-langkah yang bisa diikuti: 1. Berniat sebelum memulai puasa Meskipun dapat dilakukan di pagi hari, lebih utama jika berniat sejak malam sebelumnya. 2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa Seperti makan, minum, dan segala perbuatan yang membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. 3. Memperbanyak ibadah sunnah Amalan seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, memperbanyak doa, serta melakukan kebaikan sangat dianjurkan untuk menambah pahala. 4. Menyegerakan berbuka ketika masuk waktu Magrib Setelah matahari terbenam, sangat dianjurkan untuk segera berbuka sesuai sunnah Rasulullah SAW. Selain itu, menjaga lisan dan perilaku tetap menjadi hal yang sangat penting. Menghindari gosip, amarah, dan perbuatan buruk lainnya merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah puasa. Dengan memahami niat serta tata cara puasa Syawal, umat Muslim dapat menjalankan amalan ini dengan lebih khusyuk dan benar. Puasa Syawal bukan hanya sekadar ibadah rutin setelah Ramadan, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak pahala. Semoga ibadah kita diterima dan membawa keberkahan.***
ARTIKEL01/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Puasa 6 Hari di Bulan Syawal 2026: Panduan Lengkap yang Mudah Diikuti untuk Raih Pahala Berlipat
Jadwal Puasa 6 Hari di Bulan Syawal 2026: Panduan Lengkap yang Mudah Diikuti untuk Raih Pahala Berlipat
Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan setelah umat Islam menunaikan ibadah puasa Ramadan. Keutamaan puasa Syawal begitu besar, salah satunya seperti disebut dalam hadis bahwa orang yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala seperti berpuasa selama setahun penuh. Karena itu, banyak umat Islam yang berusaha menyusun jadwal terbaik agar pelaksanaan puasa Syawal terasa lebih ringan dan tetap konsisten. Selain itu, Anda dapat menyusun puasa enam hari Syawal dengan menggabungkannya bersama puasa sunnah lainnya seperti Ayyamul Bidh, puasa Senin-Kamis, serta memanfaatkan hari-hari yang memiliki keutamaan khusus. Berikut panduan jadwal puasa Syawal yang praktis, mudah diikuti, dan dapat sekaligus memaksimalkan pahala. 1. Kamis, 2 April – 13 Syawal Hari ini sangat tepat untuk memulai puasa Syawal karena bertepatan dengan hari Kamis, di mana umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah Senin-Kamis. Selain itu, tanggal tersebut juga termasuk dalam rangkaian Ayyamul Bidh. Jadi, satu puasa dapat memenuhi dua niat sekaligus: puasa Syawal dan puasa sunnah Kamis. 2. Jumat, 3 April – 14 Syawal Tanggal ini merupakan Ayyamul Bidh kedua. Meski hari Jumat memiliki banyak keistimewaan, puasa Syawal tetap diperbolehkan, terlebih jika diniatkan sebagai bagian dari rangkaian puasa enam hari Syawal sekaligus Ayyamul Bidh. 3. Sabtu, 4 April – 15 Syawal Ini adalah hari ketiga dari Ayyamul Bidh, yang sekaligus bisa menjadi hari ketiga Anda melanjutkan puasa Syawal. Menyelesaikannya berturut-turut dapat membantu menjaga konsistensi sehingga Anda tidak perlu menunda terlalu lama. 4. Senin, 6 April Memasuki pekan berikutnya, Anda bisa meneruskan puasa Syawal pada hari Senin. Hari ini adalah waktu yang tepat karena puasa Senin adalah amalan sunnah dengan keutamaan besar. Menggabungkan niat puasa Syawal dan puasa Senin tentu semakin meningkatkan keutamaan ibadah Anda. 5. Kamis, 9 April Hari Kamis kembali menjadi pilihan ideal untuk menyelesaikan puasa Syawal kelima. Selain mendapatkan pahala Syawal, Anda juga mendapatkan keutamaan puasa Kamis. Banyak orang memilih hari ini agar lebih mudah menjaga pola ibadah sunnah yang berkesinambungan. 6. Senin, 13 April Hari Senin berikutnya dapat menjadi penyempurna puasa Syawal Anda yang keenam. Dengan menyelesaikannya pada hari penuh berkah ini, Anda telah menunaikan rangkaian puasa enam hari Syawal secara lengkap dan teratur. Dengan mengikuti jadwal di atas, puasa Syawal terasa lebih ringan karena dilakukan bertahap dan bertepatan dengan hari-hari sunnah yang memiliki banyak keutamaan. Selain itu, penjadwalan seperti ini membantu menjaga keseimbangan aktivitas harian tanpa mengurangi nilai ibadah. Semoga jadwal ini memudahkan Anda meraih pahala berlimpah di bulan Syawal tahun ini.***
ARTIKEL01/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Cara Membayar Fidyah dan Qadha Puasa Ramadhan 2026
Ketahui! Ini Cara Membayar Fidyah dan Qadha Puasa Ramadhan 2026
Bulan suci Ramadan telah usai, menandai datangnya bulan Syawal yang penuh keberkahan. Selain momentum untuk meningkatkan amal ibadah, Syawal juga menjadi waktu yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim untuk melaksanakan berbagai kesunnahan, salah satunya berpuasa sunah Syawal. Tidak hanya itu, bulan ini juga menjadi kesempatan ideal untuk melunasi kewajiban fidyah maupun qadha puasa bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan. Sebelum melaksanakan kewajiban tersebut, penting untuk memahami perbedaan antara fidyah dan qadha. Keduanya sama-sama terkait dengan puasa Ramadan, tetapi memiliki ketentuan dan tata cara yang berbeda. Fidyah: Pengganti Puasa bagi yang Tidak Mampu Berpuasa Fidyah adalah kewajiban bagi umat Muslim yang tidak mampu menjalankan puasa Ramadan karena kondisi tertentu dan kecil kemungkinan dapat menggantinya di lain waktu. Istilah ini berasal dari kata fadaa yang berarti menebus atau mengganti. Fidyah menjadi solusi syariat bagi kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan seseorang berpuasa. Dasar hukum fidyah tertulis dalam Surah Al-Baqarah ayat 184, yang menjelaskan bahwa mereka yang sakit atau dalam perjalanan boleh berbuka dan menggantinya di hari lain. Namun, bagi yang sangat berat menjalankan puasa, syariat menggantinya dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Beberapa golongan yang diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah antara lain: - Lansia yang tidak mampu lagi berpuasa - Penderita penyakit kronis yang kecil kemungkinan sembuh - Ibu hamil atau menyusui yang dikhawatirkan mengalami bahaya jika berpuasa, sesuai saran medis Fidyah dibayarkan sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan, berupa makanan atau bahan pokok yang diberikan kepada fakir miskin. Qadha Puasa: Mengganti Puasa yang Terlewat karena Uzur Berbeda dengan fidyah, qadha Ramadan dilakukan untuk mengganti puasa yang ditinggalkan karena alasan syar’i seperti sakit, haid, nifas, bepergian jauh, atau kondisi khusus lainnya. Qadha hukumnya wajib dan harus dilakukan sebanyak hari yang ditinggalkan, dengan niat sebelum subuh dan dilaksanakan di luar bulan Ramadan. Syawal menjadi waktu terbaik untuk mulai menunaikan kewajiban fidyah atau qadha. Caranya antara lain: 1. Memulai qadha puasa setelah Idul Fitri, bisa dilakukan bertahap sesuai kemampuan hingga jumlah hari terpenuhi. 2. Membayar fidyah dengan memberikan makanan pokok setara satu porsi untuk tiap hari puasa yang ditinggalkan. 3. Menyalurkan fidyah melalui lembaga amil zakat seperti BAZNAS agar disalurkan tepat sasaran. 4. Tidak menunda pembayaran fidyah atau pelaksanaan qadha agar tidak menumpuk hingga Ramadan berikutnya. 5. Meluruskan niat, karena niat menjadi elemen utama dalam setiap ibadah. Memahami perbedaan dan tata cara fidyah serta qadha membuat kewajiban ini terasa lebih ringan. Syawal menjadi momentum terbaik untuk menyelesaikan tanggungan sekaligus menambah keberkahan. Bagi Anda yang ingin menunaikan fidyah, zakat, infak, maupun sedekah dengan aman dan terpercaya, Anda bisa menyalurkannya melalui BAZNAS Kota Semarang. Klik tautan berikut: https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih jenis dana Fidyah. Semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah kita dalam menyempurnakan ibadah.
ARTIKEL31/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kenapa Syawal Menjadi Waktu Terbaik untuk Menikah? Ini Penjelasannya
Kenapa Syawal Menjadi Waktu Terbaik untuk Menikah? Ini Penjelasannya
Bulan Syawal selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, Syawal hadir sebagai bulan penuh harapan dan pembaruan. Selain dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah, menikah di bulan Syawal juga menjadi salah satu amalan yang memiliki nilai kesunnahan. Tradisi ini bukan sekadar budaya, tetapi memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam dan sunnah Rasulullah SAW. Menurut penjelasan dari Baznas.go.id, menikah di bulan Syawal merupakan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini merujuk pada peristiwa ketika Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar di bulan Syawal dan membangun rumah tangga bersama beliau pada bulan yang sama. Peristiwa tersebut menjadi landasan utama mengapa pernikahan di bulan Syawal dianjurkan, karena merupakan bentuk nyata meneladani Rasulullah SAW. Anjuran ini semakin diperkuat oleh hadits riwayat Muslim No. 1423. Dalam hadits tersebut, Aisyah RA berkata: “Rasulullah menikahiku di bulan Syawal dan menggauliku di bulan Syawal. Maka siapakah di antara istri-istri Nabi yang lebih beruntung di sisinya daripada aku?” Ucapan tersebut menunjukkan kebanggaan Aisyah terhadap pernikahannya yang berlangsung pada bulan Syawal, sekaligus menjadi bukti bahwa menikah di bulan ini merupakan sesuatu yang bernilai ibadah. Selain sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi, pernikahan di bulan Syawal juga menjadi pelurusan terhadap kepercayaan jahiliyah. Dahulu, masyarakat Arab menganggap bulan Syawal sebagai bulan sial untuk menikah. Rasulullah SAW dengan tegas menepis keyakinan tersebut melalui tindakan nyata, yaitu melaksanakan pernikahannya di bulan ini. Langkah beliau mengajarkan bahwa tidak ada waktu buruk dalam Islam, dan keberkahan datang dari niat serta ketakwaan, bukan dari mitos yang tidak berdasarkan syariat. Dari sisi spiritual, menikah di bulan Syawal memiliki makna yang sangat mendalam. Setelah melalui Ramadan sebagai bulan pembentukan jiwa, Syawal menjadi simbol lahirnya harapan dan dimulainya lembaran baru. Pasangan yang menikah di bulan ini melangkah ke jenjang pernikahan dalam kondisi spiritual yang lebih matang, sehingga diharapkan mampu membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Momentum Idul Fitri pada awal Syawal juga menjadikan suasana pernikahan lebih hangat. Silaturahmi dengan keluarga besar semakin erat, dan keberkahan doa-doa pun lebih melimpah. Tidak heran, banyak pasangan Muslim yang memilih bulan ini sebagai waktu mengikat janji suci. Dengan semakin meningkatnya pemahaman umat mengenai keutamaan bulan Syawal, diharapkan mitos-mitos lama yang tidak sesuai ajaran Islam dapat terkikis. Menikah di bulan Syawal bukan sekadar pilihan waktu, melainkan langkah spiritual penuh hikmah yang menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Bagi pasangan yang sedang merencanakan pernikahan, Syawal bisa menjadi momen terbaik untuk memulai perjalanan rumah tangga yang penuh keberkahan.
ARTIKEL31/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa Syawal 2026 Lengkap Arab Latin dan Terjemahan, Panduan Ibadah Sunnah Setelah Idul Fitri
Bacaan Niat Puasa Syawal 2026 Lengkap Arab Latin dan Terjemahan, Panduan Ibadah Sunnah Setelah Idul Fitri
Puasa Syawal merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat muslim setelah menunaikan Hari Raya Idul Fitri. Ibadah ini memiliki keutamaan besar, di antaranya seperti mendapatkan pahala layaknya berpuasa setahun penuh apabila digabungkan dengan puasa Ramadan. Menjelang pelaksanaannya di tahun 2026, banyak umat muslim mulai mencari bacaan niat puasa Syawal yang benar dan sesuai tuntunan. Pada artikel ini, pembaca akan mendapatkan bacaan niat puasa Syawal 2026 secara lengkap, mulai dari teks Arab, Arab Latin, hingga terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Tujuannya agar umat muslim dapat lebih memahami makna niat yang dibaca dan melaksanakan ibadah dengan penuh kesadaran serta keikhlasan. Puasa Syawal dilaksanakan mulai tanggal 2 Syawal 1447 H atau sehari setelah Idul Fitri. Pada tanggal 1 Syawal, umat muslim dilarang berpuasa karena hari tersebut merupakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H, di mana umat Islam diwajibkan untuk bergembira dan merayakan hari kemenangan. Oleh karena itu, pelaksanaan puasa sunnah ini baru dapat dimulai di hari berikutnya. Sebagaimana ibadah lainnya, niat menjadi hal utama yang harus diucapkan sebelum memulai puasa Syawal. Niat bukan hanya ucapan semata, tetapi merupakan bentuk kesungguhan hati untuk menjalankan ibadah dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT. Dengan melafalkan niat, seorang muslim mengokohkan keikhlasan dan fokus dalam ibadahnya. Berikut bacaan niat puasa Syawal yang dapat diamalkan pada tahun 2026: Arab Latin: Nawaitu shouma ghodin ‘an sittatin min syawwaalinn sunnatan lillaahi ta'aalaa Terjemahan Bahasa Indonesia: “Aku berniat puasa besok dari enam hari Syawal, sunnah karena Allah Ta’ala.” Dengan memahami lafaz niat ini, diharapkan umat muslim dapat menjalankan puasa Syawal dengan lebih khusyuk. Ibadah sunnah ini tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga melatih kesabaran dan memperkuat keimanan setelah sebulan penuh melaksanakan puasa Ramadan. Demikian bacaan niat puasa Syawal 2026 lengkap dengan teks Arab, Arab Latin, serta terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Semoga menjadi panduan bermanfaat bagi umat muslim yang ingin menyempurnakan ibadahnya di bulan Syawal.
ARTIKEL30/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui, Ini Amalan Bulan Syawal 2026 Lengkap dengan Batas Waktu Pelaksanannya
Ketahui, Ini Amalan Bulan Syawal 2026 Lengkap dengan Batas Waktu Pelaksanannya
Setelah umat Islam merayakan Idul Fitri, kini tibalah saat memasuki bulan Syawal 2026. Dalam kalender Hijriah, Syawal merupakan bulan ke-10 yang hadir setelah selesainya bulan suci Ramadan. Meski Ramadan dikenal sebagai bulan penuh keutamaan, Syawal juga memiliki keistimewaan tersendiri yang sayang untuk dilewatkan. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah sebagai bentuk penyempurna ibadah yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satu keutamaan paling dikenal dari bulan Syawal adalah anjuran untuk melaksanakan puasa sunah enam hari. Karena itu, banyak umat Islam yang ingin mengetahui sampai kapan bulan Syawal 2026 berlangsung agar bisa memaksimalkan berbagai amalan tersebut. Selain itu, penting pula memahami ibadah apa saja yang dianjurkan selama Syawal agar dapat meraih pahala berlipat ganda. Menurut keterangan yang dilansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut beberapa amalan yang dianjurkan dan dapat dikerjakan sepanjang bulan Syawal: 1. Puasa Sunah Enam Hari Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang artinya: “Siapa saja yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim) Keutamaan ini membuat banyak umat Islam berusaha menyempurnakan ibadah mereka dengan melaksanakan puasa sunah tersebut. 2. Itikaf di Bulan Syawal Bagi umat Islam yang belum sempat melakukan itikaf di bulan Ramadan, Syawal menjadi kesempatan untuk menggantinya. Sebuah hadis riwayat Bukhari, artinya: “Kemudian Nabi tidak beri’tikaf pada bulan Ramadan tersebut dan beri’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal.” (HR Bukhari) Hal ini menunjukkan bahwa itikaf tetap menjadi amalan mulia yang bisa dilakukan setelah Ramadan. 3. Menikah di Bulan Syawal Bulan Syawal juga dianjurkan sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Terdapat riwayat bahwa Rasulullah SAW menikahi Sayyidah Aisyah pada bulan Syawal, sehingga bulan ini dianggap memiliki keberkahan tersendiri untuk membangun rumah tangga. Sampai Kapan Bulan Syawal 2026 Berlangsung? Terdapat perbedaan penetapan awal Syawal antara pemerintah dan Muhammadiyah, sehingga akhir bulan Syawal 2026 pun berbeda. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) dan hasil sidang Isbat, bulan Syawal berlangsung hingga Sabtu, 18 April 2026. Sementara menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) 1447 versi Muhammadiyah, bulan Syawal berakhir pada Jumat, 17 April 2026. Perbedaan ini merupakan hal lumrah dalam penetapan kalender Hijriah dan tidak mengurangi semangat umat Islam untuk terus memperbanyak amalan. Dengan mengetahui jadwal Syawal 2026 serta amalan-amalan yang dianjurkan, umat Islam dapat memaksimalkan kesempatan untuk meraih pahala dan keberkahan di bulan penuh kebaikan ini. Semoga bermanfaat.
ARTIKEL30/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Apakah Zakat Fitrah Harus dengan Beras? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini
Apakah Zakat Fitrah Harus dengan Beras? Simak Penjelasan Lengkapnya di Sini
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selama ini, masyarakat di Indonesia identik menunaikan zakat fitrah dengan beras. Namun, ternyata zakat fitrah tidak harus selalu menggunakan beras, melainkan dapat disesuaikan dengan makanan pokok yang dikonsumsi di daerah masing-masing. Di Kota Semarang, besaran zakat fitrah yang umum digunakan adalah setara 2,7 kilogram bahan makanan pokok per orang. Beras memang menjadi pilihan utama karena merupakan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia. Meski demikian, zakat fitrah juga dapat diganti dengan bahan makanan lain seperti jagung, gandum, atau sagu, selama itu merupakan konsumsi sehari-hari masyarakat setempat. Selain dalam bentuk bahan makanan, zakat fitrah juga diperbolehkan dibayarkan menggunakan uang tunai. Hal ini merujuk pada pendapat sebagian ulama, khususnya dari Mazhab Hanafi, yang memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dalam bentuk nilai uang yang setara dengan harga bahan pokok. Di Indonesia, praktik ini juga sudah lazim dilakukan, terutama melalui lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Adapun kisaran nominal zakat fitrah dalam bentuk uang di Baznas Kota Semarang berada di angka Rp50.000 per orang. Dalam pelaksanaannya, kualitas bahan makanan yang digunakan untuk zakat fitrah juga perlu diperhatikan. Dianjurkan untuk menggunakan beras atau bahan pokok dengan kualitas yang sama seperti yang dikonsumsi sehari-hari. Tidak harus menggunakan kualitas terbaik, tetapi juga tidak diperbolehkan menggunakan kualitas yang terlalu rendah atau tidak layak konsumsi. Waktu pembayaran zakat fitrah juga menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Zakat fitrah wajib ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Jika dibayarkan setelah salat Id, maka hukumnya berubah menjadi sedekah biasa, bukan lagi zakat fitrah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan beras sebagai zakat fitrah di Indonesia memang lebih utama atau afdhal. Namun, pembayaran dalam bentuk uang tetap sah dan diperbolehkan, selama mengikuti ketentuan yang berlaku. Kemudahan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menunaikan kewajiban zakat fitrah dengan lebih praktis dan tepat waktu.
ARTIKEL18/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Keutamaan Infaq di Bulan Ramadhan: Pahala Berlipat, Hapus Dosa, dan Buka Pintu Rezeki
Keutamaan Infaq di Bulan Ramadhan: Pahala Berlipat, Hapus Dosa, dan Buka Pintu Rezeki
Bulan Ramadhan merupakan momen istimewa yang selalu dinanti umat Islam di seluruh dunia. Selain menjalankan ibadah puasa, Ramadhan juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya adalah infaq. Keutamaan infaq di bulan Ramadhan tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih ampunan-Nya. Salah satu keutamaan infaq di bulan Ramadhan adalah pahala yang dilipatgandakan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melakukan kebaikan pada bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang melakukan kewajiban di luar Ramadhan” (HR. Ibnu Khuzaimah). Hal ini menunjukkan bahwa setiap amal baik, termasuk infaq, akan mendapatkan ganjaran yang jauh lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi ladang amal yang sangat berharga bagi setiap Muslim. Selain pahala yang berlipat, keutamaan infaq di bulan Ramadhan juga terletak pada kemampuannya dalam menghapus dosa. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api” (HR. Tirmidzi). Infaq yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dapat menjadi jalan taubat bagi seseorang. Dengan hati yang lembut dan penuh kepedulian, seseorang akan lebih mudah menjauhi perbuatan maksiat serta memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tak hanya itu, infaq juga berperan dalam menjaga keberkahan hidup. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 bahwa orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah diibaratkan seperti benih yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana setiap bulir terdapat seratus biji. Ini menjadi bukti bahwa harta yang diinfaqkan tidak akan berkurang, melainkan justru bertambah dalam bentuk keberkahan dan rezeki yang tidak terduga. Keutamaan infaq di bulan Ramadhan juga mampu menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan, terlebih di bulan Ramadhan. Keteladanan beliau menjadi motivasi bagi umat Islam untuk saling berbagi dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Ketika seseorang berinfaq, secara tidak langsung ia mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dengan berbagai keutamaan tersebut, infaq di bulan Ramadhan menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Ini adalah kesempatan emas untuk meraih pahala berlipat, menghapus dosa, serta membuka pintu rezeki. Jangan tunda kebaikan, karena sekecil apapun infaq yang diberikan, Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Jadikan Ramadhan sebagai momentum terbaik untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan.
ARTIKEL18/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Apakah Anak Dalam Kandungan Wajib Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya
Apakah Anak Dalam Kandungan Wajib Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya
Menjelang malam Idulfitri, umat Islam di seluruh dunia bersiap menunaikan zakat fitrah sebagai penyempurna ibadah Ramadan. Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, mulai dari diri sendiri, pasangan, hingga anak-anak yang menjadi tanggungannya. Namun, muncul satu pertanyaan yang cukup sering dibahas: apakah anak yang masih dalam kandungan juga wajib dizakati? Untuk menjawab hal tersebut, kita perlu merujuk pada pandangan para ulama dan sumber hukum fikih yang telah menjadi rujukan selama berabad-abad. Dalam tulisan di laman nu.or.id yang berjudul “Proses Salinan Janin Lewati Ramadhan dan Masuki Syawal, Apakah Wajib Zakat Fitrah”, dijelaskan bahwa menurut ulama madzhab Syafi’i, janin atau bayi dalam kandungan tidak wajib dizakati. Pandangan ini dipegang kuat oleh para ulama besar, salah satunya Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, yang menukil pendapat Ibnu Mundzir. Ibnu Mundzir memaparkan adanya ijma’ (kesepakatan para ulama) yang menyatakan bahwa zakat fitrah tidak diwajibkan atas janin, juga tidak atas ayahnya, dan tidak pula pada harta janin tersebut. Hal ini dijelaskan dalam karya monumental An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab Juz VI halaman 105. Meskipun demikian, ketidakwajiban tersebut bukan berarti orang tua dilarang menzakati janin. Beberapa ulama memiliki pendapat berbeda dalam memandang hal ini. Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Mundzir, mengatakan bahwa menunaikan zakat fitrah untuk janin adalah sunnah, bukan kewajiban. Artinya, jika orang tua ingin memberikan zakat fitrah atas nama janin sebagai bentuk kehati-hatian atau tambahan amal, maka hal tersebut dibolehkan dan termasuk perbuatan baik. Namun, ada kondisi khusus yang juga dibahas ulama. Jika seorang bayi lahir di dua waktu, yakni sebagian tubuhnya lahir sebelum matahari terbenam pada akhir Ramadan dan sebagian lainnya lahir setelah terbenam matahari pada malam Idulfitri, maka para ulama sepakat bahwa bayi tersebut tidak dikenai kewajiban zakat fitrah. Alasannya, bayi masih dianggap sebagai janin selama belum lahir sempurna atau terpisah sepenuhnya dari tubuh ibunya. Kesimpulannya, janin tidak termasuk wajib zakat fitrah menurut madzhab Syafi’i, berdasarkan kesepakatan para ulama klasik. Namun, orang tua boleh memilih untuk membayarkan zakat fitrah atas nama janin sebagai bentuk kesunahan sesuai pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Dengan memahami penjelasan para ulama ini, umat Islam dapat menunaikan zakat fitrah dengan lebih tenang, tepat, dan sesuai tuntunan syariat. Jika terdapat kondisi khusus terkait kelahiran bayi, ada baiknya berkonsultasi dengan tokoh agama setempat untuk memastikan keputusan yang paling sesuai. Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadan.
ARTIKEL17/03/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Semarang.

Lihat Daftar Rekening →