WhatsApp Icon
Mengapa Muharram Disebut dengan Hari Penting? Kenali Makna dan Sejarahnya

Memasuki bulan Muharram, umat Islam di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang, bersiap menyambut Tahun Baru Hijriah yang menjadi salah satu momen penting dalam kalender Islam. Tidak sekadar pergantian tahun, Muharram menyimpan sejarah panjang serta berbagai keutamaan yang menjadikannya sebagai salah satu bulan paling mulia dalam ajaran Islam.

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah atau kalender Qamariyah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia. Kehadiran bulan ini menandai dimulainya tahun baru Islam yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1 Muharram.

Bagi masyarakat Muslim di Semarang, momentum Muharram kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari doa bersama, pengajian, santunan anak yatim, hingga refleksi diri untuk menyambut tahun baru dengan semangat yang lebih baik.

Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci yang dikenal sebagai Al Asyhur Al Hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai kebaikan.

Keistimewaan Muharram juga disebutkan dalam berbagai hadis. Rasulullah SAW bahkan menyebut puasa terbaik setelah bulan Ramadhan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharram.

Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah Puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Banyak ulama menjelaskan bahwa puasa tersebut memiliki keutamaan besar, termasuk menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang telah lalu atas izin Allah SWT. Karena itu, Muharram sering dianggap sebagai momentum terbaik bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memulai lembaran baru kehidupan yang lebih baik.

Di balik peringatan Tahun Baru Islam, terdapat sejarah penting mengenai lahirnya kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini.

Dikutip dari berbagai riwayat yang juga dijelaskan dalam literatur Islam, penetapan kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA sekitar tahun ke-17 Hijriah.

Kala itu, Umar bin Khattab menerima surat dari Abu Musa Al-Asy'ari RA. Namun surat tersebut tidak mencantumkan tanggal maupun waktu pengiriman sehingga menimbulkan kesulitan dalam administrasi pemerintahan.

Situasi tersebut mendorong Umar bin Khattab untuk mengumpulkan para sahabat dan tokoh penting Islam guna membahas perlunya sistem penanggalan resmi bagi umat Islam.

Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan untuk dijadikan titik awal kalender Islam, mulai dari tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun diangkatnya beliau menjadi Rasul, tahun wafatnya Nabi, hingga peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, para sahabat akhirnya sepakat memilih peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai awal penanggalan Islam. Usulan tersebut disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib RA dan diterima oleh para sahabat lainnya.

Sejak saat itu, kalender Islam dikenal sebagai kalender Hijriah, yang berasal dari kata "Hijrah" sebagai simbol perubahan, perjuangan, dan awal kehidupan baru bagi umat Islam.

Bagi warga Semarang dan umat Islam pada umumnya, datangnya bulan Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun. Lebih dari itu, bulan ini merupakan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas ibadah.

Semangat hijrah yang menjadi dasar penetapan kalender Islam dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Dengan memahami sejarah dan makna Muharram, umat Islam diharapkan dapat menyambut Tahun Baru Hijriah dengan penuh rasa syukur, optimisme, dan semangat memperbanyak amal kebaikan.***

18/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
Kapan 10 Muharram 1448 H? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Jadwal Puasa Sunnahnya

Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, umat Islam di Indonesia kembali menyambut salah satu bulan yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Muharram menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus termasuk dalam empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, bulan Muharram juga identik dengan berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Salah satu amalan yang paling banyak dilakukan adalah Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Namun pada tahun 2026, terdapat perbedaan penetapan awal Muharram antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan tersebut membuat jadwal pelaksanaan Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura juga berbeda.

Karena itu, warga Semarang yang ingin menjalankan ibadah puasa sunnah di bulan Muharram perlu mengetahui jadwal sesuai dengan pedoman yang dianut masing-masing.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia serta Maklumat Muhammadiyah, 1 Muharram 1448 Hijriah ditetapkan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Dengan dasar tersebut, maka jadwal puasa sunnah Muharram adalah sebagai berikut:

- Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Rabu, 24 Juni 2026

- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026

Jadwal ini menjadi acuan bagi mayoritas umat Islam yang mengikuti ketetapan pemerintah maupun Muhammadiyah.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama melalui hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PBNU menetapkan bahwa hilal tidak terlihat pada 15 Juni 2026. Oleh sebab itu, bulan Zulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal.

Berdasarkan hasil tersebut, NU menetapkan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.

Dengan demikian, jadwal puasa sunnah versi NU adalah:

- Puasa Tasu'a (9 Muharram 1448 H): Kamis, 25 Juni 2026

- Puasa Asyura (10 Muharram 1448 H): Jumat, 26 Juni 2026

Perbedaan penetapan ini merupakan hal yang lazim terjadi dalam kalender Hijriah karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan, baik melalui hisab maupun rukyat.

Keutamaan Puasa Asyura yang Sayang Dilewatkan

Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan puasa pada hari tersebut.

Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa salah satu keutamaan Puasa Asyura adalah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya.

Selain itu, Puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram juga dianjurkan sebagai bentuk pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi yang pada masa Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura.

Bagi masyarakat Semarang yang ingin memperbanyak ibadah di bulan Muharram, puasa sunnah ini dapat menjadi salah satu amalan yang mudah dilakukan namun memiliki pahala yang besar. Dengan mengetahui jadwal yang tepat sesuai pedoman masing-masing, umat Islam dapat mempersiapkan diri sejak sekarang agar tidak melewatkan momentum ibadah yang hanya datang sekali dalam setahun tersebut.

Karena itu, pastikan untuk mencatat tanggal Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura 2026 sesuai versi yang Anda ikuti agar pelaksanaan ibadah berjalan dengan baik dan sesuai ketentuan.***

18/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa 1 hingga 10 Muharram 1448 H Lengkap dengan Artinya

Umat Islam kini telah memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, salah satu bulan mulia dalam kalender Islam yang memiliki banyak amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Salah satu ibadah yang paling dianjurkan selama bulan ini adalah puasa sunnah Muharram, termasuk Puasa Tasua dan Puasa Asyura yang memiliki keutamaan besar.

Bagi warga Semarang dan sekitarnya yang ingin menjalankan ibadah puasa sunnah Muharram, penting untuk mengetahui bacaan niat yang benar agar ibadah dapat dilaksanakan dengan baik sesuai tuntunan syariat.

Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa puasa di bulan Muharram merupakan puasa sunnah terbaik setelah puasa wajib di bulan Ramadan. Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala.

Niat Puasa Muharram Tanggal 1-8 Muharram 1448 H

Puasa Muharram dapat dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga seterusnya di bulan Muharram. Namun, para ulama menjelaskan bahwa tidak dianjurkan berpuasa satu bulan penuh karena hal tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Berikut bacaan niat puasa sunnah Muharram:

Latin:

Nawaitu shauma asy-syahri al-muharrami sunnatan lill?hi ta'?l?.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah di bulan Muharam karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Tasua 9 Muharram

Puasa Tasua dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Puasa ini memiliki nilai istimewa karena menjadi pembeda antara umat Islam dan kaum Yahudi yang juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Berikut bacaan niat Puasa Tasua:

Latin:

Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnatit Tasu'a lillâhi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a esok hari karena Allah Ta'ala."

Niat Puasa Asyura 10 Muharram

Sementara itu, Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Salah satu keutamaannya adalah dihapuskan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu, sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah riwayat sahih.

Berikut bacaan niat Puasa Asyura:

Latin:

Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i sunnatil asyura lillahi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah Ta'ala."

Kapan Waktu Membaca Niat Puasa Muharram?

Secara umum, niat puasa sunnah sebaiknya dibaca pada malam hari, yakni sejak setelah Magrib hingga sebelum terbit fajar. Namun karena termasuk puasa sunnah, terdapat keringanan bagi seseorang yang belum sempat berniat pada malam hari.

Seseorang masih diperbolehkan berniat setelah terbit fajar hingga sebelum waktu Zuhur, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, maupun aktivitas lain yang membatalkan puasa.

Berikut bacaan niat puasa Muharram yang dapat dibaca pada siang hari:

Latin:

Nawaitu shauma hadzal yaumi ada'i sunnati syahri Muharrami lillahi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa pada hari ini untuk menunaikan puasa sunnah bulan Muharam karena Allah Ta'ala."

Sedangkan untuk Puasa Tasua maupun Asyura yang diniatkan pada siang hari, bacaannya adalah:

Latin:

Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an ada'i sunnatit Tasu'a awil asyura lillâhi ta'ala.

Artinya:

"Aku berniat puasa sunnah Tasu'a atau Asyura hari ini karena Allah Ta'ala."

Meski demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa niat yang dilakukan pada siang hari untuk Puasa Tasua dan Asyura tidak menjadikannya sebagai puasa satu hari penuh. Dalam pandangan tersebut, puasa tetap sah namun dihitung sebagai puasa sunnah mutlak.

Memasuki bulan Muharram 1448 H, umat Islam di Semarang diharapkan dapat memanfaatkan bulan yang penuh keberkahan ini dengan memperbanyak amal ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah Muharram, Tasua, dan Asyura sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.***

17/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
4 Amalan Sunnah di Bulan Muharram 1448 H, Lakukan untuk Menambah Keberkahan

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah segera tiba dan menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memulai lembaran baru yang lebih baik. Bulan Muharram yang menandai awal kalender Hijriah dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia dalam Islam, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya, datangnya bulan Muharram tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ajaran Islam, Muharram termasuk satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Karena keistimewaan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menghindari berbagai perbuatan yang dapat mengurangi pahala.

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Muharram 1448 Hijriah.

1. Memperbanyak Puasa Sunnah Muharram

Salah satu amalan yang paling dianjurkan pada bulan Muharram adalah menjalankan puasa sunnah. Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar setelah puasa Ramadan.

Puasa Tasu'a yang dilaksanakan pada 9 Muharram dan Puasa Asyura pada 10 Muharram menjadi amalan yang banyak dilakukan umat Islam. Selain mendapatkan pahala, puasa juga menjadi sarana melatih kesabaran, mengendalikan diri, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Bagi warga Semarang yang memiliki aktivitas padat, puasa sunnah tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi kesehatan dan pekerjaan masing-masing.

2. Memperbanyak Sedekah dan Berbagi kepada Sesama

Muharram juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial. Berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari memberikan makanan, membantu tetangga yang kesulitan, hingga menyantuni anak yatim.

Di Kota Semarang sendiri, banyak kegiatan sosial yang biasanya digelar oleh masjid, komunitas, maupun lembaga kemanusiaan selama bulan Muharram. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mempererat solidaritas sekaligus menebar manfaat bagi sesama.

Selain membantu orang lain, sedekah juga diyakini menjadi jalan untuk membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.

3. Memperbanyak Dzikir dan Doa

Memasuki tahun baru Hijriah menjadi momen yang tepat untuk memperbanyak dzikir dan doa. Umat Islam dapat mengisi waktu dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dzikir dan doa tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga membantu memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Banyak umat Muslim memanfaatkan awal tahun Hijriah untuk memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan selama satu tahun ke depan.

4. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur'an

Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memulai kebiasaan membaca Al-Qur'an secara rutin. Tidak hanya membaca, umat Islam dianjurkan memahami makna ayat-ayat yang dibaca dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan sederhana seperti meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca Al-Qur'an dapat menjadi langkah awal menuju perubahan diri yang lebih baik sepanjang tahun.

5. Menjaga Silaturahmi dan Memperbaiki Hubungan

Selain memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, bulan Muharram juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Mempererat silaturahmi, saling memaafkan, dan menghindari perselisihan merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Di tengah kesibukan masyarakat perkotaan seperti Semarang, menjaga komunikasi dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga menjadi hal yang penting. Hubungan yang harmonis dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan penuh keberkahan.

Muharram 1448 Hijriah menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan memperbanyak ibadah, menjaga hubungan sosial, dan meningkatkan kualitas diri, tahun baru Islam dapat menjadi awal yang penuh keberkahan dan harapan baru.***

17/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Doa Awal dan Akhir Tahun 1448 H, Amalkan di Bulan Muharram

Umat Islam di Indonesia, termasuk warga Kota Semarang, akan menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah pada Senin sore, 15 Juni 2026. Momen pergantian tahun dalam kalender Hijriah ini menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk melakukan introspeksi diri sekaligus memperbanyak ibadah dan doa.

Berbeda dengan perayaan pergantian tahun Masehi yang identik dengan berbagai hiburan, Tahun Baru Islam lebih banyak diisi dengan kegiatan religius seperti pengajian, dzikir, muhasabah, hingga membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun. Tradisi ini masih banyak dijalankan oleh masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Kota Semarang dan sekitarnya.

Doa akhir tahun dibaca sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir. Sementara itu, doa awal tahun dipanjatkan sebagai harapan agar diberikan keberkahan, perlindungan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan selama setahun ke depan.

Bagi masyarakat yang ingin mengamalkannya, doa akhir tahun biasanya dibaca menjelang berakhirnya bulan Zulhijah atau sebelum masuk waktu Maghrib yang menandai pergantian tahun Hijriah. Sedangkan doa awal tahun dibaca setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharram.

Dalam tradisi Islam, membaca doa akhir tahun bukan sekadar ritual tahunan. Doa ini mengandung permohonan ampun atas berbagai dosa yang mungkin dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja selama satu tahun terakhir.

Melalui doa tersebut, seorang Muslim diajak untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya, memperbaiki kesalahan, serta memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang.

Versi singkat doa akhir tahun yang banyak diamalkan berbunyi:

"Allaahumma maa 'amiltu min 'amalin fii haadzihis sanati maa nahaitanii 'anhu wa lam atub minhu, wa halumta fiihaa 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii, wa da'autanii ilat taubati min ba'di jaraa-atii 'alaa ma'shiyatik. Fa innistaghfartuka faghfir-lii wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaa, wa wa'attanii 'alaihits tsawaaba, fa as-aluka an tataqabbala minnii wa laa taqtha' rajaa-ii minka yaa kariim."

Artinya:

Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."

Doa Awal Tahun 1 Muharram 1448 Hijriah

Selain doa akhir tahun, umat Islam juga dianjurkan membaca doa awal tahun setelah masuk waktu Maghrib pada malam 1 Muharram.

Doa ini berisi harapan agar Allah SWT memberikan perlindungan dari godaan setan, menjaga diri dari perbuatan buruk, serta membimbing setiap langkah agar lebih dekat kepada-Nya.

Bacaan doa awal tahun yang umum diamalkan adalah:

"Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal 'azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Artinya: Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.

Melalui doa tersebut, umat Muslim berharap tahun baru yang datang menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memasuki tahun baru Hijriah, umat Islam diharapkan mampu meninggalkan kebiasaan buruk di masa lalu dan memulai lembaran baru yang lebih baik, penuh keberkahan, serta semakin dekat kepada Allah SWT.***

15/06/2026 | Kontributor: Admin Bidang Penghimpunan

Artikel Terbaru

5 Keutamaan Ibadah Kurban: Makna, Hikmah, dan Nilai Spiritual yang Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
5 Keutamaan Ibadah Kurban: Makna, Hikmah, dan Nilai Spiritual yang Mendekatkan Diri kepada Allah SWT
Menjelang datangnya Idul Adha 2026, umat Muslim di seluruh dunia kembali bersiap menyambut salah satu ibadah istimewa yang sarat makna, yaitu ibadah kurban. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban merupakan simbol ketaatan, keikhlasan, dan bentuk penghambaan yang penuh nilai spiritual. Dalam ajaran Islam, amalan ini memiliki banyak keutamaan yang tidak hanya dirasakan saat proses pelaksanaannya, tetapi juga membawa hikmah mendalam bagi kehidupan seorang Muslim. Berikut lima keutamaan dan hikmah ibadah kurban yang perlu diketahui. Pertama, kurban adalah amalan yang paling dicintai Allah SWT pada hari Nahr, yaitu hari Idul Adha. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari tersebut selain menyembelih hewan kurban. Bahkan, darah hewan yang dikurbankan disebutkan akan sampai kepada Allah sebelum tetesannya menyentuh bumi. Hal ini menggambarkan betapa besar nilai ibadah tersebut di sisi Allah SWT. Kedua, ibadah kurban menjadi sumber pahala yang melimpah. Setiap helai bulu hewan kurban akan dihitung sebagai satu kebaikan bagi orang yang melaksanakannya. Semakin besar, sehat, dan berkualitas hewan yang dipilih, semakin banyak pula helai bulu yang menjadi pahala. Keutamaan ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah bagi hamba-Nya yang bersedia berkurban dengan hati yang ikhlas. Ketiga, hewan kurban juga disebutkan akan menjadi kendaraan di akhirat. Pada hari kiamat kelak, hewan tersebut akan datang dengan tanduk, bulu, dan kuku kakinya, lalu menjadi kendaraan yang membantu pekurbannya melewati Shirat. Gambaran ini memberikan motivasi spiritual yang kuat agar umat Muslim tidak ragu berkurban selama mampu. Keutamaan keempat adalah kurban berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Ibadah ini bukan sekadar proses fisik menyembelih hewan, tetapi lebih pada ketakwaan yang menyertai niat dan keikhlasan seseorang. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, bukan daging dan darah hewan yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang berkurban. Terakhir, ibadah kurban menjadi cara untuk menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim AS. Kisah keteguhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menerima perintah Allah merupakan pelajaran berharga tentang ketaatan dan keimanan. Dengan melaksanakan kurban, seorang Muslim mengingat kembali sejarah penuh keteladanan tersebut sekaligus meneladani pengorbanan dan kesabaran dua nabi mulia. Dengan memahami lima keutamaan tersebut, ibadah kurban bukan lagi sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi perjalanan spiritual yang memperkuat iman, menumbuhkan rasa syukur, dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Melaksanakan ibadah berkurban hukumnya sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan bagi mereka yang mampu. Namun, apabila belum, Anda dapat pula berpartisipasi untuk melaksanakan ibadah kurban dalam bentuk sedekah daging kurban di lembaga terpercaya, seperti halnya BAZNAS Kota Semarang. Saat ini, BAZNAS Kota Semarang membuka kesempatan bagi Anda yang ingin sedekah daging kurban, cukup dengan mulai dari Rp 300.000 dengan klik link berikut ini sedekah daging kurban tersalurkan dengan akurat, terpercaya dan transaparan. https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah Demikian informasi mengenai keutamaan ibadah berkuban. Semoga Idul Adha 2026 membawa kedamaian dan keberkahan bagi seluruh umat Muslim.***
ARTIKEL25/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Bacaan Doa saat Wukuf di Arafah Lengkap dengan Keutamaannya
Ketahui! Ini Bacaan Doa saat Wukuf di Arafah Lengkap dengan Keutamaannya
Menjelang Selasa, 26 Mei 2026, umat Islam di seluruh dunia bersiap memasuki salah satu fase terpenting dalam rangkaian ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah. Momen ini bukan hanya menjadi puncak haji, tetapi juga waktu terbaik untuk memanjatkan doa, memohon ampunan, serta mengharap keberkahan dari Allah SWT. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa hari Arafah adalah hari yang sangat agung, bahkan menjadi kesempatan langka bagi hamba untuk mendekat kepada Tuhannya. Wukuf di Arafah bukan sekadar berdiam diri. Ia adalah ibadah hati dan lisan, tempat di mana doa-doa akan lebih didengar, dan ampunan lebih dekat untuk diraih. Karena itu, penting bagi para jamaah haji serta umat Muslim di mana pun mereka berada untuk mengetahui keutamaan hari ini serta doa-doa yang dianjurkan. Keutamaan Hari Arafah yang Jarang Diketahui Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka (jamaah haji) kepada para malaikat.” (HR. Muslim) Hadis ini menggambarkan betapa istimewanya hari tersebut. Pembebasan dari neraka, kebanggaan Allah terhadap hamba-Nya, serta kedekatan dengan Sang Pencipta menjadi karunia yang tidak ditemukan pada hari-hari lain. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan istighfar pada hari tersebut. Doa Terbaik untuk Diamalkan Saat Wukuf Rasulullah SAW menegaskan: “Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah.” (HR. Tirmidzi, hasan) Di antara doa utama yang dianjurkan untuk diperbanyak adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Doa ini sangat dianjurkan di hari Arafah karena merupakan kalimat tauhid yang diucapkan oleh Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya. Selain itu, beberapa doa lain juga sangat dianjurkan untuk dibaca: Doa memohon ampunan: Allaahummaghfir lii warhamni watub ‘alayya Doa kebaikan dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah: 201): Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar Doa memohon keteguhan iman: Allaahumma tsabbit qalbii ‘alaa diinik Adab Berdoa di Hari Arafah Agar doa semakin bermakna, beberapa adab berikut sangat dianjurkan: - Menghadap kiblat saat berdoa - Mengangkat tangan dengan penuh kerendahan hati - Memperbanyak tahlil, zikir, dan istighfar - Mengawali doa dengan pujian kepada Allah dan sholawat - Berdoa dengan khusyuk serta penuh keyakinan - Memanfaatkan waktu dari zawal hingga matahari terbenam tanpa menyia-nyiakan momen Hari Arafah adalah kesempatan langka yang datang hanya sekali dalam setahun. Baik jamaah yang berada di Padang Arafah maupun umat Muslim di seluruh dunia, semuanya dapat meraih keutamaan hari ini dengan memperbanyak doa dan mendekat kepada Allah. Manfaatkan setiap menitnya, karena doa di hari Arafah adalah salah satu doa terbaik yang pernah dijanjikan.***
ARTIKEL25/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Banyak umat muslim bertanya, “Kalau tidak puasa Tarwiyah, apa boleh puasa Arafah?” Pertanyaan ini wajar muncul setiap memasuki bulan Zulhijah, terutama menjelang hari-hari istimewa bagi umat Islam. Jawabannya adalah boleh. Seorang muslim tetap dapat melaksanakan puasa Arafah meskipun sebelumnya tidak menjalankan puasa Tarwiyah. Puasa Tarwiyah yang biasanya dikerjakan pada tanggal 8 Zulhijah merupakan amalan sunnah yang cukup populer di tengah masyarakat. Meskipun demikian, sebagian ulama menilai bahwa hadis-hadis yang secara khusus menjelaskan keutamaan puasa tersebut tidak berada pada derajat yang kuat atau sahih. Meski begitu, bukan berarti puasa Tarwiyah tidak boleh dilakukan. Umat muslim tetap diperkenankan berpuasa pada tanggal tersebut karena adanya hadis umum yang menjelaskan keutamaan beramal saleh di awal bulan Zulhijah, termasuk berpuasa. Situs jatim.nu.or.id pernah menampilkan hadis yang sering dijadikan dasar anjuran untuk berpuasa pada awal Zulhijah. Dalam hadis tersebut disebutkan: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari pada awal Dzulhijjah, pada hari 'Asyura' (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya.” (HR. Abu Daud No. 2437) Hadis ini menjadi landasan bagi umat muslim untuk memperbanyak ibadah pada sembilan hari pertama Zulhijah, termasuk menjalankan puasa Tarwiyah. Walaupun tidak memiliki dalil khusus yang kuat, amalan ini tetap termasuk ibadah sunnah yang diberi keleluasaan untuk dikerjakan. Berbeda dengan puasa Tarwiyah, puasa Arafah memiliki dalil yang lebih kuat serta dikenal memiliki keutamaan besar, khususnya bagi umat muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Keutamaan tersebut dijelaskan dalam hadis berikut: “Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu. (HR. Muslim No. 1162) Melalui hadis tersebut, jelas bahwa puasa Arafah memiliki nilai pahala yang sangat istimewa. Karena itu, walaupun seseorang tidak sempat melakukan puasa Tarwiyah, ia tetap sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Baik puasa Tarwiyah maupun puasa Arafah sama-sama termasuk ibadah sunnah. Artinya, amalan ini tidak diwajibkan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Namun, siapa pun yang mengerjakannya tentu akan mendapatkan pahala dan keutamaan dari Allah SWT.***
ARTIKEL22/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Keutamaan Puasa Arafah Lengkap dengan Doa dan Cara Mengamalkannya
Keutamaan Puasa Arafah Lengkap dengan Doa dan Cara Mengamalkannya
Menjelang datangnya Idul Adha 2026, umat Islam di seluruh dunia kembali mempersiapkan diri untuk menyambut bulan penuh keberkahan. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, dua puasa yang memiliki nilai spiritual tinggi dan membawa berbagai keutamaan bagi yang mengamalkannya. Khususnya, puasa Arafah yang dikerjakan pada 9 Dzulhijjah, menjadi momen istimewa yang diyakini mampu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Secara umum, puasa Arafah diawali dengan membaca niat. Puasa ini berada dalam rentetan amalan sunnah yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah hari-hari yang digambarkan sebagai hari paling mulia dalam setahun. Sebelum memasuki tanggal 9 Dzulhijjah, umat Muslim biasanya melaksanakan puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah, lalu meneruskannya dengan puasa Arafah keesokan harinya. Niat Puasa Arafah Berikut bacaan niat puasa Arafah yang dianjurkan: Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta'ala (Aku niat puasa sunah Arafah karena Allah Ta'ala). Idealnya, niat dibacakan pada malam hari hingga sebelum fajar. Setelah itu, umat Muslim dapat melanjutkan dengan sahur, salat Subuh, dan menyiapkan diri untuk menjalani puasa hingga waktu berbuka. Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Puasa Arafah memiliki keutamaan besar, dan berikut beberapa di antaranya: 1. Mendapat Ampunan Dosa Puasa Arafah menjadi kesempatan emas untuk meraih ampunan Allah SWT. Disebutkan bahwa puasa Tarwiyah menghapus dosa satu tahun, sedangkan puasa Arafah menghapus dosa dua tahun: satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. Selain itu, doa yang dipanjatkan pada hari Arafah juga memiliki peluang besar untuk dikabulkan, karena bertepatan dengan waktu wukuf para jamaah haji di Padang Arafah. 2. Mendapat Pahala Berlimpah Amalan sunnah yang dilakukan dalam 10 hari pertama Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah, dibalas dengan pahala berlipat ganda. 3. Seperti Puasa Dua Tahun Penuh Terdapat hadits yang menyebutkan bahwa puasa Tarwiyah seperti puasa setahun penuh, dan puasa Arafah seperti berpuasa selama dua tahun penuh. 4. Berbuat Baik di Hari Istimewa Karena 10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari terbaik dalam setahun, segala amal saleh yang dilakukan di dalamnya memiliki nilai kebaikan yang berlipat ganda. Cara pelaksanaannya sama seperti puasa sunnah lainnya: - Membaca niat puasa Arafah pada malam hari atau sebelum fajar. - Makan sahur untuk mendapatkan keberkahan dan kekuatan selama berpuasa. - Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri. - Berbuka saat matahari terbenam atau memasuki waktu Magrib. Puasa Arafah menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena mengandung banyak keutamaan dan keberkahan. Dengan memahami niat, keutamaan, dan tata caranya, umat Muslim dapat mempersiapkan diri lebih baik dalam menyambut Idul Adha 2026. Semoga amalan kita diterima Allah SWT dan membawa keberkahan bagi kehidupan.***
ARTIKEL22/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Pelaksanaan Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Lengkap dengan Niat
Jadwal Pelaksanaan Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Lengkap dengan Niat
Menjelang tibanya Hari Raya Idul Adha 2026, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menyambut bulan penuh keberkahan dengan memperbanyak amal ibadah. Dua ibadah sunnah yang paling dianjurkan adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, yang memiliki jadwal pelaksanaan berbeda serta penuh makna spiritual. Keduanya menjadi momen penting yang selalu dinantikan karena menghadirkan limpahan pahala dan keberkahan bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada tahun 2026, puasa Tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah 1447 H, sementara puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah 1447 H, yakni satu hari sebelum Idul Adha. Penamaan Tarwiyah memiliki sejarah panjang yang merujuk pada kebiasaan para jamaah haji di masa lampau. Saat itu, mereka mengisi persediaan air Zamzam sebagai bekal perjalanan menuju Arafah dan Mina. Air ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk hewan tunggangan mereka sepanjang perjalanan ibadah haji. Niat dan Tata Cara Puasa Tarwiyah Puasa Tarwiyah termasuk puasa sunnah yang sangat dianjurkan karena keutamaannya yang besar. Adapun bacaan niat puasa Tarwiyah adalah: “Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta'aalaa.” Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah hari Tarwiyah karena Allah Ta'ala.” Tata cara pelaksanaannya tidak berbeda dengan puasa sunnah lainnya, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Yang membedakan hanyalah hari pelaksanaannya, yakni secara khusus pada tanggal 8 Zulhijah. Jika dilaksanakan di luar tanggal tersebut, puasa ini tidak lagi disebut sebagai puasa Tarwiyah. Puasa Arafah dan Waktu Pelaksanaannya Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Zulhijah, bertepatan dengan waktu wukuf bagi jamaah haji di Padang Arafah. Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, puasa Arafah menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan luar biasa, termasuk pengampunan dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Momentum puasa Arafah erat kaitannya dengan rukun haji yang paling utama, yaitu wukuf di Arafah. Pada hari tersebut, jamaah haji berkumpul mengenakan pakaian ihram, berdiri di Padang Arafah sebagai simbol ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT. Adapun bacaan niat puasa Arafah adalah: “Nawaitu shauma ‘arafata sunnatal lillaahi ta'aalaa.” Artinya: “Saya niat berpuasa sunnah hari Arafah karena Allah Ta'ala.” Dengan memahami jadwal, tata cara, dan bacaan niat di atas, umat Islam dapat mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Idul Adha 2026 dengan lebih baik. Semoga puasa Tarwiyah dan Arafah yang dikerjakan tahun ini menjadi amal terbaik dan membawa keberkahan bagi setiap yang melaksanakannya.***
ARTIKEL21/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Keutamaan Sedekah di Bulan Dzulhijjah: Dilipatgandakan Pahala Amal Ibadah
Ketahui! Ini Keutamaan Sedekah di Bulan Dzulhijjah: Dilipatgandakan Pahala Amal Ibadah
Bulan Dzulhijjah selalu menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain dikenal sebagai bulan pelaksanaan ibadah haji dan kurban, bulan ini juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh, termasuk bersedekah. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa amalan kebaikan yang dilakukan pada hari-hari pertama Dzulhijjah memiliki nilai pahala yang sangat besar dan lebih dicintai oleh Allah SWT. Tidak mengherankan bila banyak umat Islam memanfaatkan bulan penuh kemuliaan ini untuk berlomba-lomba menebar kebaikan. Sedekah sendiri merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena memiliki banyak keutamaan dan manfaat. Ketika dilakukan pada bulan Dzulhijjah, sedekah menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan hari-hari yang diberkahi, termasuk sepuluh hari pertamanya yang disebut sebagai waktu paling utama untuk memperbanyak ibadah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW menegaskan keutamaan luar biasa dari amalan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Beliau bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah, sebagai bagian dari amal saleh, akan mendapatkan ganjaran yang lebih besar jika dilakukan di waktu tersebut. Allah SWT juga menggambarkan betapa besarnya ganjaran bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan kebaikan. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 disebutkan bahwa sedekah dapat dilipatgandakan hingga ratusan kali, seperti benih yang tumbuh menjadi tujuh bulir dengan seratus biji pada setiap bulirnya. Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap sedekah yang kita keluarkan tidak akan sia-sia, bahkan akan mendatangkan pahala berlipat yang hanya Allah yang menentukan kadarnya. Bagi mereka yang belum mampu berkurban, sedekah juga menjadi alternatif ibadah bernilai tinggi pada bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak mampu berkurban, maka hendaklah ia memperbanyak sedekah.” Hal ini menegaskan bahwa setiap Muslim tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pahala besar di bulan mulia ini. Selain sebagai ibadah, sedekah juga menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah SWT. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru akan menambah keberkahan. Sedekah juga dapat menghapus dosa, sebagaimana air memadamkan api, serta memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi pelakunya. Untuk memudahkan masyarakat dalam menyalurkan sedekah, BAZNAS Kota Semarang kini menyediakan layanan sedekah online yang cepat, mudah, dan transparan. Anda dapat langsung menunaikan sedekah melalui laman resmi berikut: https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah Demikian ulasan mengenai keutamaan sedekah di bulan Dzulhijjah 2026. Semoga menjadi pengingat untuk terus menebar kebaikan di bulan penuh berkah ini.***
ARTIKEL20/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bacaan Niat Puasa Dzulhijjah 2026 Lengkap dengan Arab Latin dan Terjemahannya
Bacaan Niat Puasa Dzulhijjah 2026 Lengkap dengan Arab Latin dan Terjemahannya
Simak selengkapnya pada artikel ini untuk temukan informasi terkait bacaan niat puasa dzulhijjah yang sudah berlangsung sejak tanggal 18 Mei 2026 kemarin. Dzulhijjah adalah bulan ke 12 dan terakhir dalam kalender Hijriah yang sering dikenal dengan bulan ibadah haji serta kurban. Sepuluh hari pertama di bulan ini menjadi salah satu hari-hari yang dimuliakan, sehingga dianjurkan untuk melaksanakan kesunnahannya seperti halnya melaksanakan puasa. Puasa di bulan Dzulhijjah dilaksanakan selama 10 hari lamanya, yakni mulai tanggal 1-10 Dzulhijjah yang mana 2 harinya termasuk Tarwiyah dan Arafah, sehingga untuk melaksanakan puasa terdapat pebedaan niat yang perlu Anda ketahui. Agar tidak terjadi kesalahan dalam melafalkan niat puasa dzulhijjah, Anda dapat simak selengkapnya pada artikel ini. Dilansir dari laman NU Online, berikut bacaan niat puasa 1-7 Dzulhijjah, lengkap dengan puasa 8 Dzulhijjah (tarwiyah) dan puasa 9 Dzulhijjah yakni arafah: 1. Niat Puasa 1-7 Dzulhijjah Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an ada'i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta'ala. Artinya: "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta'âlâ." 2. Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an ada'i tarwiyata sunnatan lillahi ta'ala. Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah ta'âlâ." 3. Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an ada'i arafata sunnatan lillahi ta'ala. Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah ta'âlâ." Demikian informasi mengenai niat puasa Dzulhijjah 1447 H yang dapat Anda lafalkan ketika hendak melaksanakan kesunnah di bulan penuh berkah ini.***
ARTIKEL20/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
3 Hikmah Idul Adha 2026: Makna Mendalam di Balik Pengorbanan dan Kepedulian Sosial
3 Hikmah Idul Adha 2026: Makna Mendalam di Balik Pengorbanan dan Kepedulian Sosial
Menjelang datangnya Idul Adha 2026, umat Islam di seluruh dunia kembali diingatkan pada rangkaian ibadah yang sarat makna dan penuh nilai spiritual. Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban, melainkan momen besar untuk meneguhkan kembali makna keikhlasan, ketaatan, serta kepedulian sosial. Dalam artikel ini, kita akan membahas tiga hikmah Idul Adha yang perlu direnungkan agar ibadah kurban membawa manfaat lahir dan batin. Sebelum memasuki inti pembahasan, penting untuk memahami bahwa nilai utama Idul Adha tidak hanya terletak pada ritualnya. Di balik prosesi kurban, terkandung pelajaran hidup yang mampu membentuk karakter seorang Muslim agar semakin dekat dengan Allah SWT dan semakin peka terhadap sesama. Oleh karena itu, memahami hikmah Idul Adha menjadi bagian penting dalam menyempurnakan makna ibadah. 1. Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Hikmah Idul Adha yang paling utama adalah kisah monumental tentang ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi simbol kepasrahan dan kepatuhan total terhadap perintah Allah SWT, bahkan saat perintah tersebut terasa sangat berat dan sulit diterima secara logika manusia. Perintah penyembelihan seorang anak oleh ayahnya sendiri bukanlah perkara mudah, tetapi keduanya menunjukkan keteguhan iman yang sempurna. Dalam keseharian, hikmah ini mengajarkan bahwa keimanan harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Ujian hidup yang kita hadapi sering kali membutuhkan “pengorbanan” dalam bentuk kesabaran, kejujuran, dan kemampuan menahan hawa nafsu. Idul Adha mengingatkan bahwa ketaatan kepada Allah adalah prioritas utama di atas kepentingan duniawi. Selain itu, kisah Nabi Ibrahim juga menjadi teladan tentang keikhlasan. Beliau tidak memperdebatkan perintah Allah, tetapi melaksanakan dengan hati yang berserah penuh. Inilah makna mendalam yang menjadi fondasi ibadah kurban: penyembelihan ego, kesombongan, dan keinginan duniawi agar hati kembali bersih. 2. Menghadirkan Keikhlasan dalam Setiap Ibadah Keikhlasan merupakan hikmah penting dari perayaan Idul Adha. Dalam proses berkurban, Allah SWT menekankan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging maupun darah hewan, melainkan ketakwaan dan niat tulus pelakunya. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Hajj ayat 37, yang menegaskan bahwa nilai spiritual kurban terletak pada niat. Hikmah ini mengingatkan bahwa setiap amal ibadah harus dilandasi oleh keikhlasan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menerapkannya dengan berbuat baik tanpa berharap pujian. Sikap ikhlas akan melahirkan ketenangan hati dan menjauhkan kita dari sifat riya. Idul Adha menjadi momentum pelatihan spiritual untuk menjaga kemurnian niat dalam setiap tindakan. 3. Menguatkan Solidaritas dan Kepedulian Sosial Salah satu nilai paling terasa dari Idul Adha adalah tumbuhnya semangat berbagi. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar menjadi simbol bahwa Islam mengajarkan keadilan sosial. Dalam momen ini, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin karena semua merasakan nikmat yang sama. Hikmah Idul Adha juga menegaskan bahwa sebagian harta yang kita miliki merupakan hak orang lain. Dengan berbagi, umat Islam mempererat tali persaudaraan dan mengurangi kesenjangan sosial. Momentum Idul Adha pun menjadi ajang untuk menghadirkan empati dan memperkuat kebersamaan dalam masyarakat. Lebih dari sekadar ritual, aktivitas berbagi daging kurban menunjukkan bahwa Idul Adha adalah waktu untuk memperkokoh hubungan antar manusia. Ibadah ini tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga membangun harmoni sosial yang saling menguatkan. Idul Adha 2026 menjadi kesempatan bagi kita untuk memperdalam makna pengorbanan, memperkuat keikhlasan, dan meningkatkan kepedulian. Dengan memahami hikmah-hikmah ini, diharapkan umat Islam dapat memaknai ibadah kurban tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai pedoman hidup yang membawa keberkahan. Bagi Anda yang ingin melaksanakan qurban dengan mudah, cepat dan pendistribusian transparan dapat salurkan juga melalui BAZNAS Kota Semarang. Cukup dengan klik link berikut ini yang tersedia di laman kantor digital BAZNAS Kota Semarang. https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah Caranya dengan pilih jenis dana qurban dan ikuti beberapa langkah yang tersedia. Demikian informasi mengenai 3 hikmah Idul Adha 2026 yang dapat Anda ketahui.***
ARTIKEL19/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Bolehkah Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dengan Qadha Ramadhan? Ini Penjelasan Lengkap dengan Niatnya
Bolehkah Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dengan Qadha Ramadhan? Ini Penjelasan Lengkap dengan Niatnya
Bulan Dzulhijjah sudah tiba, mulai tanggal 18 Mei 2026 seluruh umat Islam disunnahkan untuk melakukan puasa sunnah untuk menyambut datangnya bulan penuh keberkahan ini. Seperti kita ketahui, saat bulan dzulhijjah datang, kita dianjurkan melaksanakan puasa sunnah 10 hari hingga menjelang datangnya tarwiyah dan arafah. Akan tetapi, terkadang ada pula yang ingin melaksanakan puasa sunnah tersebut namun belum menyelesaikan qadha puasa Ramadhan di tahun ini. Lantas, apakah boleh menggabungkan keduanya? Untuk mengetahui jawabannya, Anda dapat simak penjelasannya pada artikel ini lengkap dengan niat. Apakah boleh menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dengan puasa sunnah Dzulhijjah? Mengutip penjelasan MUI Digital, seseorang dibolehkan melaksanakan puasa qadha Ramadhan bertepatan dengan hari-hari sunnah di bulan Dzulhijjah. Artinya, ketika ia berpuasa untuk mengganti kewajiban Ramadhan, ia tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah Dzulhijjah. Pandangan ini juga selaras dengan fatwa Imam Al-Barizi yang dinukil oleh Syekh Abu Bakr Syatha Ad-Dimyathi. Dalam penjelasannya, beliau menyebut bahwa puasa di hari-hari yang memiliki keutamaan khusus secara otomatis menghadirkan pahala puasa sunnah, meskipun seseorang hanya berniat mengerjakan puasa wajib seperti qadha Ramadhan. Namun, laman NU Online menyarankan bahwa bagi seseorang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, lebih baik mendahulukan puasa wajib. Tetapi jika teringat mendekati hari-hari dianjurkannya puasa Dzulhijjah, maka qadha Ramadhan bisa dilakukan pada saat itu agar mendapatkan dua pahala sekaligus. Buya Yahya juga menegaskan hal serupa dalam kajiannya di Al-Bahjah TV. Menurut beliau, puasa wajib harus didahulukan dan tidak boleh digabungkan niatnya. Niat puasa qadha harus berdiri sendiri, sementara pahala puasa sunnah akan otomatis mengikuti karena dilakukan di hari-hari yang utama. Puasa Dzulhijjah dianjurkan dilaksanakan sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Berikut niatnya: 1. Niat Puasa 1–7 Dzulhijjah: “Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillaahi ta’aala.” Artinya: “Aku berniat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Ta’ala.” 2. Niat Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): “Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta’aala.” Artinya: “Saya berniat puasa Tarwiyah karena Allah Ta’ala.” 3. Niat Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): “Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillaahi ta’aala.” Artinya: “Aku berniat puasa Arafah karena Allah Ta’ala.” Dengan memahami hukum dan tata caranya, umat Islam dapat memaksimalkan ibadah di bulan Dzulhijjah dengan penuh kesadaran dan keutamaan. Semoga ibadah kita diterima dan diberkahi Allah SWT.***
ARTIKEL18/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Kurban sebagai Kritik terhadap Kapitalisme Modern
Kurban sebagai Kritik terhadap Kapitalisme Modern
Di tengah dunia yang diwarnai ketimpangan dan ketidakadilan distribusi kekayaan yang mendorong manusia untuk terus memiliki, menumpuk, dan mengakumulasi kekayaan, ibadah kurban hadir dengan logika yang berlawanan. Ia tidak mengajarkan bagaimana memperoleh, tetapi bagaimana mengikhlaskan. Dalam sistem kapitalisme, orang bebas mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Itu tidak salah. Justru dianggap wajar, bahkan didorong. Distribusi? Ya, diserahkan ke pasar. Siapa punya akses, dia dapat. Tapi kurban tidak berjalan dengan logika itu. Di momen kurban, harta yang kita punya tidak lagi dipertahankan, tapi dilepas. Dan pelepasannya juga tidak acak, sudah jelas arahnya kepada orang yang membutuhkan. Ada satu ayat cukup menampar cara berpikir kita, yaitu Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 37. Intinya sederhana: bukan daging atau darah yang sampai kepada Allah, tapi ketakwaan. Artinya adalah yang dilihat bukan output fisiknya, tapi proses batinnya. Ini menarik, karena berarti kurban itu sebenarnya lebih banyak bekerja di dalam diri manusia, bukan di luar. Yang membuat kurban unik adalah posisinya yang tidak wajib, namun juga tidak bisa dianggap enteng. Kalau pajak, jelas diwajibkan setiap individu. Kalau sedekah, adalah kesukarelaan. Tapi kurban? Sunnah, tapi ada dorongan moral yang cukup kuat, apalagi kalau kita mampu. Dan anehnya, justru dari situ muncul distribusi yang nyata. Tidak ada negara yang memaksa. Tidak juga sepenuhnya diatur pasar. Tapi setiap tahun, dalam waktu yang sangat singkat, daging bisa tersebar ke banyak orang. Kurban memang tidak menyelesaikan masalah itu secara total. Tapi setidaknya, ia memberikan kehangatan di setiap rumah kaum muslimin, walaupun sederhana. Orang yang punya kemampuan membeli hewan kurban. Lalu dagingnya dibagikan. Ini merupakan proses yang tidak rumit, namun memiliki dampak yang nyata Di dunia yang terus mendorong kita untuk mengambil sebanyak-banyaknya. Kurban berfungsi sebagai ”rem” manusia selalu mengikhlaskan apa yang diperoleh. Kurban adalah ritual tahunan, untuk selalu mengingat di sekeliling kita.
ARTIKEL18/05/2026 | Humas BAZNAS Kota Semarang
Kurban sebagai Instrumen Peningkatan Gizi Indonesia
Kurban sebagai Instrumen Peningkatan Gizi Indonesia
Kalau kita bicara soal gizi di Indonesia, sering kali yang dibahas itu angka stunting, malnutrisi, atau kekurangan protein. Tapi kalau ditarik ke level yang lebih sederhana, masalahnya sebenarnya cukup konkret, tidak semua orang bisa makan makanan bergizi secara rutin, terutama protein hewani. Daging, misalnya. Secara teori, semua orang tahu itu penting. Tapi dalam praktiknya, tidak semua keluarga bisa mengaksesnya dengan mudah. Harganya relatif mahal, dan dalam banyak kasus, bukan jadi prioritas utama. Masalah gizi sering kali bukan soal tidak ada makanan, tapi soal kualitas. Karbohidrat mungkin cukup, tapi protein? Belum tentu. Padahal, protein hewani punya peran penting dalam: pertumbuhan perbaikan jaringan tubuh perkembangan otak Sayangnya, akses terhadap sumber protein seperti daging masih terbatas bagi sebagian masyarakat. Akhirnya, konsumsi protein jadi tidak optimal. Dalam beberapa hari, distribusi daging terjadi dalam skala besar. Orang-orang yang mungkin jarang, bahkan hampir tidak pernah makan daging, tiba-tiba mendapatkannya. Kalau dipikir-pikir, ini menarik. Karena dalam sistem normal, distribusi pangan sangat bergantung pada daya beli. Tapi dalam kurban, logika itu berubah. Akses tidak lagi ditentukan oleh kemampuan ekonomi, tapi oleh mekanisme sosial dan keagamaan. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 36, ada anjuran untuk makan sebagian daging kurban dan membagikannya kepada yang membutuhkan. Artinya, sejak awal kurban memang tidak dimaksudkan berhenti pada individu, namun kepada orang yang membutuhkan. Pada akhirnya, kurban memang bukan jawaban atas semua masalah gizi. Tapi dalam ibadah, ada potensi yang sering kali belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ia mengingatkan bahwa akses terhadap makanan bergizi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal kepedulian.
ARTIKEL13/05/2026 | Humas BAZNAS Kota Semarang
Ketahui! Ini Waktu Terbaik untuk Melakukan Penyembelihan Kurban sesuai Syariat Islam
Ketahui! Ini Waktu Terbaik untuk Melakukan Penyembelihan Kurban sesuai Syariat Islam
Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia bersiap melaksanakan dua amalan utama: salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. Ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan disempurnakan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, memahami waktu penyembelihan kurban menjadi sangat penting agar ibadah yang dilakukan benar-benar sah sesuai syariat. Dalam Islam, kurban tidak bisa dilakukan sembarangan. Keabsahan kurban tidak hanya ditentukan oleh jenis hewan atau niat, tetapi juga waktu penyembelihan. Jika penyembelihan dilakukan di luar waktu yang telah ditetapkan, maka hewan tersebut tidak dianggap sebagai kurban, melainkan hanya sembelihan biasa. Inilah sebabnya pengetahuan tentang batas waktu penyembelihan kurban menjadi hal yang wajib dipahami setiap Muslim. Berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW, waktu penyembelihan kurban dimulai setelah salat Idul Adha selesai pada tanggal 10 Dzulhijjah. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Al-Barra' bin Azib, bahwa siapa pun yang menyembelih sebelum salat Id, maka sembelihannya tidak sah sebagai kurban. Mayoritas ulama sepakat bahwa penyembelihan baru bisa dilakukan setelah matahari terbit dan salat Id selesai dilaksanakan, kira-kira 15 menit setelah terbit matahari. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menegaskan bahwa penyembelihan yang dilakukan sebelum waktu tersebut harus diulang. Bahkan, jika seseorang menyembelih satu menit lebih awal sebelum salat Id dimulai, ibadah itu tidak sah sebagai kurban. Untuk lebih berhati-hati, para ulama menganjurkan agar penyembelihan dilakukan setelah rangkaian khutbah Idul Adha selesai. Selain mengetahui kapan dimulai, batas akhir waktu penyembelihan juga tidak boleh diabaikan. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menetapkan bahwa waktu penyembelihan berlangsung selama empat hari, yaitu 10 hingga 13 Dzulhijjah. Artinya, penyembelihan dapat dilakukan pada hari raya dan tiga hari tasyrik. Meski begitu, ada pendapat Imam Malik yang membatasi sampai tanggal 12 Dzulhijjah. Namun, pandangan yang membolehkan hingga tanggal 13 lebih banyak diamalkan karena dianggap memberi kelonggaran bagi umat. Yang penting, penyembelihan harus dilakukan sebelum matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Walaupun hari tasyrik adalah waktu yang sah, beberapa ulama menyebut menyembelih pada malam hari sebagai makruh. Alasannya, minimnya pencahayaan dapat menyebabkan proses penyembelihan kurang optimal dan berisiko terhadap kebersihan. Namun, secara hukum, kurban yang disembelih pada malam hari tetap sah selama masih dalam tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Waktu terbaik adalah pagi hari setelah salat Id, karena memungkinkan distribusi daging dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Memahami waktu penyembelihan kurban adalah bagian penting dari kesempurnaan ibadah Idul Adha. Dengan memastikan waktu dimulai setelah salat Id dan berakhir sebelum 13 Dzulhijjah terbenam, Muslim dapat melaksanakan kurban dengan benar, sah, dan maksimal pahalanya. Semakin tepat waktu pelaksanaannya, semakin sempurna pula nilai ibadah yang dikerjakan.***
ARTIKEL13/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Keistimewaan Bulan Dzulhijjah: Momentum Emas untuk Meraih Pahala Berlipat
Keistimewaan Bulan Dzulhijjah: Momentum Emas untuk Meraih Pahala Berlipat
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan suci dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Sebagai bulan kedua belas dalam penanggalan Islam, Dzulhijjah menjadi waktu penting pelaksanaan ibadah haji dan hari raya Iduladha. Dua ibadah agung ini menjadikan Dzulhijjah sebagai bulan penuh keberkahan, peluang amal, serta kesempatan besar untuk meraih pahala yang berlipat ganda. Dalam artikel ini, kita akan membahas keutamaan Dzulhijjah, amalan yang dianjurkan, serta makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Dzulhijjah termasuk dalam empat bulan suci (asyhurul hurum) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36. Kemuliaan bulan ini semakin jelas dengan adanya ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima. Jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul di Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah SWT, menjadikan Dzulhijjah sebagai simbol persatuan dan ketakwaan. Salah satu keutamaan terbesar bulan ini terletak pada sepuluh hari pertamanya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti puasa, dzikir, sedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Tanggal 9 Dzulhijjah menjadi puncak pelaksanaan haji, yaitu wukuf di Arafah. Bagi yang tidak berhaji, puasa Arafah adalah amalan utama dengan keutamaan besar, yakni menghapus dosa setahun lalu dan setahun mendatang. Sementara itu, tanggal 10 Dzulhijjah ditandai dengan hari raya Iduladha dan ibadah kurban sebagai wujud keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Tidak hanya ibadah haji dan kurban, bulan ini juga menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak sedekah, dzikir, takbir, hingga mempererat silaturahmi. Setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai pahala yang tinggi, sehingga umat Islam sangat dianjurkan memanfaatkan setiap harinya. Secara spiritual, Dzulhijjah mengajarkan makna mendalam tentang keikhlasan dan pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan bagaimana ketaatan sejati membawa keberkahan besar. Di bulan ini pula, umat Islam diajak memperkuat rasa syukur, kepedulian, serta kebersamaan dengan berbagi kepada yang membutuhkan. Dengan memahami keutamaan dan amalan utama di bulan Dzulhijjah, umat Islam dapat memanfaatkan waktu istimewa ini dengan maksimal. Setiap ibadah yang dilakukan menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba-Nya. Bulan Dzulhijjah adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan.***
ARTIKEL12/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Amalan Utama 10 Hari Pertama Dzulhijjah: Kesempatan Emas Meraih Pahala Berlipat
Amalan Utama 10 Hari Pertama Dzulhijjah: Kesempatan Emas Meraih Pahala Berlipat
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa bagi umat Muslim. Dalam berbagai riwayat, periode ini disebut sebagai hari-hari terbaik dalam setahun untuk memperbanyak amal kebaikan. Tidak heran, banyak ulama menekankan pentingnya memanfaatkan momen ini untuk beribadah sebanyak mungkin, karena setiap amalan memiliki nilai pahala yang berlipat ganda. Berikut rangkaian amalan utama di 10 hari pertama Dzulhijjah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan. Salah satu ibadah yang paling dianjurkan pada awal Dzulhijjah adalah puasa sunnah mulai tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Puasa pada hari-hari ini termasuk ibadah yang sangat dicintai Allah. Selain sebagai bentuk ketaatan, puasa ini juga melatih diri untuk tetap taat dan bersabar dalam menjalani aktivitas harian. Dari semua hari tersebut, ada satu hari yang memiliki kedudukan paling istimewa, yakni Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Rasulullah SAW menerangkan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Keutamaan besar inilah yang membuat umat Muslim di seluruh dunia berlomba-lomba menjalankan amalan tersebut. Amalan lain yang sangat dianjurkan selama 10 hari pertama ini adalah memperbanyak dzikir. Ucapan takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih sangat dianjurkan untuk dilafalkan baik secara individu maupun berjamaah. Takbir khususnya diperbanyak dari tanggal 1 hingga 13 Dzulhijjah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah. Tradisi mengumandangkan takbir juga menjadi penyemangat bagi umat Muslim untuk menambah keimanan dan ketakwaan. Tak kalah penting, bagi yang memiliki kemampuan dianjurkan untuk menunaikan ibadah qurban pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Menyembelih hewan qurban merupakan bentuk syukur dan pendekatan diri kepada Allah. Ibadah ini juga menjadi sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, qurban menjadi salah satu amalan paling dicintai Allah pada hari raya Idul Adha. Selain itu, umat Muslim juga dianjurkan untuk meningkatkan amal shaleh lainnya seperti memperbanyak shalat sunnah, bersedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak perbuatan baik dalam keseharian. Semua amal kebaikan pada 10 hari ini memiliki nilai pahala yang besar. Tidak kalah pentingnya adalah bertaubat dan memperbanyak istighfar, agar hati dibersihkan dari dosa dan kembali kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Bagi umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah, 10 hari pertama Dzulhijjah tentu menjadi momen yang sangat bermakna. Seluruh rangkaian ibadah tersebut merupakan bentuk penyempurnaan dalam menggapai ridha Allah SWT. Dengan penuh keutamaan di dalamnya, sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala berlipat. Semoga kita dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.***
ARTIKEL11/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Sedekah Subuh Online: Cara Mudah Raih Keberkahan di Era Digital
Sedekah Subuh Online: Cara Mudah Raih Keberkahan di Era Digital
Sedekah merupakan amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Umat Muslim diajarkan untuk memberi dengan tulus, baik melalui harta, waktu, maupun tenaga. Salah satu waktu terbaik untuk bersedekah adalah waktu subuh, saat pintu keberkahan dibuka lebih luas. Kini, seiring berkembangnya teknologi, sedekah subuh online menjadi pilihan yang praktis bagi siapa saja yang ingin meraih pahala tanpa harus keluar rumah. Artikel ini membahas pengertian sedekah subuh online, keutamaan, manfaat, hingga cara mudah melakukannya. Sedekah subuh online adalah aktivitas memberi sedekah pada waktu subuh melalui platform digital seperti transfer bank, aplikasi donasi, atau situs sedekah online. Dengan metode ini, setiap orang dapat tetap bersedekah tanpa dibatasi jarak maupun lokasi. Hal ini sangat membantu bagi mereka yang memiliki kesibukan atau tinggal jauh dari tempat ibadah. Waktu subuh sendiri memiliki keutamaan besar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa setiap pagi terdapat sedekah pada setiap sendi tubuh manusia (HR. Muslim). Karena itu, sedekah subuh secara online tetap memberikan pahala serupa dengan sedekah langsung. Sedekah di waktu subuh termasuk amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Pahalanya yang berlipat menjadi motivasi bagi umat Muslim untuk memulai pagi dengan kebaikan. Melalui sedekah subuh online, seseorang bisa menjaga rutinitas bersedekah meski tengah sibuk. Dengan hanya beberapa klik, amalan subuh dapat dilakukan secara konsisten setiap hari. Sedekah juga memperkuat hubungan sosial, karena setiap bantuan yang diberikan akan sangat bermanfaat bagi penerimanya. Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah tidak mengurangi harta, justru menambah rezeki (HR. Muslim). Sedekah subuh online membuka pintu keberkahan dalam hidup, membersihkan hati dari sifat tamak, serta menjadi penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api (HR. Tirmidzi). Selain itu, memberi sedekah dapat menumbuhkan perasaan tenang, bahagia, dan mengurangi stres. Manfaat lainnya adalah mempererat tali persaudaraan meski pemberi dan penerima tidak saling bertemu. Untuk melaksanakan sedekah subuh online, langkah-langkahnya sangat mudah: - Pilih platform sedekah online yang terpercaya. - Tentukan jumlah sedekah sesuai kemampuan. - Pilih tujuan sedekah, seperti untuk yatim, pembangunan masjid, atau bantuan bencana. - Lakukan pembayaran melalui transfer bank atau metode online lainnya. - Akhiri dengan doa agar sedekah diterima dan membawa keberkahan. Anda dapat menyalurkan sedekah subuh melalui BAZNAS Kota Semarang. https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah Cukup memilih jenis dana, memasukkan nominal, dan donasi langsung tersalurkan. Kini, siapa pun dapat berbagi dengan mudah dan meraih keberkahan setiap subuh. Semoga amalan kita diterima Allah SWT.***
ARTIKEL11/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Panduan Lengkap Syarat Kurban Sapi Menurut Syariat Islam: Usia, Kesehatan, dan Tata Cara Penyembelihan
Panduan Lengkap Syarat Kurban Sapi Menurut Syariat Islam: Usia, Kesehatan, dan Tata Cara Penyembelihan
Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, umat Muslim di seluruh dunia mulai mempersiapkan hewan kurban terbaik, termasuk sapi. Agar ibadah semakin sempurna, penting memahami syarat kurban sapi menurut syariat Islam. Pengetahuan ini memastikan bahwa pelaksanaan kurban bukan sekadar tradisi, tetapi benar-benar sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW dan ketentuan fiqih. Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah bahwa sapi yang akan dijadikan kurban wajib berasal dari jenis hewan ternak yang halal dan umum digunakan untuk kurban. Sapi lokal maupun jenis lain yang sejenis termasuk kategori hewan ternak yang sah, bukan hewan liar atau hewan yang tidak memenuhi standar syariat. Selanjutnya, usia sapi menjadi salah satu faktor paling penting dalam syarat kurban sapi. Para ulama sepakat bahwa sapi harus berusia minimal dua tahun penuh dan memasuki tahun ketiga. Jika belum mencapai usia tersebut, meskipun tubuhnya besar dan terlihat sehat, hewan tersebut tidak sah dijadikan kurban. Ketentuan ini merujuk pada hadis dan pendapat mayoritas ulama dari berbagai mazhab. Kondisi fisik sapi juga menentukan sah tidaknya kurban. Sapi harus dalam keadaan sehat, tidak cacat, tidak pincang, tidak buta, dan tidak kurus hingga kehilangan sumsum tulang. Empat jenis cacat yang disebutkan dalam hadis secara tegas membuat hewan tidak sah untuk dikurbankan. Ini menjadi alasan mengapa pemeriksaan fisik secara teliti sangat dianjurkan sebelum membeli hewan kurban. Keistimewaan kurban sapi adalah dapat diniatkan untuk tujuh orang dalam satu ekor sapi. Namun, syaratnya semua orang yang bergabung harus memiliki niat yang sama, yaitu berkurban. Tidak boleh dicampur dengan niat lain seperti aqiqah atau nazar. Selain jenis dan kondisi hewan, aspek kepemilikan juga termasuk syarat kurban sapi. Hewan harus merupakan milik pekurban sendiri atau dibeli dengan cara yang halal. Kurban tidak sah jika hewan tersebut hasil curian, rampasan, atau dibeli dari harta yang tidak jelas kehalalannya. Dalam sisi teknis, penyembelihan hanya sah dilakukan setelah salat Idul Adha, yakni antara tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Orang yang menyembelih harus Muslim, baligh, dan memahami tata cara penyembelihan yang benar. Ucapan “Bismillahi Allahu Akbar” wajib dibacakan saat proses pemotongan berlangsung, sesuai tuntunan sunnah. Setelah penyembelihan, daging kurban idealnya dibagi menjadi tiga bagian: untuk pekurban, keluarga, dan fakir miskin. Pembagian ini mencerminkan nilai sosial dan kepedulian yang menjadi inti dari ibadah kurban. Saat ini BAZNAS Kota Semarang memberikan kemudahan kepada masyarakan untuk melakukan qurban, hanya dengan klik link berikut ini: https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih jenis dana qurban dan ikuti petunjuk yang ada. Dengan memahami seluruh syarat kurban sapi ini, diharapkan umat Muslim dapat melaksanakan ibadah dengan lebih khusyuk dan sesuai tuntunan syariat.***
ARTIKEL08/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Jadwal Puncak Haji Armuzna 2026 Lengkap: Wukuf Arafah, Lempar Jumrah hingga Pemulangan Jemaah
Jadwal Puncak Haji Armuzna 2026 Lengkap: Wukuf Arafah, Lempar Jumrah hingga Pemulangan Jemaah
Musim ibadah haji 2026 kini mulai menjadi perhatian umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu fase paling penting dalam rangkaian ibadah haji adalah puncak haji Armuzna, yakni prosesi ibadah yang berlangsung di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tahapan ini menjadi inti pelaksanaan haji sekaligus penentu kesempurnaan ibadah para jemaah. Puncak haji Armuzna dilaksanakan mulai 8 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah 1447 Hijriah atau diperkirakan berlangsung pada 25 Mei hingga 30 Mei 2026. Pada fase ini, jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul di lokasi yang sama untuk menjalankan rangkaian ibadah wajib dan sunnah haji. Armuzna sendiri merupakan singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ketiga tempat tersebut menjadi lokasi utama pelaksanaan ibadah haji. Ketika di Arafah, jemaah menjalani wukuf yang menjadi rukun haji paling utama. Setelah itu, jemaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit atau bermalam sambil mengumpulkan batu kerikil untuk lempar jumrah. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah dan mabit selama hari tasyrik. Rangkaian Armuzna dikenal sebagai fase yang cukup berat karena jemaah harus menghadapi cuaca panas ekstrem dan kepadatan jutaan orang. Oleh sebab itu, kesiapan fisik dan mental sangat diperlukan agar ibadah berjalan lancar. Berikut tahapan puncak haji Armuzna 2026: 25 Mei 2026 (8 Dzulhijjah): Jemaah bergerak dari Makkah menuju Mina. 26 Mei 2026 (9 Dzulhijjah): Pelaksanaan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah. 27 Mei 2026 (10 Dzulhijjah): Hari Raya Idul Adha, lempar jumrah aqabah, penyembelihan kurban, tahalul, dan tawaf ifadah. 28 Mei 2026 (11 Dzulhijjah): Hari Tasyrik pertama dan lempar tiga jumrah. 29 Mei 2026 (12 Dzulhijjah): Hari Tasyrik kedua dan pilihan nafar awal. 30 Mei 2026 (13 Dzulhijjah): Hari Tasyrik ketiga atau nafar tsani. Selain jadwal puncak Armuzna, pemerintah juga telah menyusun jadwal lengkap perjalanan haji 2026. Jemaah mulai masuk asrama haji pada 21 April 2026, sementara keberangkatan gelombang pertama dimulai 22 April 2026 menuju Madinah. Adapun pemulangan jemaah haji gelombang pertama dijadwalkan mulai 1 Juni 2026 melalui Bandara Jeddah. Sementara seluruh rangkaian pemulangan jemaah Indonesia diperkirakan selesai pada 1 Juli 2026. Dengan mengetahui jadwal puncak haji Armuzna 2026 secara lengkap, diharapkan para calon jemaah dapat mempersiapkan diri lebih matang, baik secara fisik, mental, maupun spiritual agar ibadah haji berjalan lancar dan khusyuk.***
ARTIKEL07/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Panduan Resmi Bacaan Doa Menyembelih Hewan Kurban Milik Orang Lain Menjelang Idul Adha 2026
Panduan Resmi Bacaan Doa Menyembelih Hewan Kurban Milik Orang Lain Menjelang Idul Adha 2026
Menjelang Idul Adha 2026, masyarakat muslim di berbagai daerah mulai mempersiapkan ibadah kurban, termasuk memahami tata cara dan bacaan doa ketika menyembelih hewan kurban. Salah satu hal penting yang perlu diketahui adalah urutan bacaan doa ketika menyembelih hewan kurban milik orang lain, agar ibadah kurban berjalan sesuai syariat dan penuh keberkahan. Panduan ini menjadi rujukan bagi panitia kurban, relawan, maupun masyarakat umum yang mendapat amanah menyembelih hewan kurban atas nama orang lain. Dengan mengikuti urutan yang benar, ibadah kurban dapat dilaksanakan dengan tertib, sah, serta sesuai tuntunan Rasulullah SAW. 1. Membaca Basmalah Langkah pertama saat hendak menyembelih adalah membaca Basmalah: "Bismillah" Bacaan ini menjadi niat dasar bahwa proses penyembelihan dilakukan atas nama Allah SWT. Tanpa membaca basmalah, penyembelihan dianggap tidak sah menurut sebagian besar ulama. 2. Membaca Shalawat Nabi Setelah basmalah, dianjurkan membaca shalawat untuk memuliakan Rasulullah SAW: Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad. Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad." Membaca shalawat menjadi bentuk penghormatan sekaligus mengikuti sunnah Rasul dalam ibadah. 3. Membaca Takbir Tiga Kali dan Tahmid Satu Kali Berikutnya, penyembelih membaca takbir sebanyak tiga kali, kemudian dilanjutkan dengan tahmid: Allahu akbar, All?hu akbar, All?hu akbar, walill?hil-?amd. Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah." Takbir dan tahmid ini mengingatkan bahwa seluruh ibadah kurban adalah bentuk pengagungan kepada Allah SWT. 4. Membaca Doa Menyembelih Hewan Kurban Milik Orang Lain Inilah doa khusus saat menyembelih hewan kurban atas nama orang lain: "Allahumma hadzihi minka wa laka, fataqabbal min... ya karim" Artinya: “Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu. Terimalah kurban dari (sebut nama pemilik hewan kurban), wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.” Penyebutan nama pemilik hewan kurban sangat penting agar ibadah kurban sah dan jelas siapa yang menjadi pihak yang diwakili. Panduan ini ditujukan agar masyarakat dapat menjalankan rangkaian ibadah kurban dengan benar. Menyembelih hewan kurban bukan sekadar prosesi fisik, namun juga ibadah yang memiliki tata cara dan bacaan yang wajib diperhatikan. Dengan memahami urutan bacaan doa yang tepat, panitia dan masyarakat dapat menunaikan ibadah Idul Adha dengan khusyuk, tertib, dan sesuai sunnah. Semoga panduan ini dapat membantu kelancaran pelaksanaan kurban di tahun 2026 dan memberikan berkah bagi seluruh umat muslim.***
ARTIKEL06/05/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Panduan Lengkap  Doa dan Niat Sedekah Subuh yang Membawa Keberkahan
Panduan Lengkap Doa dan Niat Sedekah Subuh yang Membawa Keberkahan
Sedekah Subuh merupakan salah satu amalan yang semakin banyak dikerjakan kaum Muslimin karena diyakini memiliki keutamaan luar biasa. Sedekah yang dilakukan pada waktu Subuh dipercaya membuka pintu rezeki, memudahkan urusan, serta mengundang keberkahan yang melimpah dalam kehidupan. Tidak hanya soal memberi, Sedekah Subuh juga dilakukan dengan niat yang benar serta doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan. Berikut adalah penjelasan lengkap tentang niat dan doa Sedekah Subuh yang bisa Anda amalkan setiap hari. Niat Sedekah Subuh Setiap amalan dalam Islam bergantung pada niatnya. Begitu pula dengan Sedekah Subuh. Berikut bacaan niat yang dapat diamalkan: “Nawaitut taqarruba ilallahi ta'ala wa-ittiqa'a ghadhabir rabbi jalla jalaluhu wa-ittiqa'a nari jahannama wat tarahhuma 'alal ikhwani wa shilatur rahimi wa mu'awanatadh dhu'afa'i wa mutaba'atan nabiyyi shallallahu 'alaihi wa sallam wa-idkhalis sururi 'alal ikhwan wa daf'il bala'i 'an waddunya wal akhirah.” Niat tersebut mengandung makna yang sangat luas. Di dalamnya terdapat permohonan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, menghindari murka-Nya, menjauh dari api neraka, hingga memohon agar amalan tersebut membawa kemudahan dalam hubungan sesama manusia. Niat ini juga merupakan bentuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW serta harapan agar sedekah mampu menolak bala di dunia maupun akhirat. Selain niat, terdapat pula doa yang dianjurkan untuk dipanjatkan setelah melakukan Sedekah Subuh. Doa ini berisi permohonan agar sedekah yang diberikan menjadi sumber keberkahan dalam hidup, khususnya dalam hal rezeki. “Allahumma-j'al shadaqati fi hadzas subhi barakatan fi rizqi, wa wassi' 'alayya fi mali, warzuqni min haitsu la ahtasib.” Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sedekahku di pagi ini sebagai keberkahan dalam rezekiku, luaskanlah hartaku, dan karuniakan rezeki dari arah yang tidak aku sangka-sangka.” Doa ini sangat sesuai diamalkan oleh siapa saja yang ingin mendapatkan rezeki yang halal, berkah, dan mencukupi kebutuhan hidup. Dengan penuh keyakinan, doa tersebut dapat menjadi wasilah datangnya pertolongan Allah SWT dari arah yang tidak disangka-sangka. Sedekah Subuh dikenal sebagai amalan ringan namun berdampak besar. Banyak ulama menjelaskan bahwa waktu Subuh memiliki keistimewaan karena merupakan awal hari ketika malaikat mendoakan kebaikan bagi setiap hamba yang bersedekah. Mengamalkannya secara rutin dapat membuka pintu rezeki, menenangkan hati, serta menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Dengan niat yang tulus dan doa yang benar, Sedekah Subuh dapat menjadi amalan harian yang membawa perubahan positif dalam hidup. Semoga amalan yang Anda lakukan senantiasa diterima Allah SWT dan menjadi jalan keberkahan di dunia serta keselamatan di akhirat.***
ARTIKEL30/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Ketahui! Ini Syarat Domba untuk Kurban: Cara Memilih Hewan Terbaik Sesuai Syariat Islam
Ketahui! Ini Syarat Domba untuk Kurban: Cara Memilih Hewan Terbaik Sesuai Syariat Islam
Memilih domba kurban yang tepat sesuai tuntunan syariat Islam merupakan langkah penting yang perlu diperhatikan setiap Muslim. Ibadah kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi wujud ketaatan dan ketulusan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, Islam telah menetapkan sejumlah syarat agar domba yang dipilih benar-benar sah dan layak untuk dikurbankan. Ketentuan ini bersumber dari berbagai hadits Rasulullah SAW, termasuk riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, yang menegaskan bahwa hewan kurban harus sehat dan tidak cacat. Syarat pertama yang harus diperhatikan adalah usia domba. Para ulama sepakat bahwa domba kurban minimal berusia satu tahun atau telah berganti gigi. Usia tersebut menandakan bahwa hewan sudah cukup matang, kuat, dan memiliki kualitas daging yang baik. Memilih domba yang cukup umur juga merupakan bentuk kehati-hatian agar ibadah berjalan sesuai syariat. Syarat berikutnya adalah kondisi fisik hewan. Domba yang akan dijadikan kurban harus sehat, tidak memiliki penyakit, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Hewan tidak boleh buta, pincang, sangat kurus, ataupun menderita penyakit parah yang terlihat jelas. Ketentuan kesehatan ini menjadi penegasan bahwa kurban harus dilakukan dengan menghadirkan hewan terbaik, sebagai simbol kesungguhan seorang hamba dalam beribadah. Selain itu, syarat yang tidak kalah penting adalah bahwa domba kurban harus dimiliki secara sah. Hewan curian atau diperoleh dengan cara yang tidak halal tidak sah digunakan untuk kurban. Islam menekankan pentingnya kejujuran dan menjauhi kezaliman dalam setiap ibadah, termasuk dalam hal kepemilikan hewan kurban. Syarat keempat berkaitan dengan cacat pada hewan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beberapa cacat tertentu dapat menggugurkan keabsahan kurban, seperti telinga yang terpotong besar, ekor putus, buta sebelah, atau hewan yang tidak mampu berjalan dengan baik. Cacat-cacat tersebut dianggap dapat mengurangi kualitas hewan secara signifikan. Terakhir, proses penyembelihan harus dilakukan pada waktu yang telah ditetapkan, yaitu setelah salat Idul Adha hingga berakhirnya hari tasyrik pada 13 Dzulhijjah. Jika hewan disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka penyembelihannya tidak dianggap sebagai kurban. Saat ini BAZNAS Kota Semarang memberikan kemudahan kepada masyarakan untuk melakukan qurban, hanya dengan klik link berikut ini: https://kotasemarang.baznas.go.id/sedekah kemudian pilih jenis dana qurban dan ikuti petunjuk yang ada. Dengan memahami syarat-syarat ini, umat Islam dapat melaksanakan ibadah kurban dengan lebih benar, sempurna, dan penuh keberkahan. Memilih domba terbaik bukan hanya soal kualitas fisik, tetapi juga wujud ketakwaan dalam mengikuti tuntunan syariat. Semoga ibadah kurban kita diterima oleh Allah SWT.***
ARTIKEL30/04/2026 | Admin Bidang Penghimpunan
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Semarang.

Lihat Daftar Rekening →