WhatsApp Icon

Asal Usul Muharram Disebut Bulan Anak Yatim, Ternyata Ini Alasannya

12/06/2026  |  Penulis: Admin Bidang Penghimpunan

Bagikan:URL telah tercopy
Asal Usul Muharram Disebut Bulan Anak Yatim, Ternyata Ini Alasannya

Ilustrasi muharram sebagai lebaran anak yatim (Dok.GPT)

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan paling mulia dalam kalender Islam. Selain menjadi penanda Tahun Baru Hijriah, Muharram juga dikenal luas sebagai bulan kepedulian terhadap anak yatim. Di Indonesia, tradisi menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram bahkan populer dengan sebutan "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama".

Lalu, kenapa Muharram identik dengan anak yatim?

Dalam ajaran Islam, anak yatim memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Al-Qur'an dan hadis banyak mengajarkan umat Islam untuk memuliakan, menyayangi, serta membantu kehidupan mereka. Rasulullah SAW sendiri merupakan seorang yatim sejak kecil, sehingga beliau sangat menaruh perhatian kepada anak-anak yang kehilangan orang tua.

Salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa orang yang merawat anak yatim akan berada sangat dekat dengan Rasulullah SAW di surga. Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momentum Muharram untuk memperbanyak amal kebaikan kepada anak yatim.

Meski tidak terdapat dalil shahih yang secara khusus menetapkan 10 Muharram sebagai Hari Raya Anak Yatim, tradisi tersebut berkembang sebagai bentuk implementasi nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan Rasulullah. Sejumlah ulama juga menganjurkan memperbanyak sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada anak yatim serta fakir miskin pada hari Asyura.

Di berbagai daerah di Indonesia, peringatan 10 Muharram biasanya diisi dengan santunan anak yatim, doa bersama, pembacaan sholawat, hingga kegiatan hiburan yang menghadirkan suasana penuh kebahagiaan bagi anak-anak. Tradisi ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga dukungan moral agar mereka merasa dicintai dan diperhatikan oleh masyarakat.

Selain memiliki nilai sosial, tradisi menyantuni anak yatim juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Islam mengajarkan bahwa menyayangi anak yatim dapat melembutkan hati, menumbuhkan empati, serta mendekatkan seseorang kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Muharram menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Tradisi Lebaran Anak Yatim juga berperan dalam menanamkan nilai gotong royong dan solidaritas sosial kepada generasi muda. Melalui kegiatan santunan, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya berbagi rezeki dan memperhatikan kelompok yang membutuhkan.

Pada akhirnya, Muharram identik dengan anak yatim karena bulan ini menjadi simbol kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan dalam Islam.

Melestarikan tradisi menyantuni anak yatim bukan hanya menjaga budaya keagamaan yang baik, tetapi juga menjadi wujud nyata meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.***

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Semarang.

Lihat Daftar Rekening →